
Hari sudah mulai gelap. Qian lembur lagi malam ini. Walau masih tidak begitu malam, hanya sampai pukul 8 malam. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan bersama Rendi si fotografer baru mereka.
"Yaudah. Ini udah bagus. Tinggal kita edit sedikit. Kayaknya masih terlalu terang. Sekalian tulisannya juga masih kurang simetris. Biar Bisma yang edit besok sisanya," ucap Qian sebelum mereka mengakhiri lembur mereka malam itu.
Qian begitu serius dengan pekerjaannya. Dia detail dan sangat jenius dalam pekerjaannya. Begitu cepat dia paham dengan yang di maksud oleh klien, dan Rendi sendiri sebagai fotografer tim juga punya hasil kerja yang searah dengan Qian. Sehingga komunikasi mereka bisa berjalan dengan sangat baik.
Sebenarnya ini bagian dari pekerjaan Bisma, tapi seperti biasa Bisma keteteran lagi dengan pekerjaannya, sehingga lagi dan lagi Qian lah yang harus menyelesaikannya.
Diam-diam senyum Rendi tersematkan melihat semangat Qian dalam bekerja. Saat ini mereka masih melakukan finishing pengerjaan foto produk untuk vidio iklan sebuah produk.
"Kalo logonya mereka udah deal, kan? Jangan sampe mereka mau revisi lagi di mepet waktu kayak kemaren," ingat Qian yang segera membuyarkan lamunan Rendi.
"Oh, itu. Udah. Katanya mereka udah ok. Bisma udah selese-in. Cuman di foto ini mereka minta di revisi dikit katanya sebelum di buat baliho iklannya minggu depan.
"Heh, Bisma padahal kalo bukan karena kakaknya mana mau UKM sebesar ini kerjasama sama perusahaan baru kayak kita. Makanya gua takut banget kalo mereka nggak puas. Kalo mereka puas sama pekerjaan kita nanti lain kali mereka bisa pakek kita lagi, kan. Kan lumayan buat branding kita juga sebagai perusahaan baru mulai biar lebih bisa diterima. Nah ini dia malah lalai," ungkap Qian masih fokus pada layar laptopnya. Rendi hanya mengangguk.
__ADS_1
"Lain kali kalo ada klien besar kayak gini kasih tau gue. Biar gua bantu keep nya. Bisma kadang suka lalai pengerjaan. Jangan di kerjain asal lagi kayak gini. Untung cepat gue tau," kesal Qian mengingat bagaimana tim Bisma gelagapan saat Bisma lepas tangan dengan pekerjaannya dan menyerahkan begitu saja kepada mereka, sedangkan dia masih sibuk dengan dunianya bersama kekasihnya.
Jika bukan karena keluarganya, maka sudah lama Qian akan lepaskan semua dan menyerah. Tapi, mengingat bagaimana anak dan istrinya bergantung padanya, membuat dia mematikan amarah, kecewa dan sakit hatinya berkali-kali. Semua demi mereka.
***
Di kediamannya Vero tengah bercengkrama bersama Maya. Seharian ini Maya menghabiskan waktunya untuk merawat bayi Qian dan Vero. Terasa sangat menyenangkan saat yang ia urus adalah cucunya sendiri.
Maya yang berprofesi sebagai dokter kandungan biasanya mengurus bayi-bayi orang lain saat ibu muda melahirkan. Selalu terbersit di benaknya untuk bisa menggendong cucunya sendiri. Saat Vero melahirkan dulu dia memang sempat menggendong Rumi sebentar tapi dia tidak bisa sebebas saat ini karena konfliknya dan Qian.
"Sudah. Dia mulai lama jarak pup nya. Kayaknya sudah mulai sembuh. Susuin terus biar dia nggak dehidrasi, ya," nasehat Maya. Vero mengangguk dengan seulas senyuman hangat.
"Oh iya. Qian masih belum pulang?" tanya Maya heran sudah selarut ini Qian masih belum kembali. Maya takut semua ini karena kedatangannya membuat Qian tidak pulang.
"Belum, Mah. Dia kayaknya lembur lagi," terang Vero.
__ADS_1
"Oh, ya, Mah. Kayaknya minggu depan aku mulai balik lagi ke hotel. GM nya hubungin aku lagi. Awalnya aku nggak mau kerja lagi, tapi kayaknya aku harus kerja juga bantu-bantu sedikit. Qian penghasilannya masih belum stabil. Sekalian nanti bisa tambahan buat Qian ambil mobil baru. Kasian dia pakek mobil aku terus. Risih liatnya, dia yang owner di perusahaannya tapi nggak ada kendaraan yang memadai. Kadang dia pakek taxi online malahan," cerita Vero.
Sesaat senyum Maya merekah.
"Dia nggak banyak ngeluh kayaknya. Biasanya dia paling lantang suaranya kalo ada apa-apa," ujar Maya seraya tertawa kecil.
"Nggak, Mah. Bahkan awal kita nikah dulu, dia sempat nggak bisa kan pakek WC jongkok. Nah dia nggak ngomong apapun, dan nggak ngeluh. Paling dia keluar aja kalo mau ke toilet. Sampe aku tau sendiri. Aku jadinya nggak enak. Aku merasa kurang peka sama ketidak nyamanan dia. Makanya kita buat kamar mandi baru di kamar. Dia sempat larang tapi tetap aku buat," terang Vero lagi.
"Hmmhhh... Dia sudah mulai dewasa kayaknya. Makasih ya. Kamu sudah jagain anak dan cucu Mama dengan baik selama ini. Mama sempat khawatir dia akan susah menyesuaikan diri nantinya. Ternyata dia bisa cepat menyesuaikan dirinya," Maya mengusap lembut lengan Vero.
"Beginilah ternyata cara tuhan mengabulkan doa Mama. Mama selama ini selalu khawatir karena Qian tidak pernah bisa diatur. Dia selalu lakukan semua sesukanya. Ternyata bersama kamu dia bisa jadi lebih baik," ungkap Maya terharu.
'Seandainya Mama tau. Qian bukanlah pembangkang. Dia hanya seseorang yang butuh di percaya untuk mengejar mimpinya. Hanya butuh dukungan, bukannya terus di ragukan,' batin Vero.
Maya tersenyum hangat. Wanita cantik ini seperti pawang untuk Qian yang biasanya suka cari masalah saat di rumah.
__ADS_1
Tidak terasa waktu sudah semakin larut. Maya pun segera berpamitan untuk pulang. Vero mengantar Maya hingga sampai ke mobilnya dan mereka pun berpisah.