
Saat malam, Qian kembali ke rumah sakit. Dia masuk dengan cueknya, tanpa perduli dengan mata para perawat yang menatap kagum padanya.
"Dia ini versi nakalnya dokter Alzam. Tapi kelihatan lebih ganteng dan nyamanin, nggak sih?" gumam mereka saat Qian berlalu.
"Beruntung banget istrinya,"
"Istrinya juga cantik. Berbanding jauh sama kita," tambah yang lain.
Sedangkan Qian, dia sudah semakin jauh. Dia melewati lorong yang cukup panjang untuk sampai ke ruangan rawat Vero yang berada di belakang. Karena terpisah dari kamar lainnya.
Jadi mereka memakai konsep paviliun yang jauh dari ruangan yang lain dan terpisah. Ini biasanya di gunakan untuk pasien istimewa yang tidak ingin privasi mereka terganggu selama di rawat. Atau sering di gunakan untuk para tamu istimewa rumah sakit yang datang berkunjung.
Kamar ini memang sudah Maya siapkan jauh hari untuk Vero.
Saat Qian melewati sebuah jembatan kecil ketika dia akan menuju ruang rawat Vero, Qian berpapasan dengan ibunya yang memang baru selesai menemui tamu mereka yang menginap di salah satu paviliun di sana.
Saat melihat Qian melewatinya tanpa menyapa. Dan bersikap seolah tidak melihat ibunya itu sama sekali. Itu membuat Maya merasa kesal.
"Besok istrimu, pulang. Jangan lupa urus administrasi nya sebelum kalian pulang. Kebetulan kamar yang kamu tempati itu 2 juta-an satu malam," ungkap Maya yang sukses membuat Qian menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Maya.
"Tentu saja aku akan bayar. KITA KAN TIDAK PUNYA HUBUNGAN APA-APA, kenapa harus gratis, ini bukan panti sosial, bukan," sarkas Qian yang sukses membungkam Maya seketika. Maya tertegun sesaat hingga akhirnya ia tersadar dan tersenyum dengan anggunnya.
"Bagus kalau kau paham!" sahut Maya berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Setelah selesai bicara Maya langsung melangkah pergi dengan anggunnya menutupi rasa kesalnya dengan seutas senyuman sinis.
Qian memicingkan matanya menatap kepergian ibunya.
"Heh! Keterlaluan!" umpat Qian kesal. Dan ia kembali melanjutkan perjalanan lagi.
Sesampainya di ruangan tersebut, Qian melihat Vero masih mencoba menyusui bayinya. Dia tidak menyapa karena memang Vero masih dingin terhadapnya.
__ADS_1
"Mama bisa pulang kalo Mama capek. Nanti aku pesen taksi buat Mama. Besok aku nggak kerja," ungkap Qian.
Vero yang duduk di ranjang tidak tahan untuk tidak bereaksi.
"Mama saja yang tinggal di sini. Biar dia yang pergi," timpal Vero yang mulai menunjukkan sikap menentangnya.
"Vero!" sanggah Mama Jill melototkan matanya kepada Vero dengan sedikit membentak. Dia beralih menatap Qian dengan seulas senyuman. "Kebetulan Mama sudah capek seharian ini. Mama pulang saja, besok Mama balik lagi," tengah Mama Jill.
"Menjauh lah dariku. Jangan pernah menemui aku dan anakku. Jangan tampakkan dirimu di hadapan kami lagi. Bukankah egomu lebih penting dari pada kami!" seru Vero.
"Vero!" bentak Mama Jill lagi. "Qian tidak bisa menceraikan mu sampai masa nifas mu berakhir," sanggah Mama Jill santai. Dia berusaha membuat suasana tegang ini tidak semakin memburuk.
"Sudahlah. Kalau Qian mau, 1000 wanita di luar sana menunggunya. Dia tampan, muda, berasal dari keluarga berada dan berpendidikan. Lalu kamu? Di usiamu yang segini apa kamu pikir cari kerja masih mudah? Apa kamu pikir menjadi singel parent itu enak? Apa anakmu itu bisa besar dengan baik tanpa ayah dan ibunya?" terang Mama Jill yang membuat Vero kembali berfikir. "Sudah lah, jangan di ikuti perasaan marah. Anggap saja kemarin itu kita lagi sial. Jangan di besar-besarkan lagi," ucap Mama Jill terus beres-beres bak tidak terganggu dengan ketegangan suami istri ini. Ia terus bersikap santai dan tenang.
Sedangkan Vero menatap Qian tajam menahan rasa kesalnya. Dan Qian mengangguk paham tanpa banyak kata, dia berusaha untuk mengabaikan sikap Vero. Dia mencoba untuk memakluminya. Karena tempo hari dia juga sudah di ingatkan Mama Jill, kemungkinan mood Vero akan berubah-ubah paska melahirkan, apalagi dia melahirkan dalam keadaan trauma karena ulah Qian yang salah memilih klinik untuknya.
Sebagai ungkapan rasa bersalahnya, Qian mencoba untuk bersabar dengan semua tingkah Vero padanya saat ini.
Saat Qian hendak membantunya. Mama Jill menolaknya dan meminta Qian untuk tetap di sana tidak perlu mengantarnya.
Selesai menyusui bayinya, Vero meletakkan bayi merah itu di box bayi yang memang ada di ruang tersebut.
Tapi, Vero tampak kesulitan untuk turun dari ranjangnya. Qian yang melihat itu segera bergerak cepat membantu Vero menggendong bayinya dan meletakkan bayi itu pelan ke dalam box ranjang tidurnya.
Mereka masih tanpa suara. Walau Vero terus menolak, Qian tidak perduli. Dia tetap terus membantu Vero.
"ASI nya sudah keluar?" tanya Qian. Vero menatap Qian tajam sampai akhirnya dia menjawabnya.
"Sudah. Tadi pagi," jawab Vero singkat.
"Besok sudah boleh pulang. Aku mau cek administrasinya dulu. Mau lihat berapa yang harus kita bayar. Takutnya uang kita nggak cukup," ungkap Qian lirih. Sesaat Vero tercekat. Dia baru sadar akan hal itu. Dia melirik Qian.
__ADS_1
Mungkin saat ini Qian jauh lebih tertekan dengan keadaan mereka sekarang. Dia harus memikirkan uang biaya persalinan nya. Dan harus bolak-balik dari tempat kerja ke rumah sakit setiap hari. Apalagi sekarang dia tengah sibuk mempersiapkan perusahaan desainnya.
Merasa Vero menatapnya cukup lama, Qian mulai merasa aneh.
"Ada apa?" tanya Qian melihat Vero yang menatapnya sedari tadi.
"Oh, ngga papa," lirih Vero yang baru sadar dari lamunannya.
"Aku keluar sebentar. Ada yang mau aku urus." Qian keluar meninggalkan Vero sendiri bersama bayi mereka yang tengah terlelap.
Saat Qian keluar dari area paviliun. Qian berpapasan dengan Alzam. Langkah mereka terhenti. Mereka saling tatap menunggu salah satu yang akan memulai pembicaraan.
"Rumah tangga tidak sama dengan permainan rumah-rumahan waktu kamu kecil bersama Una dulu. Lepaskan dia supaya bisa menemukan orang yang lebih baik dan siap berumah tangga. Atau berubah lah menjadi lelaki dewasa yang tau bagaimana bersikap bijak," ucap Alzam tajam.
"Pria seperti apa? Sepertimu?" tanya Qian mengejek. "Heh... Setidaknya aku lebih berani mengambil keputusan, dari pada kau yang pengecut," balas Qian lagi meninggalkan Alzam yang masih tak beranjak. Ia menatap langkah cepat Qian meninggalkannya.
Entah kenapa malam ini Qian merasa selalu terlibat konfrontasi. Bersama ibunya, istrinya dan sekarang kakaknya.
"Ada apa dengan mereka semua malam ini!" gumam Qian sendirian dan terus berjalan cepat.
Ketika Qian sampai tepat saat mereka akan pulang.
"Tunggu sebentar!" cegah Qian sebelum mereka hendak pergi. Mereka segera menoleh kepada Qian.
"Saya mau minta tolong kalian buat lihat biaya perawatan atas nama Veronica Felicia. Saya mohon," pinta Qian penuh harap. Melihat siapa yang meminta, tentu mereka tidak akan berani menolak.
Mereka kembali kedalam ruangannya dan membuka komputer untuk memeriksa data yang Qian minta.
"38.800.000 rupiah. Ini karena ibuk Vero menggunakan kamar rawat termahal di sini, pak," terang mereka. Qian terdiam menelan saliva-nya pahit. Darimana dia akan mendapatkan uang begitu banyak dalam waktu satu hari.
Setelah selesai Qian pun kembali keruang rawat Vero. Dia berjalan lemas dan tampak penuh beban. Sebelum kembali ke kamar rawat Vero, Qian terduduk lemas di kursi panjang yang tidak jauh dari sana. Pandangannya kosong dan sesaat dia mulai merasakan sesak. Dia bersandar dan mendekap wajahnya lelah.
__ADS_1
Dari kejauhan Alzam melihat adiknya itu dengan tatapan mata yang penuh arti. Qian seperti orang frustasi dengan beban pikiran yang berat.