Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kecelakaan


__ADS_3

Tiba-tiba handphone Vero berdering. Dia melihat sekilas dan itu adalah Qian. Ia pun mengabaikannya. Dan tiba-tiba tepat di depannya seseorang menyeberang secara mendadak, Vero pun secara spontan segera membanting stir ke pinggir untuk menghindari tabrakan yang mungkin bisa saja terjadi, hingga ia pun menabrak pembatas jalan. Sesaat ia merasakan jantungnya berhenti berdetak.


Saat ia tersadar dia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat dan nafasnya juga terengah-engah. Kepalanya pun sedikit terluka karena sempat terkena hantaman stir mobil.


Vero melihat kearah Rumi dengan perasaan yang sangat cemas. Untung bayi itu masih aman di posisinya. Karena memang dia sudah sangat di amankan oleh kursi mobil khusus bayi itu.


Vero kembali melirik handphone nya dan ternyata itu panggilan dari Alzam. Ketika melihat ke sekitarnya yang sudah banyak orang berkumpul Vero menjadi panik dan ketakutan. Dia tidak berani keluar dari mobilnya walau dia dalam keadaan terluka. Dia menahan sakitnya dan kembali melirik handphone nya. Dia yang dalam keadaan ketakutan tak punya pilihan lain. Dia hanya bisa meminta bantuan Alzam saat ini.


"Zam ... Hk, hk, hk, Zam ...," tangis Vero pecah. "Aku kecelakaan di depan rumah sakit kamu. Tolong aku, Zam. Rumi lagi sama aku, di sini rame sama warga," ucap Vero masih panik dan ketakutan.


Alzam tanpa banyak kata segera keluar dan dengan berlari secepat mungkin menuju ke lokasi Vero saat ini. Alangkah kagetnya dia saat melihat keadaan sekitar.


Alzam dengan sekuat tenaga segera memecah keramaian dan mengetuk kaca mobil Vero. Di dalam terlihat Vero yang tampak ketakutan dan tak mau keluar mobil. Sedangkan di sampingnya ada Rumi yang tengah ia peluk erat.


"Vero, bukak ini aku!" seru Alzam yang terus menggedor kaca pintu mobil. Saat melihat Alzam sudah datang Vero pun segera keluar dan memeluk saudara iparnya itu tanpa ia pedulikan teriakan orang-orang yang meneriakinya.


"ZAM!" teriak Vero yang langsung berlari menuju pelukan Alzam dan di sambut Alzam dengan pelukan erat membawa Vero pergi dari sana. Tapi dia melihat Rumi yang tengah menangis di bangku samping Vero. Alzam segera meminta perawat yang ikut bersamanya untuk mengambil Rumi, sementara dia membantu Vero keluar dari sana.


"Sudah. Nggak papa, aku ada di sini," ucap Alzam menenangkan Vero.


"Ini gimana caranya. Saudara saya luka parah itu?," seru seorang pria yang tampaknya berandalan.


"Bawa sekalian ke Alatas. Nanti kita obati di sana," ucap Alzam yang masih memapah Vero dan segara menggendong Vero menuju rumah sakit karena kepala Vero yang terluka akibat benturan keras, dan kakinya pun tampak keseleo.


"Itu orang gila, mbak. Dia emang gitu. Terus yang tadi itu saudaranya. Suka meras orang," terang ibuk-ibuk pedagang tenda pinggir jalan sana. Vero masih tampak ketakutan dan panik, sedangkan yang tengah menggendong Vero segera membawa Vero ke Alatas.

__ADS_1


***


Di sisi lain Qian tengah kedatangan Wike. Wike datang setelah Qian tidak datang di meeting mereka tadi. Wike yang kecewa datang menemui Qian ke kantornya langsung.


"Kok nggak dateng tadi?" tanya Wike langsung masuk ke ruangan Qian seolah dialah nyonya di ruangan itu. Sedangkan Qian tampak mengacuhkan kedatangan Wike dengan terus fokus pada pekerjaannya.


"Kamu benar-benar nggak akan tangani proyek kamu ini, Qian? Apa kamu yakin mau nyepeliin ini? Ini peluang besar buat kamu bisa nunjukkin kesemua orang tentang perusahaan kalian supaya bisa lebih diterima. Tapi kamu malah kayak nyepeliin semua nya dengan nyerahinnya sama Reo. Padahal pak Wandi jelas minta kamu yang tanganin ini semua langsung, bukan melalui perantara kayak gini. Ini proyek dari perusahaan pusatnya langsung, Qian!" omel Wike. Qian mulai menatap Wike.


"Aku yang kerjain semua. Tapi tadi kebetulan aku lagi ada kerjaan lain. Emangnya kenapa harus aku yang terus datang? Dari Reo pun aku paham apa yang di mau sama mereka. Kenapa harus aku yang datang sendiri berdua sama kamu terus? Ini yang buat Vero salah paham sama kita. Aku cuman mau imbangin semua supaya nggak ada yang salah paham," ungkap Qian.


"Aku liat tadi kamu nemuin Vero. Kamu ngomong apa? Awas aja kalo kamu ngomong macam-macam sama Vero?" ancam Qian.


Wike mengepalkan tangannya kesal. Dia benar-benar tidak bisa menerima tindakan Qian.


"Aku siap. Sangat siap. Tapi aku nggak akan siap kalau harus menyakiti orang yang aku cintai," ucap Qian. "Jadi kamu juga harus paham itu." Sesaat Wike terdiam. Qian tidak mudah untuk ia permainkan.


"Aku paham. Mungkin kamu yang nggak paham. Ini pekerjaan bukan hanya tentang kamu. Ada banyak orang yang terlibat," ucap Wike lalu pergi dari sana bersamaan dengan kedatangan Reo yang berpapasan dengannya langsung.


"Kenapa dia?" tanya Reo saat melihat raut kesal Wike ketika mereka berpapasan. Dia datang dengan membawa hasil desainnya.


"Nggak penting. Gimana? liat!" ucap Qian yang langsung fokus dengan hasil desain Reo. Dan mereka pun terus berdiskusi.


Sesaat Qian mendapatkan notifikasi telepon dari Alzam. Tumben sekali kakaknya ini menelponnya. Melihat raut wajah tak biasa dari Qian itu membuat Reo penasaran.


"Tumben dia nelfon," gumam Qian sebelum menjawab telfonnya.

__ADS_1


"Halo!"


"Qian, Vero kecelakaan sama Rumi. Sekarang mereka ada di rumah sakit," terang Alzam yang seketika membuat Qian bangkit dari duduknya.


"Vero kecelakaan!" terang Qian singkat yang seketika membuat Reo ikut kaget. "Antar gue, Yo," pinta Qian dan mereka pun langsung menuju ke Alatas Medical Center.


Qian tampak sangat khawatir. Dia berjalan dengan cepat seperti berlari. Beberapa kali dia menabrak orang-orang yang berpapasan dengannya. Wike yang kebetulan juga mau turun segera menahan pintu lift saat melihat Qian yang juga akan turu.


Dia kaget melihat Qian dan Reo yang tampak panik.


"Ada apa?" tanyanya kepada Reo.


"Vero sama Rumi kecelakaan. Mereka lagi di rumah sakit sekarang," jawab Reo.


Sesaat Wike ingat dengan pertengkarannya dan Vero tadi pagi. Apa ini ada hubungannya dengan itu. Dia menatap Qian yang tampak sangat khawatir.


"Aku ikut!" celetuk Wike melirik keduanya yang tampak menatap Wike dengan tatapan aneh seolah lupa dengan kepanikan mereka.


"Kenapa?" tanya Wike yang merasa di tatap aneh oleh keduanya.


"Nggak usah ikut. Ntar malah ribut. Mama nggak akan suka," ucap Qian dengan expresi panik.


Tidak lama pintu lift pun terbuka dan mereka keluar meninggalkan Wike yang masih di dalam lift.


Qian dan Reo segera berlari menuju parkiran mobil dan buru-buru pergi dari sana menggunakan mobil Reo. Qian tampak yang gelisah, khawatir akan keadaan anak dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2