Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Sulit Di Percaya


__ADS_3

Nenek Vero jatuh pingsan. Semua pun jadi panik. Alzam segera memeriksa keadaan nenek Vero.


"Kayaknya dia jantung," seru Alzam panik.


Seketika tangis Vero pecah. Dia tau betul itu bukan keadaan yang baik untuk neneknya.


Qian pun tak tinggal diam. Dia segera membantu nenek Vero.


"Bawa beliau ke rumah sakit sekarang. Cepat!" seru Maya panik.


Sekarang perhatian semua orang teralihkan oleh keadaan nenek Vero yang pingsan.


Tanpa pikir panjang lagi mereka semua segera membawa nenek Vero ke rumah sakit. Dan lupa dengan konflik mereka karena sudah terlalu panik dengan keadaan nenek Vero yang langsung jatuh pingsan karena kaget.


Di rumah sakit nenek Vero segera di tangani oleh dokter dan para tim medis. Semua terus bekerja dengan cekatan. Melihat keadaan yang tampaknya tidak baik untuk neneknya Vero mulai menangis. Qian hanya diam tak berani mendekati Vero, hanya Alzam yang terus berusaha menenangkan Vero.


"Tidak apa-apa. Tenanglah. Nenek pasti baik-baik saja. Kamu harus tenang," bujuk Alzam.


Qian hanya bisa melihat nya dari kejauhan dengan perasaan campur aduk dan masih merasa tidak percaya.


Bagaimana ini? Vero akan menikahi Alzam? Apa Vero sudah gila?


"Dia benar-benar gila!" lirih Qian geleng-geleng kepala tidak percaya.

__ADS_1


Rumit!


Sesaat dokter keluar dari ruang perawatan nenek. Dia tampak gusar yang menunjukkan bahwa nenek Vero tidak baik-baik saja. Keadaannya saat ini sangat genting.


Qian hanya bisa melihat dari kejauhan saat Vero bicara dengan dokter dan ia terduduk lemas. Qian ingin mendekat dan memeluk erat gadis itu. Tapi saat ini dia tengah bersama Alzam, tidak mungkin ia berani mendekati Vero.


Tiba-tiba tanpa Qian sadari, Maya menghampiri Qian dan sudah duduk di samping Qian yang terus menatap Vero dan Alzam yang tengah menangkan tangis Vero.


"Kamu benar-benar ayah dari anak yang di kandung Vero?" tanya Maya yang sontak mengagetkan Qian akan kehadirannya yang tiba-tiba.


"Sepertinya Alzam sangat mencintai gadis itu," ungkap Maya yang sontak membuat Qian menoleh. Maya menatap Qian balik.


"Biarkan Alzam menikah dengan Vero. Dia pasti mampu membesarkan anakmu. Kamu belum bisa Qian. Bertanggungjawab atas diri kamu sendiri pun belum mampu. Apalagi kamu juga masih belum bekerja. Dan lagian ... Kamu ... Tau kan keadaan Alzam bagaimana," ungkap Maya. Yang seketika membuat Qian menyunggingkan senyuman sinisnya. Ia mengepalkan erat tangannya berusaha menahan perasaannya.


"Pergilah, Mah," usir Qian mulai merasa tak dapat menahan diri.


"AKU BILANG PERGI!" usir Qian lantang.


Maya terdiam saat melihat Qian ternyata tengah menangis.


"Bukan hal yang mudah untuk Alzam memutuskan pernikahan. Jadi, biarkan dia tetap dengan pilihannya saat ini, Qian. Pasti dia adalah wanita yang spesial bagi Alzam hingga dia rela menerima keadaan Vero seperti ini," tambah Maya lagi tanpa peduli dengan penolakan keras Qian.


"Selalu Alzam dan Alzam. Tidak pernah ada aku! Kenapa perasaan dia begitu penting? Bagaiman dengan aku?" ungkap Qian meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Perasaan aku juga hancur saat ini," lirih Qian menatap ibunya dalam dengan mata berkaca-kaca.


Maya terdiam. Dia menundukkan pandangannya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini. Ia pun bangkit dan meninggalkan Qian.


Vero hanya memperhatikan Qian dari kejauhan. Mereka saling tatap. Lalu Qian menghampiri Vero dengan langkah cepat. Kebetulan saat itu Vero tengah sendirian.


"Ayo kita bicara," ucap Qian kepada Vero.


"Bicarakan saja disini," jawab Vero dingin.


"Kau yakin ingin membicarakannya di sini," ingat Qian. Vero diam tak menjawab dan tak ingin menatap Qian. Ia membuang muka dari Qian seraya terus menangis atas keadaan Nenek dan dirinya saat ini.


"Kau ingin di kasihani? Kau ingin di cintai karena di kasihani? JAWAB AKU VERO?" Vero menatap Qian nyalang. Berani-beraninya pria ini bicara lantang padanya setelah melihat apa yang terjadi.


"Ya. Karena aku mencintainya. Aku ingin kembali dengannya dan dia tidak masalah dengan anak ini." Tantang Vero bengis dan tak kalah sengitnya.


"Apa dia tetap akan menerimanya setelah ia tau jika itu anakku? Anak adiknya. Adiknya meniduri istrinya sebelum mereka menikah? Apa kamu pikir itu mudah untuk di terima? Apa si pengecut Alzam mampu menerima kenyataan itu? Apa kau pikir ibuku sebaik itu?"


"Dia tidak pengecut. Kau yang pengecut. Kenapa kau tidak jujur dengan semuanya? Kenapa kau tidak beritahu mereka semua? Kenapa?"


"Kau tidak bisa menjawabnya? Apa memang karena kau ingin mengelak?"


"Sudah aku katakan sejak awal. Temui aku jika terjadi sesuatu. Kau yang malah pergi menemui Alzam. Kau pergi ketempat yang tidak bisa aku jangkau. Kau menyudutkan aku."

__ADS_1


"Kau yang pengecut, Al-Qian," bisik vero tajam.


"Heh, terserah. Aku menyerah." Qian pergi meninggalkan Vero.


__ADS_2