Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Di Musihi


__ADS_3

Di sinilah Qian saat ini. Di ruang perawatan Vero. Dengan mata sembab dan air mata yang tak pernah kering dari matanya. Tangan yang tak pernah bisa lepas dari genggaman wanita cantik yang tengah tak sadarkan diri ini. Dua infus nampak menggantung disisinya. Kantung darah dan obatnya.


Rasa bersalah tak pernah lepas ia rasakan. Betapa ingin ia mendengar Vero memakinya saat ini. Itu jauh melegakan baginya dari pada melihat wanita yang ia cintai terbaring diantara ajalnya begini. Rasanya jantungnya di pertaruhkan juga, gelisah dan selalu tak tenang menunggu setiap detik yang bergulir. Tiap detik tak hentinya ia harapkan adanya mukjizat yang datang.


"Silahkan maki aku. Marah lah. Katakan apapun yang ingin kamu katakan. Aku tidak akan marah, kak. Kakak boleh meminta apapun dari aku. Termasuk ... Jika ... Kakak ingin lepas dariku. Akan ... Aku ... Kabulkan." Seketika tangis itu pecah. Qian tak dapat menahannya lagi.


"Marahlah, kak. Marah lah. Maki aku sepuasnya. Setelah itu kakak bisa hidup bahagia, tidak menderita lagi bersamaku. Pilih kebahagiaan yang kakak mau." Seketika langkah Alzam yang berada di samping Qian tercekat.


Dia melihat cinta yang sangat nyata yang adiknya miliki saat ini. Dia tau betul bagaimana keras kepalanya Qian yang tidak pernah mau di salahkan. Qian akan lakukan apapun untuk membela dirinya jika ia di salahkan atau saat keinginannya di tentang.


Ini bukan permainan rumah-rumahan lagi, tapi Qian benar-benar telah menemukan kebahagiaannya. Qian benar-benar mencintai Vero, bukan sekedar pelariannya dari sang ibu saja. Dulu Alzam sempat merasa jika Qian hanya menggunakan pernikahannya untuk menentang ibunya saja. Atau sekedar ingin membalasnya yang selalu di bela sang ibu. Ternyata dia salah, adiknya benar-benar mencintai Vero sebagai seorang pria yang tengah jatuh cinta terhadap wanita.


Seutas senyum tersemat di bibir Alzam. Dia merasa Vero berhasil merubah adiknya menjadi sosok yang lebih baik sekarang.


Alzam berbalik dan melangkah hendak pergi dari sana. Akan tetapi saat Alzam baru melangkah satu langkah keluar dari ruangan Vero, ia tanpa sengaja malah hampir menabrak ibunya yang tengah berdiri tepat didepan pintu ruang rawat Vero.


"Hmmm... Akhirnya dia dapat pelajarannya juga," lirih Maya dengan senyum sinisnya dan menatap Alzam sesaat sebelum ia pergi.


Alzam menatap kepergian ibunya dan mendesahkan nafasnya dalam.


***


Qian tidur meringkuk sepanjang malam di sofa ruang rawat Vero. Bahkan Qian baru terbangun saat menyadari jika kamar rawat Vero sudah ramai banyak orang. Dia yang baru terbangun masih belum begitu sadar dengan keadaan.


Dia mulai membuka mata dan mencari tahu perihal keramaian yang terjadi di ruang tersebut. Sesaat mata Qian terpaku pada sosok bayi mungil yang coba Vero susui dalam keadaan lemahnya bahkan sesekali ia terlihat meringis kesakitan.


Senyuman Qian merekah saat tau jika Vero sudah terbangun dan mulai mencoba memberikan bayinya asi dengan di bantu oleh Maya bersama beberapa orang perawat.

__ADS_1



***


Merly dengan telaten mengajari Vero pelan-pelan untuk memberi bayinya ASI. Tapi, karena masih terlalu lemah Vero kesulitan untuk melakukannya. Apalagi dia juga kesulitan untuk duduk karena jaitannya masih basah.


"Usahakan dagunya ini nempel sama kamu. Dan kamu juga harus rileks," terang Merly. Vero terus mencobanya dengan raut wajahnya yang tampak tak nyaman menahan perih.


Qian hanya memperhatikan dengan diam dari posisinya. Dia merasa Vero akan marah dan sulit untuk memaafkannya. Karena itu dia tidak berani mendekat.


Tidak lama, Mama Jill sudah datang membawa masakannya untuk Vero.


"Ini Mama buatin sayur katuk buat kamu. Nenek samping rumah bilang ini bagus buat nambah ASI. Dan ini juga ikan arwan bagus buat pemulihan kamu. Kamu coba makan sedikit-sedikit, ya," tutur Mama Jill seraya menyiapkan semua.


"Eh, iya Qian. Ini anakmu sudah di Azani?" tanya Mama Jill.


"Nggak usah, Mah. Biar paman Anwar saja nanti," cegah Vero cepat yang membuat Qian terdiam. Qian diam tertunduk, dia menarik nafas dalam.


"Biar paman Anwar saja nanti. Dia pasti lebih paham dari saya," jawab Qian berusaha menengahi agar tidak terjadi Keributan. Lalu ia pun bangkit dari posisinya menuju kamar mandi.


"Mama nggak suka kamu kayak gitu, ya," ingat Mama Jill berbisik seraya terus menyiapkan makanan untuk Vero. Vero hanya dingin menanggapi peringatan ibunya itu.


Tidak lama Qian keluar dari kamar mandi dan bersiap akan pergi.


"Kamu mau kemana, Qian?" tanya Mama Jill saat melihat Qian yang bersiap akan pergi.


"Ada kerjaan sedikit, Mah. Aku sama Reo sama Bisma juga. Kita mau lihat gedung yang akan kita sewa hari ini," terang Qian bersiap dengan jaketnya.

__ADS_1


"Mobilnya aku tinggal ya, Mah. Nanti Mama yang bawak pulang. Aku di jemput Reo," ungkap Qian.


"Loh, kamu kan belum ganti baju, bersih-bersih juga belum," tutur Mama Jill heran.


"Nggak papa, nanti aku pulang sebentar," jawab Qian. Sedangkan Vero hanya diam menanggapinya. Qian menghampiri Merly untuk menyapa bayinya. Setelah itu dia pun pergi.


***


Selesai menemui Vero, Merly segera mencari Maya dan mengajaknya bicara.


"Kamu mau diam saja melihat anak dan menantumu bertikai seperti itu, Maya?" tanya Merly tak habis pikir dengan sikap Maya.


"Aku ingin dia datang sendiri menemuiku untuk meminta bantuanku. Dia harus di ajarkan bagaimana caranya meminta bantuan kepada orang lain dengan baik. Kemarin aku berikan dia peralatan bayi lengkap, dia kembalikan begitu saja. Dia taruh di depan rumah tanpa sepatah katapun," ungkap Maya yang tampak masih menyimpan rasa kesalnya terhadap sikap Qian.


"Aku ingatkan dia untuk membawa Vero padaku saat dia akan melahirkan. Tapi dia bawa ke klinik terkutuk itu. Dia hampir mencelakai anak dan istrinya demi egonya. Kalau aku tidak datang tepat waktu, maka sudah lama istrinya menemui ajalnya. Dia membawa istrinya ke klinik baru buka praktek dan di tangani oleh perawat jaga di sana. Mereka main gunting saja Vero tanpa ada ilmu yang mumpuni dengan alasan pembukaannya sudah lengkap."


"Tapi dengan cara seperti ini juga tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik, Maya."


"Aku hanya ingin anak ini belajar dari sikapnya. Dia selalu menunjukkan sikap arogan seolah-olah tidak butuh aku dalam hidupnya,"


"Lalu bagaimana dengan sikap mu sendiri? Sikapmu terhadapnya dan Alzam? Apa kau bisa memikirkan itu?"


Maya terdiam. Dia membuang muka menarik nafas panjang.


"Aku sibuk, Mer," elak Maya, ia bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Merly sendiri.


"Dia juga anakmu, Maya. Bukan hanya Alzam," seru Merly sebelum Maya pergi dan menghilang di balik lorong.

__ADS_1


Merly mendesah nafasnya kasar, tertegun beberapa saat.


"Kau sama saja dengan putramu, May. Sama-sama keras kepala," gumam Merly kesal, hingga akhirnya dia juga melangkah pergi dari sana.


__ADS_2