
Mereka masih diam di bukit hijau itu, dan Vero masih menunggu jawaban Qian.
"Aku juga dari keluarga broken home. Ibuku penuh dendam terhadap ibu mertuanya dan keluarga besar ibuku sendiri. Ibuku menjadi sangat berambisi ingin membuktikan diri. Ayahku nikah lagi tapi kehidupan rumah tangganya sangat datar, seperti tanpa cinta. Ibu dan ayahku masih saling mencintai tapi tidak bisa bersama karena mereka tidak satu tuhan. Aku dan kakak seolah di libatkan dengan konfrontasi itu. Ibuku memanfaatkan kakak untuk sebuah pembuktian kesuksesan nya. Dia ingin lakukan hal yang sama denganku, tapi aku menolaknya. Jadi, karena itu ... aku dan ibuku tidak pernah bisa akur, kami selalu bertentangan. Aku kehilangan jiwa ibuku, aku juga kehilangan sosok ayah, walau aku di dekatnya aku tidak bisa merasakan keberadaanya seutuhnya, aku punya seorang kakak laki-laki tapi kelihatannya dia sudah tidak berjiwa lagi. Dia sudah di kuasai ibuku. Dia sibuk memuaskan ibuku dengan ambisinya. Sedangkan aku seolah hidup sendiri di keluarga itu. Aku muak terhadap mereka yang kelihatannya tidak pernah bisa berdamai dengan keadaan. Itu membuat aku melampiaskan dengan sikap sembrono pembrontak. Apapun yang ibuku tidak suka, akan aku lakukan. Aku harap itu bisa membuat aku puas dan mereka semua sadar, tapi ... Ternyata ...," ucapan Qian terpotong, Vero masih menatap Qian dalam. "Entah lah!" sambung Qian lagi. Qian menunduk tafakur dalam lamunannya sesaat.
Tiba-tiba Vero menyentuh bahu Qian pelan. Qian membalas tatapan hangat Vero dengan tatapan datar.
"Ayo kita lakukan apapun yang kita suka malam ini. Mungkin sudah saatnya kita berhenti memikirkan perasaan mereka. Kita bisa lakukan apapun yang bisa membuat kita bahagia malam ini," ajak Vero seraya menarik tangan Qian. Qian bingung tapi tetap menurut.
***
Di sini lah mereka sekarang. Di sebuah club malam. Hiruk pikuk suara musik dan ramainya orang.
Vero memesan segelas alkohol. Qian dengan ragu menerima tawaran Vero. Mungkin Vero benar. Mereka berdua butuh melepaskannya sekali saja. Mereka mengikuti permainan malam itu. Minum, menari, berteriak riang sepuasnya seolah seperti burung yang baru lepas dari sangkar emasnya.
Lelah mereka pun kembali ke bangku kosong, kelihatannya sudah cukup mabuk juga.
"Ayo kita menginap di hotel malam ini? Aku ingin di layani oleh pegawai hotel. Selama ini ... aku yang terus melayani mereka, dan aku yang selalu mereka katai tolol untuk kesalahan karyawan lain. Aku berdiri 8 jam di depan meja resepsionis sampai kaki ku pegal. Harus pakai makeup tebal dari pagi hingga sore bahkan malam," ungkap Vero yang tampaknya mulai sedikit teler. Qian hanya tersenyum mendengar keluhan Vero yang terlihat lucu dengan mata sayunya.
"Kamu mabuk, Kak," tukas Qian seraya menyentuh kening Vero dengan telunjuknya.
Qian yang cukup kuat dengan alkohol masih dalam kontrol penuh terhadap dirinya sendiri.
"Kamu juga." Qian tersenyum mendengar pernyataan Vero.
__ADS_1
"Tidur denganku malam ini," lirih Vero berbisik ke telinga Qian. Qian membeku seketika mendengarnya. Dia tidak menyangka Vero akan segila itu.
"Udah, Kak. Ayok aku antar pulang. Kamu mulai ngawur," ucap Qian seraya menaruh gelas minumannya dan menarik Vero untuk pergi dari sana.
"Aku bisa di bunuh nenek kalo pulang dalam keadaan begini." Kelihatannya Vero masih menyisakan sedikit kesadarannya.
"Antar aku ke hotel," pinta Vero. Qian tidak menjawabnya. Dia langsung menggandeng Vero yang masih bisa berjalan dengan baik walau kelihatan mulai sempoyongan.
***
Qian memesan kamar hotel untuk Vero dan dia juga mengantarkan Vero ke kamarnya. Dia membaringkan Vero di ranjangnya pelan.
Baru juga terbaring sebentar Vero malah merasakan mual. Dia pun berlari cepat menuju kamar mandi.
Terdengar Vero yang muntah-muntah di kamar mandi. Qian menunggunya di luar.
Merasa tugasnya sudah selesai, Qian pun bangkit bersiap akan pergi. Belum sempat Qian melangkah, Vero telah menahan tangannya terlebih dahulu. Qian menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi. Aku mohon," pinta Vero memohon. Qian menatap Vero dalam.
"Aku butuh kamu saat ini," lirih Vero lagi.
"Kak, ini udah malam. Aku harus pulang." Qian melepaskan genggaman Vero pada tangannya perlahan.
__ADS_1
Tapi tanpa Qian duga Vero malah bangkit dan mencium bibir Qian. Qian membeku di posisinya sesaat. Vero tak berhenti sampai di situ, dia mulai dengan lebih liar lagi hingga Qian terdorong keatas ranjang dan dia mulai melepaskan blazer nya. Qian makin panik melihat aksi berani Vero.
"Kak, ini nggak bener," cegah Qian ingin pergi dan mencoba mengontrol keadaan agar tidak hilang kendali.
Tapi tampaknya Vero benar-benar sudah gila.
"Jangan pergi. Kau lelahkan jadi orang baik yang selalu dianggap buruk! Aku juga. Mari kita perlihatkan kepada mereka," lirih Vero di telinga Qian. Qian terdiam dan membiarkan tindakan berani Vero pada dirinya. Mereka seolah mulai terbawa suasana. Dia mulai ikut terpancing.
Merasa mendapat lampu hijau dari Qian, Vero mulai lebih berani. Mereka benar-benar bercumbu malam itu. Perlahan cumbuan itu menjadi lebih liar dan memanas.
Dua orang yang penuh kekecewaan bersama mencoba melupakan sebentar kekecewaan mereka saat ini. Untuk saat ini, mereka adalah hewan liar yang tak beradab. Menghabiskan malam mereka dengan penuh hasrat.
Saat mereka semakin jauh, Qian kembali memastikan kepada Vero melalui tatapannya bahwa Vero tidak akan menyesalinya nanti. Vero menjawabnya dengan sebuah cumbuan yang seolah ingin meyakinkan kepada Qian bahwa dia tidak dalam keadaan ragu sedikitpun.
Mereka mulai memasuki permainan yang sebenarnya. Semakin terbawa oleh suasana membuat mereka melupakan batasan mereka saat ini, bahwa mereka bukan lah insan yang berhak melakukan hal itu saat ini. Mereka bukan pasangan sah dan bukan sepasang kekasih. Pakaian yang mulai terlucuti satu persatu dan hasrat yang semakin kuat tak mungkin mereka masih memiliki kesadaran untuk menghentikannya lagi.
Vero menatap wajah tampan yang saat ini mereguh kasih bersamanya, entah kenapa wajah ini malah mengingatkannya kepada Alzam.
"Alzam!" lirih Vero nyaris tak terdengar oleh Qian.
Qian yang tak mendengar gumaman Vero hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan mengecup bibir Vero dengan hangat dan di balas Vero dengan gila, membuat Qian semakin terbawa suasana.
Hingga akhirnya mereka benar-benar mencapai puncak permainan mereka. Qian menutupnya dengan kecupan manis di kening Vero. Dan membaringkan tubuhnya di samping Vero. Vero diam sesaat sama-sama mengatur nafas mereka yang masih terengah-engah. Lalu mereka tertawa mengingat kegilaan mereka barusan.
__ADS_1
Vero beringsut masuk ke pelukan Qian, hingga larut malam benar-benar membawa mereka untuk terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Cara mereka melupakan sakitnya mungkin terkesan sangat binal saat ini. Tapi itu mampu membuat mereka merasakan kebahagiaan untuk sesaat. Atau ... Hingga mereka terbangun esok hari. Adakah yang akan berubah dari perasaan malam ini?