
Malam itu Qian kembali bekerja. Qian memulai harinya dengan menjadi pelayan di restoran, menyembunyikan ijazah luar negerinya demi istri dan calon anaknya.
"Qian meja 22 baru datang," seru seseorang kepada Qian yang baru saja datang dan berharap bisa istirahat sebentar. Ternyata, belum sempat dia mengambil nafas panggilan pekerjaan kembali terdengar. Qian pun segera beranjak dari sana dan menuju meja yang di maksud untuk melayani pelanggannya.
"Anak baru itu lumayan juga kerjaannya," seru sang manager.
"Nggak jadiin karyawan tetap aja, Bos?"
"Tidak tau. Terserah dia saja," sahut sang manager lagi seraya menatap cara kerja Qian.
Entah ikhlas dari mana yang hatinya miliki saat ini. Tidak ada gengsi yang tersemat di jiwanya. Dia melayani dengan baik. Wajahnya yang rupawan ternyata cukup berpengaruh, ia seringkali mendapatkan tips berlebih dari para tamu elitenya. Karena Qian yang memang memiliki jiwa pemimpin yang kuat, dia membagi tips yang ia dapatkan bersama teman-temannya yang lain.
Sikap bijak Qian di apresiasi baik oleh yang lain. Dia mulai di sukai oleh banyak rekan kerjanya.
"Kamu itu punya potensi lebih lo, Qian. Kenapa mau kerja di sini, sih?" tanya yulita atau Lita rekan kerja Qian yang merupakan seorang wanita single yang sebenarnya diam-diam mulai menaruh perhatian terhadap Qian.
"Anak dan istriku butuh makan, bukan gengsi," ucap Qian santai seraya mengernyitkan wajahnya lucu. Itu sesaat membuat Lita malah terpesona. Seandainya ini bukan suami orang mungkin sudah dia kejar habis-habisan. Tapi apa boleh buat, dia kelihatannya terlambat. Qian sudah menjadi milik wanita lain.
Sesaat waktu istirahat mereka pun habis lagi. Mereka yang memang sudah selesai mulai melanjutkan lagi pekerjaannya.
__ADS_1
Qian di minta melayani tamu VIP lagi kali ini. Dengan alasan mereka butuh tampilan bagus untuk tamu istimewa yang menyewa untuk satu acara sosialita mereka malam ini.
Qian dengan mantap mulai melangkah keluar. Perlahan langkahnya melemah saat tau siapa tamunya malam ini. Kelompok wanita sosialita yang sangat akrab dengannya. Dia lah sahabat karib ibunya. Termasuk tante jauhnya, ibunda Jesika. Sesaat Qian dan ibunda Jesika bertabrak pandang.
Qian terus melangkah mendekat dengan tatapan ibunda Jesika yang tak bisa lepas dari sosok tampan yang sangat ia kenal tersebut.
Hingga Qian mendekat dan menawarkan buku menu.
"Qian?!" lirih Merly ibunda Jesika.
Qian yang berusaha profesional pun hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan anggukan kepala sopan. Yang lain pun ikut menoleh dan ikut kaget.
Selesai menulis pesanan para tamunya Qian pun meninggalkan tempat tersebut.
Merly menatap Maya datar seraya membolak-balik lagi buku menu.
"Dia benar-benar pergi tanpa sepersen uang kayaknya ya, May. Dia pasti sangat butuh uang, sampe jadi pelayan pun ia kerjakan," ungkap Merly penuh tekanan untuk memancing emosi sahabatnya ini agar bisa peduli terhadap Qian.
"Itu pilihan dia kan, Kak," jawab Maya tenang.
__ADS_1
"Aku kayaknya nggak ke telan makan di sini," ucap Merly membanting buku menu. Yang lain mulai bereaksi dengan pertengkaran kecil dua saudara itu.
"Udah. Jangan di perbesar lagi. Kita kesini kan buat arisan kita. Jangan rusak momen gini, donk. Susah lo reserve tempat di sini," tegur Sonya salah satu anggota sosialita tersebut yang mulai khawatir acara malam ini akan berantakan.
"Ok. Yuk, sudah," ucap Merly menengahi.
Sesaat mereka pun kembali tenang. Tidak lama pesanan mereka datang. Qian datang bersama rekannya membawa pesanan. Dia berusaha bersikap biasa saja. Walau dia tampak menghindari meja ibunya. Dan rekannya seperti sudah paham dengan keadaan pun mengambil alih bagian yang membuat Qian bisa sedikit lega.
Selesai menghidangkan semua Qian pun meninggalkan meja tersebut dengan tetap menjaga sikap profesionalnya.
Maya tanpa Qian sadari malah mengekori langkah Qian yang menjauh dengan tatapan yang dalam penuh arti. Saat mulai menikmati steak wagyu nya, Maya meletakkan garpu dan pisaunya kembali, benar apa yang dikatakan Merly, sulit untuk tertelan.
Sesaat Maya pun bangkit meninggalkan meja makannya dan segera menuju toilet.
Merly yang paham dengan apa yang terjadi hanya tersenyum sinis melihat keadaan tersebut.
Saat keluar dari toilet, Maya kembali melihat Qian. Dia tampak tengah melayani pelanggan yang lain. Begitu keras lelaki itu bekerja, sesaat Maya meneteskan air matanya. Benar yang Merly katakan. Ini melukainya. Maya pun segera menghampiri Qian yang baru selesai melayani pelanggannya.
__ADS_1
"Qian!" seru Maya menghampiri Qian. Qian menoleh dan menatap kedatangan ibunya dengan tatapan datar penuh arti.