Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Bersikap Profesional


__ADS_3

Setelah kepergian Mika, mereka pun segera menuju rumah Sakit Alatas Medical Center untuk memeriksakan kandungan Vero. Tanpa Qian sadari Alzam melihat kedatangan mereka. Saat Qian menyadari itu dia hanya tersenyum sinis seraya menoleh sekilas kearah Alzam. Alzam berusaha untuk cuek seperti tak peduli, walau hatinya sakit.


Qian mengantri seperti yang lain. Tapi belum beberapa lama mereka antri Vero sudah mendapatkan gilirannya. Qian dan Vero pun masuk.


Mereka di sambut Maya dengan senyum ramah walau masih terlihat wajar seperti pasien yang lain Maya sambut. Vero di periksa tensi nya dan Maya juga memeriksa kaki Vero apakah mulai bengkak atau tidak. Sebenarnya ini pemeriksaan yang istimewa Maya lakukan karena lebih detail dari pasien yang lain.


"Kaki kamu lumayan bisa bengkak kayaknya. Kalo duduk usaha-in kakinya di ganjel ya. Dan jangan terlalu lama duduk dan berdiri. Kesini tadi pakek mobil atau motor?" tanya Maya tanpa menatap kepada Qian sedikitpun.


"Pakek mobil," Jawab Vero singkat dan agak grogi.

__ADS_1


"Bagus. Sebisa mungkin hindari pakek motor. Apalagi motor Qian. Itu terlalu tinggi dan nggak nyaman buat kamu," terang Maya seraya terus mempersiapkan segala sesuatunya. "Yaudah. Coba kita USG lagi," ucap Maya mempersilahkan Vero untuk duduk di ranjang periksa dan di ikuti oleh asisten Maya yang bertugas mempersiapkan semua. Sedangkan Qian masih duduk di bangkunya memperhatikan dari posisinya dengan perasaan berdebar dan penasaran.


Maya mulai mengolesi gel ke perut Vero dan memutar alat USG itu di perut Vero. Vero langsung tersenyum bahagia saat melihat gambaran bayinya yang mulai terlihat. Ia membekap mulutnya bahagia saat melihat gerakan bayinya melalui layar monitor.


"Dia lagi hisap jarinya. Ini di sudah mulai bisa dengar sama otaknya juga sudah mulai berfungsi, jadi sering ajak ngobrol dan jangan terlalu stres takutnya dia juga ikutan nanti. Beratnya 800 gram. Lumayan gede ini. Ini kakinya. Kayaknya lumayan aktif juga. Dan udah 24 minggu. 6 bulan pas," terang Maya seraya terus fokus ke layar monitor. Sedangkan Qian hanya diam menyimak.


"Yasudah. Bulan depan kalian kesini lagi, ya. Buat kontrol perkembangan bayinya," ucap Maya. Vero mengangguk seraya tersenyum. Berbeda dengan Qian yang tidak mengatakan sepatah katapun sedari tadi.


Setelah selesai menyerahkan resep obat mereka pun keluar. Vero tampak bahagia sedangkan Qian tampak menyimpan sedihnya sedari tadi. Ibunya bersikap seolah tak mengenalinya. Dan itu cukup menyakitinya.

__ADS_1


***


Di ruangannya Maya tampak tersenyum bahagia.


"Bayinya sehat dan cukup besar. Sepertinya Qian bisa menjaga istrinya dengan baik. Hah ... Apa memang ini cara tuhan mendewasakan dia," gumam Maya yang tengah berdua dengan asistennya di ruangan tersebut.


"Kenapa ... Tadi ... Ibuk nggak nyapa Mas Qian? Tadi kayaknya dia sedih, Buk. Nggak ibuk sapa. Di kiranya ibuk marah sama dia," ungkap sang Asisten ragu-ragu takut atasannya ini marah..


"Biarkan saja, Mel. Anak itu sesekali memang harus di kasih pelajaran. Saya tidak mau kelihatan peduli sama dia. Biar dia bisa survive sendiri, jangan sampai dikit-dikit andelin saya nantinya," ungkap Maya masih fokus ke layar monitor dan diam-diam ternyata Maya mengoleksi foto USG bayi Qian dan Vero untuk dirinya sendiri. Sang asisten hanya mengangguk paham. Tidak lama pasien selanjutnya pun masuk dan mereka kembali dengan kesibukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2