Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Ibu Yang Tidak Adil


__ADS_3

Saat Qian pulang ia melihat beberapa kurir datang mengunjungi kediamannya. Ternyata ada komputer baru yang datang. Qian penasaran untuk siapa komputer lengkap dan mahal itu.


Qian masuk ke rumah dan melihat para kurir menuju kamar Alzam. Qian menatap ibunya nyalang. Ada rasa kecewa di hatinya. Padahal saat dia meminta sesuatu ibunya selalu mengatakan sedang banyak pengeluaran tapi sekarang dia bahkan membeli komputer set lengkap baru untuk Alzam. Yang harganya pasti tidak kurang dari 50 jutaan. Itu perkiraan Qian yang memang paham betul dengan komputer.


Qian langsung masuk kamarnya tanpa sepatah katapun. Bahkan itu terjadi hingga keesokan harinya. Qian bersikap dingin dan tanpa sepatah katapun di meja makan.


Alzam yang tidak tau apa-apa hanya diam menyaksikan sikap aneh ibu dan adiknya yang tidak saling sapa sedari tadi.


Mereka bertiga terjebak kesenyapan. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu, selebihnya yang ada hanya aura dingin yang kentara.


"Hari ini aku piket. Jadi, pulangnya mungkin larut malam," ucap Alzam berusaha memecahkan kesunyian. Tapi setelah beberapa saat masih tak ada jawaban yang ia dapat.


"Ekhem, yaudah, aku pergi dulu," ucap Alzam lagi lalu bangkit dan melangkah pergi meninggalkan ibu dan adiknya yang masih menyelesaikan sarapan mereka dengan tatapan Maya sesekali melirik ke arah Qian.


***

__ADS_1


Maya yang merasa bersalah mengikuti Qian ke kamarnya. Tampak dia tengah memainkan handphone nya di ranjang. Dia melihat sekilas kedatangan ibunya dan membiarkan dia duduk di sampingnya.


"Ekhem... Besok kita beli motor buat kamu, yuk," bujuk ibunya. Qian yang terlanjur kecewa hanya diam.


"Kita ke showroom besok, kamu bisa pilih yang kamu suka," ungkap Maya lagi. Qian hanya tertawa sinis mendengarnya. Setelah keadaan seperti ini baru ibunya mau membelikan untuknya. Rasanya sangat mengecewakan bagi Qian.


"Gimana?" tanya Maya lagi.


"Kalo Mama mau beli buat Mama, beli aja. Besok aku ada kerjaan. Nggak bisa nemenin" jawab Qian dingin masih sibuk dengan handphone nya.


"Nggak usah," tukas Qian singkat.


"Beneran?" Maya masih mencoba membujuk si bungsu yang keras kepala ini dengan senyum menggoda.


Qian bukannya menjawab malah pergi dari kamar tersebut tanpa sepatah katapun meninggalkan ibunya. Maya hanya bisa menatap kepergian putranya itu. Dia menarik nafas kasar memejamkan matanya sesaat.

__ADS_1


***


Di rumah sakit Alzam di sibukkan oleh dua hal yang membuat otaknya tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Dia tengah sibuk mempersiapkan berkas-berkas tugasnya dan satu lagi, dia juga di pusingkan dengan Vero yang tidak bisa di hubungi lagi. Vero memblokir nomer Alzam sejak dia memutuskan hubungan mereka secara sepihak kemarin.


"Biarin aja dulu. Dia pasti cuman lagi kesal karna kamu pergi sama Jesika. Nanti kamu pulang temuin dia lagi. Toh, cuman sekitar 2 bulanan saja. Kasih waktu buat hubungan kalian break dulu sementara." Nasehat salah satu rekannya. Alzam mengangguk paham.


Dia sekarang memilih untuk lebih fokus ke persiapan keberangkatan nya saja dulu. Soal Vero nanti ia selesaikan setelah kembali dengan caranya


***


Pulang kerja Alzam di pusingkan oleh ibunya. Karena Qian yang tidak kunjung pulang sedari pagi tadi hingga malam begini dia masih belum pulang.


"Dia kayaknya marah gara-gara kamu Mama beliin mobil. Padahal dia sudah wanti-wanti minta moge baru, Mama bilang 'tunggu dulu Mama belum punya uang' akhirnya sekarang dia ngambek lagi liat kamu Mama beliin komputer baru. Mama lupa dia juga sempat minta di beliin alat desain, katanya mau freelance di rumah. Harusnya Mama beliin itu dulu kemaren." Alzam paham sekarang kenapa Qian begitu dingin kepadanya sejak kemaren.


Alzam mulai merasa tidak enak hati dengan adiknya itu. Pasti Qian merasa bahwa dia selalu di prioritaskan di bandingnya dirinya. Memang sejak dulu Qian sudah menunjukkan sikap cemburunya kepadanya dan Alzam selalu berusaha mengimbanginya dengan membelikan Qian barang yang lain.

__ADS_1


"Mama sih, sering banget kayak gitu sama dia," kesah Alzam kesal seraya melepaskan kaca matanya memijit pelipisnya karena kepalanya yang mulai terasa semakin pusing dengan tambahan masalah baru lagi.


__ADS_2