Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Harus Di Bayar Mahal


__ADS_3

Malam itu tiba-tiba Vero terbangun. Dia mulai merasa ada yang aneh. Tiba-tiba dia merasa sedikit tegang dan kaku serta mulas di perutnya. Ia pun mencoba mengalihkan posisi tidurnya menjadi ke kiri. Sakit itu pun perlahan hilang. Vero kembali mencoba untuk tidur.


Tapi karena Qian yang tidur di samping kanannya, Vero kembali mengalihkan tubuhnya ke kanan. Tapi, rasa sakit dan kram itu kembali terasa. Vero bangkit dan mencoba untuk menenangkan diri sendiri seraya mengelus perutnya. Dia melirik jam di dinding kamarnya. Masih pukul dua dini hari.


Ia melirik suaminya. Pemuda itu masih terlelap dalam tidurnya. Tampaknya dia juga baru tertidur. Akhir-akhir ini dia sering kali pulang terlambat karena pekerjaan. Walau dia sudah tidak lagi bekerja di restoran tapi dia sering mengerjakan desain freelance nya bersama Reo dan Bisma di luar.


Tidak berapa lama, rasa mulas itu kembali terasa. Vero pun mulai tidak tahan dan segera menuju kamar mandi. Tidak lama ia keluar dalam keadaan berkeringat dingin.


"Qian!" panggilnya lirih seraya mengguncang tubuh Qian. Qian perlahan terbangun dan dia kaget saat melihat Vero yang tampak pucat serta bercucuran keringat dingin.


"Kakak kenapa?" Qian tampak khawatir dengan keadaan Vero. Dia menyentuh wajah Vero untuk memeriksa keadaannya. Tidak panas, suhu tubuhnya normal. Tapi dia terlihat sangat pucat.


"Perut aku mulas. Kayaknya aku mau lahiran. Tolong panggilin mama," pinta Vero masih menahan sakitnya. Qian tanpa banyak bicara langsung menuju kamar mertuanya dan mengetuk pintu kamar tersebut, tidak lama dia sudah datang bersama Mama Jill.


"Kamu mulai mulas-mulas?" tanya Mama Jill khawatir. Vero mengangguk pelan dengan keringat dingin yang terus bercucuran di kening dan wajahnya. Seraya menekan pinggangnya yang terus bergejolak sedari tadi.


"Cepat Qian. Kamu siapkan mobilnya. Mama ambil perlengkapan yang lain," ucap Mama Jill yang terdengar panik dan segera bergegas begitu pula dengan Qian.


"Qian kita ke Alatas Medical, ya," lirih Vero di sela rasa sakitnya yang coba dia tahan.


"Nggak. Kita ke tempat lain saja. Jangan ke sana," sahut Qian menolak dan membantu membimbing Vero masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi, Qi ...," ucapan Vero terputus.


"Udah, kak. Jangan ke sana. Di tempat lain saja," potong Qian cepat bersamaan dengan kedatangan Mama Jill serta tas bawaan perlengkapan lahiran Vero.


Vero tampak terus menahan sakit karena kontraksi yang semakin terasa. Tidak lama Vero berseru.


"Mah, ketuban aku pecah," seru Vero mulai panik.

__ADS_1


"Nggak papa. Qian cepetan," seru Mama jill berusaha menenangkan Vero. Qian mencoba untuk tidak ikutan panik seraya terus mencari rumah sakit terdekat hingga matanya tertuju pada sebuah tulisan yang tertera klinik bersalin. Qian segera masuk ke sana.


"Qian, ini kemana? Bukannya ke Alatas?" tanya Mama Jill heran. Qian tidak menjawab. Dia segera memarkirkan mobilnya dan memanggil petugas staf klinik tersebut yang segera keluar membantu Vero dengan sebuah brankar pasien.


Vero dan Mama Jill yang sudah panik dan tidak bisa berfikir hanya bisa menurut. Qian sibuk dengan pendaftaran dan Mama Jill yang menemani Vero di ruang bersalin.


Sesaat Qian terdiam saat menyadari jika ini adalah klinik yang baru beroperasi.


"Klinik ini ... Sudah berapa lama beroperasi?" tanya Qian kepada resepsionis di sana. Perasaan Qian mulai tidak enak saat menyadari ini adalah klinik baru.


"Baru satu tahun ini, pak. Tapi pelayanan kami terjamin kok, Pak," jawabnya singkat dan masih fokus terhadap pekerjaannya.


Qian secara reflek teringat terhadap Vero, dia dengan terburu-buru menghampiri ruang bersalin. Dan terlihat Mama Jill datang menghampirinya.


"Qian, ada yang tidak beres. Bidan utamanya di sini sedang tidak ada dan bayi Vero sungsang dan ... Dan ... Mereka sudah lakukan pengguntingan, Vero sudah semakin lemah. Bagaimana ini?" Seketika Qian lemas mendengarnya.


Dia masuk ke ruang itu dan melihat Vero yang telah bersimbah darah. Sedangkan bayi mungil yang baru lahir itu tak Qian pedulikan. Dia langsung menghampiri Vero yang sudah lemas itu.


"Mama sudah telefon ibumu. Dia akan datang," lirih Mama Jill.


Qian hanya diam. Dengan beberapa orang suster yang lain coba mengatasi keadaan Vero.


"Pak, ini sudah prosedur nya begini," jelas mereka yang tak dapat menyembunyikan wajah paniknya.


"DIAM KALIAN!" pekik Qian penuh amarah.


Mereka semua langsung terdiam. Tidak bisa berkata-kata.


"Ta-tapi, Pak. Ba-bayinya sungsang ...," jelas mereka yang masih berusaha melakukan penyelamatan.

__ADS_1


"Sudah tau sungsang kenapa tidak ada rujukan. Kenapa masih di paksakan normal?" seru Qian yang sangat marah dengan dan panik.


Di saat genting ini tiba-tiba Maya datang bersama dengan timnya.


Qian cukup kaget begitu juga dengan yang ada di ruangan tersebut. Apalagi saat mengetahui mereka adalah pihak Alatas Medical Center. Mereka tahu betul itu adalah rumah sakit yang besar dan punya kekuatan di kota ini.


"Kalian bisa saya tuntut dengan tuduhan Malpraktek, TAU!" bentak Maya dengan berlinang air mata. "Keadaan bayi seperti ini tidak bisa dilahirkan secara normal," terang Maya lagi.


Dia berusaha melakukan pertolongan pertama kepada Vero yang tampaknya mengalami pendarahan cukup hebat. Dia sudah lemah dan terlihat tak berdaya. Dengan cepat mereka membawa Vero ke rumah sakit Alatas.


Maya menatap tajam ke arah Qian yang tak berani menatap ibunya balik. Dia tertunduk merasa bersalah.


"Ini yang kamu mau, kan? PUAS?!" gerutu Maya penuh amarah sebelum pergi dengan bayi Vero dan Qian yang baru lahir di gendongannya. Bayi itu masih dalam keadaan menangis di bungkusan selimut tebal.


Qian tertunduk dan sesaat tangisnya pecah. Ia memukul keras dinding rumah sakit itu hingga tangannya terluka. Melihat anak dan istrinya di ambang maut membuat dia benar-benar ketakutan. Dia merasa menjadi orang yang egois dan jahat saat ini.


Alzam yang juga ikut hanya menatap Qian dari kejauhan sampai akhirnya dia pun masuk ke mobilnya mengiringi mobil ambulance yang membawa Vero dan yang lain.


***


Di rumah sakit Maya dan tim medis yang lain di buat kalang kabut karena pendarahan Vero masih tidak berhenti. Dan Vero sudah kehilangan banyak darah.


Sedangkan Alzam tampak sibuk dengan keponakan barunya. Dia sibuk membersihkan dan merawat bayi merah itu bersama dengan suster.


Qian hanya bisa menatap nanar dengan semua kekacauan ini. Dia benar-benar merasa menjadi orang yang tak berguna saat ini.


Sedangkan Mama Jill tampak tak henti-hentinya menangis sedari tadi. Karena Vero membutuhkan banyak kantung darah untuk menyelamatkannya.


Vero harus berjuang untuk hidupnya saat ini. Satu kesalahan fatal telah berakibat sangat fatal.

__ADS_1


Setelah selesai mengurusi bayi Vero Alzam pun berniat menengok keadaan Vero. Tapi sesaat langkahnya tercekat saat melihat Qian juga ada di sana. Adiknya itu tengah berdiri di depan ruangan tersebut dengan tatapan kosong. Terlihat jelas jika dia ketakutan, panik dan pasti dia butuh seseorang untuk menenangkannya.


Akan tetapi Alzam tidak berani mendekat, dia hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Alzam menatap Qian yang sedari tadi hanya bisa diam tak bersuara. Dia ingin mendekati adiknya itu. Sungguh sangat ingin, tapi dia tau, Qian masih sangat marah terhadapnya saat ini. Sedangkan Mama Jill terlihat tak kalah panik dan takutnya di depan ruang rawat tersebut. Dia tampak mondar-mandir menunggu dengan tak sabar kabar dari ruangan perawatan Vero.


__ADS_2