
Arial menatap rumah sakit dihadapannya saat ini. Sudah lama dia tidak melihatnya. Kelihatannya sudah semakin besar dan ramai semenjak di bawah kekuasaan Maya. Tidak banyak orang yang mengenali Arial. Apalagi sudah lama Arial tidak kembali ke kota ini.
Dengan kacamatanya yang mentereng, Arial masih terlihat tampan di usianya yang tidak muda lagi. Dia melenggang masuk dengan santai menuju ruangan Maya.
Beberapa orang yang masih mengenali Arial mencoba menyapanya dan meyakini jika itu benar-benar sosok Arial yang mereka kenal.
"Wah, masih gagah saja seperti dulu, Pak. Ada angin apa ini yang bawa bapak kesini?" tanya salah seorang dokter senior kepada Arial saat mereka berpapasan tadi.
"Tidak. Saya ada sedikit urusan di sini. Jadi sekalian mampir saja buat lihat-lihat, kan," ungkap Arial dengan senyuman ramahnya yang tidak mau terlalu gamblang atas tujuan kedatangannya yang sebenarnya.
"Baiklah, dokter Herman. Saya permisi dulu, ada sedikit urusan," pamit Arial sebelum pergi meninggalkan dokter senior tersebut.
***
Arial terus melangkah menuju ruangan Maya. Saat sampai dia mengetuk pintu ruangan tersebut, seseorang membukakan pintunya. Ternyata seorang perawat asisten Maya.
"Dokter Maya ada?" tanya Arial.
"Ada, Pak," jawabnya sopan mempersilahkan Arial untuk masuk.
Maya cukup tersentak saat melihat kedatangan Arial yang tiba-tiba tapi sudah bisa ia duga sebelumnya. Melihat sosok yang sangat ia sayangi dan cintai berada tepat di hadapannya saat ini membuat dia sedikit gugup.
Perawat asisten pun segera meninggalkan ruangan tersebut saat melihat Maya dan Arial seolah meminta waktu untuk bicara berdua.
Dia keluar dan menutup pintu ruangan tersebut dengan perlahan lalu pergi berlalu dari sana.
"Kamu sudah datang?" sapa Maya seraya mempersilahkan Arial untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruangan tersebut. Maya berusaha bersikap senormal mungkin dengan terus berusaha menutupi kegugupannya.
"Sejak kapan Qian menikah? Kenapa kalian tidak ada yang memberi tahu aku?" tanya Arial langsung pada tujuan kedatangannya.
"Hmmmhhh... Dia menikah mendadak, bahkan tidak bisa aku cegah saat itu. Nenek si wanita itu memaksa Qian untuk menikahinya saat itu juga karena ...," ucap Maya terbata. Arial menyipitkan matanya dan mengangguk paham.
"Wanita itu hamil?" tebak Arial. Maya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tidak tau dengan pergaulan anak kamu sedangkan kamu terus mengawasinya?" seru Arial terdengar sedikit marah.
"Apa kamu terus menyudutkan dia selama ini? Apa karena itu dia lari dengan cara seperti ini, May?" tebak Arial lagi.
"Maya kenapa kamu belum juga berubah?" seru Arial mulai membuat Maya ketar-ketir. "Sekarang dimana dia tinggal?"
"Di rumah perempuan itu. Perempuan itu baru melahirkan," ungkap Maya.
"Kamu memerasnya dengan biaya rumah sakit yang di luar nalar. Merly yang bilang. Alzam membuat dia ke rampokan. Dan kamu mengusir dia!" Seketika membuat Maya menatap Arial dalam.
"Bagaimana kalian bisa di bilang keluarga jika yang kalian lakukan padanya sudah sangat keterlaluan. Pantas kalau dia tidak betah dan memilih untuk pergi."
"Kamu tau apa tentang kami, Mas? Kamu tau tentang kami hanya dari orang lain," sanggah Maya. "Apa yang kami lalui dan bagaimana kami melaluinya apa kamu tau itu?" seru Maya mulai tidak ingin disudutkan.
"Maya. Dengarkan aku baik-baik," gumam Arial yang mulai terlihat serius.
"Kamu tidak punya apapun selain anak-anak kamu. Satu-satunya Keluarga yang kamu miliki adalah Qian dan Alzam. Dan satu-satunya orang yang bisa meneruskan garis keturunan kamu itu adalah Qian. Karena ...," ucapan Arial terputus. Dia mendekat kepada Maya.
"Alzam mandul. Dia akan kesulitan memiliki keturunan. Itu semua efek samping dari obat yang pernah dia konsumsi selama bertahun-tahun saat dia kecelakaan dulu," ungkap Arial membuat Maya terdiam dan cukup kaget mendengar fakta yang selama ini dia pikir hanya praduga.
"Kamu pikir kenapa dia terus menolak menikah padahal dia sudah cukup umur? Dia mapan? Dia juga cukup tampan. Dia punya segalanya." Maya berusaha mencari makna bohong dari mata Arial saat ini. Tidak mungkin Alzam mandul. Tidak mungkin anak yang ia rawat sedemikian baik bisa celaka seperti itu.
"Aku merawatnya dengan baik selama ini. Aku menjaga pola makan, pendidikannya, bahkan pergaulannya semua dengan sangat baik," sanggah Maya dengan suara bergetar.
"Obat yang kamu berikan padanya adalah obat keras. Karena kamu takut anakmu cacat. Kamu terus paksa dia mengkonsumsi obat keras itu Maya. Dia datang padaku untuk membawanya memeriksa keadaan dirinya dan dokter menyatakan hanya ada kemungkinan 10-15% kemungkinan dia bisa memiliki keturunan. Dan satu-satunya anak yang bisa melanjutkan garis keturunan mu itu adalah Qian, dan kamu masih mau terus memusuhinya seperti musuh bebuyutanmu?!" seru Arial penuh tekanan.
"Aku akan mengobati Alzam. Dia pasti akan baik-baik saja," sanggah Maya dengan linangan air mata.
"Sampai kapan kamu akan sadar bahwa putramu bukan hanya Alzam. Tapi juga Qian. Jangan lampiaskan semua perasaan tidak puas kamu kepada Qian, Maya. Kamu lupa kalau anak-anakmu juga butuh kamu sebagai seorang ibu yang mengasihi mereka bukan sekedar menuntut."
"Itu karena aku membencimu dan ibumu, Mas. Kalian membuat hidupku hancur dengan semua hinaan yang selalu aku terima selama ini," ungkap Maya histeris.
"Aku mencintaimu tapi aku di paksa melepasmu," isak Maya tak tertahankan lagi.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki apapun selain kamu, tapi aku di paksa melepaskan kamu, Mas."
"Kita sudah pernah membicarakan ini. Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi tentang ini." Arial menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah. Kita bicara nanti saja." Arial pun bangkit sebelum Maya tidak terkendali.
"Kamu selalu menghindar saat kita membicarakan tentang kita. Kenapa? Ibumu sangat penting, bukan? dari pada anak-anakmu yang di sini. Toh kamu juga sudah memiliki anak bersama wanita itu," tukas Maya keras saat Arial bangkit dan melangkah hendak pergi.
"Aku mencintaimu dan aku harus melepaskanmu. Aku berusaha lakukan semua yang terbaik, tapi selalu saja di salahkan. Aku juga sendirian disini. Aku tidak memiliki siapapun," ungkap Maya.
Arial memejamkan matanya dan tetap melangkah pergi menutup pintu ruangan tersebut dengan perlahan. Sedangkan Maya menangis tersedu sendirian di sofa tamu seraya mendekap erat wajahnya.
***
Di sisi lain Qian dan teman-temannya tengah menyeleksi file pelamar di perusahaan yang baru akan mereka buka. Ada beberapa portofolio yang mereka investigasi sebagai bahan pertimbangan untuk bergabung dengan perusahaan mereka.
Tiba-tiba mata Reo terpaku pada satu portofolio salah seorang fotografer yang melamar. Ia tersenyum penuh arti saat melihat hasilnya dan meyakini bahwa pemilik portofolio itu memang orang yang ia kenal.
"Qian!" panggil Reo. Qian menoleh sekilas dan kembali pada kesibukannya.
"Inget Rendi nggak?!" tanya Reo dengan Expresi yang penuh arti.
"Rendi yang mana?" tanya Qian masih cuek.
"Rendi yang itu, si Cepu. Kang ngadu. Musuh bebuyutannya Si Mbim. Anaknya rektor," ingat Reo. Qian berpikir sejenak lalu ia pun tertawa dan mengambil portofolio itu dari tangan Reo.
"Terima aja, Qian. Biar si Mbim ribut," kekeh Reo dan di jawab tos oleh Qian tanda setuju.
"Tapi kek nya hasil fotonya dia emang bagus. Ya, nggak salah juga kan kalo kita terima," tambah Qian. Dan diangguki oleh Reo.
Tiba-tiba handphone Qian berdering dan Qian pun mengangkatnya.
"Qian, ini Papa. Bisa kita ketemu," ucap seseorang dari seberang sana. Qian terdiam tanpa suara. Reo hanya bisa bingung melihat expresi Qian yang aneh.
"Siapa, Qian?" tanya Reo setelah Qian mematikan sambungan telfonnya.
__ADS_1
"Bokap gue," ucap Qian yang seketika membuat Reo juga ikut terdiam. Dan mereka saling pandang.