Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Putra Yang Terbuang


__ADS_3

Sorenya Maya datang dengan menenteng dua koper besar yang langsung ia lemparkan di hadapan Qian dengan kasar.


Qian cukup kaget dengan kedatangan ibunya yang mengantar dua koper besar miliknya itu. Dia membawanya sendiri dan menyeretnya di ikuti oleh Alzam yang terus mencoba menenangkan Maya.


"Mah, jangan gini. Ini tempat duka," lirih Alzam separuh berbisik kepada ibunya yang tampaknya sudah tidak perduli apapun lagi saat ini.


***


Mendengar ada keributan. Vero keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Dia melihat kedatangan Alzam dan ibu mertuanya. Alzam tampak tak banyak bicara, hanya saja ibunya tampak masih tidak terima.


Dia kelihatannya sangat tak terkendali saat ini. Dengan Qian di hadapan keduanya. Qian tampak dingin menanggapi kedatangan kedua orang tersebut.


Vero segera mendekati Qian dan mencari tau apa yang tengah terjadi saat ini. Apalagi beberapa mata pelayat mulai ramai tertuju kepada kedatangan kakak ipar dan ibu mertuanya itu.


"Bawa semua sampah ini. Jalani hidup seperti yang kamu mau dan tidak perlu kembali lagi. Mulai hari ini, aku tidak punya anak seperti kamu. Anakku hanya Alzam seorang," teriak Maya membuat semua mata makin tertuju kepadanya.

__ADS_1


Bahkan dia tidak perduli dengan bisik-bisik orang-orang sekitar yang mulai terdengar bergosip. Qian hanya menatap datar kearah Maya tanpa sepatah katapun dan tak gentar sedikitpun.


"Baik. Nggak pakek buat keributan bisa, kan?" ucap Qian akhirnya dengan santai dan masih tampak tenang seraya mengambil barang-barang miliknya tersebut.


Dia mengambil koper itu tanpa beban dan membawanya masuk. Dia berusaha untuk tidak memancing keributan lagi karena hari ini adalah hari berduka bagi Vero dan keluarganya.


Vero menatap ibu mertuanya, Maya membalas tatapan Vero dengan tatapan dingin.


"Kamu menghancurkan hidup putraku," lirih Maya berbisik. Vero hanya terdiam dan tertunduk.


Sebelum pergi Alzam masih sempat menatap sang Vero dengan tatapan datar yang sulit untuk ia artikan oleh Vero.


Di dalam mobil sebelum pergi, Alzam sempat menarik nafas panjang hingga akhirnya ia dan ibunya benar-benar meninggalkan tempat itu.


"Kita lihat saja. Berapa lama dia sanggup bertahan," lirih maya dengan sorot mata tajam. Alzam menatap sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.

__ADS_1


***


Di kamar Qian membuka koper besar tersebut. Semua berisi pakaian-pakaian miliknya. Dia mulai mengeluarkannya di ikuti oleh Vero yang hanya menatapnya diam.


Vero melihat Qian yang mengobrak-abrik semua dengan kasar. Dia tau Qian tengah marah dan kesal. Hanya tadi dia berusaha untuk menahan diri. Semakin lama Qian semakin membuang-buang semuanya dengan kasar. Vero kaget dan langsung mendekap Qian untuk menenangkannya.


Qian langsung mendekap wajahnya menangis di dekapan Vero. Dua orang yang tengah tidak baik-baik saja berusaha untuk baik-baik saja, tapi ternyata mereka sama-sama lemah. Vero ikut menangis bersama Qian.


"Tidak apa-apa. Hari ini kita menangis. Besok kita harus kembali kuat berdua. Sekarang kita tidak punya siapapun lagi kecuali satu sama lain." Vero menyeka air mata Qian.


Sesaat Qian merasa konyol, seharusnya dia menunjukkan sikap tegarnya kepada Vero yang saat ini bahkan tengah sangat berduka.


"Maaf," lirih Qian. Vero hanya tersenyum.


Qian pun tersenyum dalam tangisnya seraya menatap wanita cantik itu dalam. Lalu mereka kembali tertawa. Seolah menertawakan takdir yang tengah mempermainkan hidup mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2