
Bisma menggunakan alasan ngambeknya untuk menemui kekasihnya di lantai 22. Yang merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain interior.
"Emang kamu nggak ngerasa nggak enak sama yang lain kalo kamu kesini terus? Nanti pak Yudi marah," ingat Mia kekasih Bisma.
"Aku lagi males sama mereka. Mereka rekrut karyawan orang yang paling nggak aku suka. Tukang ngadu, cepu, suka cari muka. Dasar anak tetangga laknat itu Rendi. Tiap hari dulu waktu sekolah dia paling rajin ngadu ke kakak-kakak aku sampe aku di hajar sama kakak-kakak aku. Eh, malah di terima sama si kampret Qian sama Reo, jadi bagian tim aku lagi. Argh... Pengen aku bejek-bejek itu temen setan," rutuk Bisma dengan geram. Mia hanya tertawa mendengar pernyataan Bisma yang frontal tapi terdengar lucu itu.
Dia sangat menyukai gaya Bisma yang humoris dan penyayang. Karena itu dia menerima Bisma menjadi kekasihnya. Itu pun berawal dari pertemuan tak sengaja mereka dan berlanjut dengan Bisma yang terus mendekatinya hingga akhirnya ia luluh juga untuk menerima cinta lelaki tampan ini.
Tiba-tiba entah dari mana.
PLAK...
Sebuah gulungan koran mendarat dengan epik di kepala Bisma. Saat Bisma menoleh ternyata itu adalah general manager perusahaan tersebut.
"Ini anak apa nggak kerja? Pagi-pagi buta kesini, ini kesini lagi," ucap General Manager perusahaan itu.
Bisma hanya memanyunkan bibirnya seraya memegang kepalanya yang terasa agak sakit karena sambitan barusan.
"Yaelah, Pak. Baru juga nyampe, udah di usir aja," sungut Bisma.
"Kamu itu perusahaan baru seumur jagung udah males-malesan saja. Ndak ngamuk Qian liat kamu kayak gini? Biasanya dia yang paling galak diantar kalian bertiga."
"Emang. Tapi saya juga lagi ngambek," ungkap Bisma.
"Alah, itu mah alasan kamu saja biar bisa pacaran disini," sanggah Rita salah satu karyawan di sana.
"Iya. Bikin orang jadi pengen pindah ke mars aja," sela Bobi si jomblo ngenes di ruangan itu. Karena tubuh nya yang tambun membuat dia sering di tolak cintanya oleh wanita.
Lelah berdebat dengan mereka semua, akhirnya Bisma pun memutuskan untuk pergi dari sana.
"Iya, ya ... Pergi, nih. Bawel banget, sih," rutuk Bisma yang di sambut sorakan yang lain dan tawa si General Manager perusahaan tersebut.
***
__ADS_1
Sesampainya di kantornya sendiri Bisma di sambut tatapan tajam Qian yang kesal karena Bisma pergi terlalu lama.
"Sekali lagi lo pergi-pergi kek gitu. Gue buat lo sama tim lo kerja lembur. Liat aja ntar," ancam Qian geram. Bisma tak banyak bicara lagi langsung menuju ke ruangannya dan mau tidak mau menerima Rendi sebagai rekan kerjanya.
Rendi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Bisma menatap kedatangan Bisma seperti ada yang ingin ia sampaikan.
"Mbim, ada yang mau gue omongin. Bisa kita bicara sebentar?" ucap Rendi segan.
"Ngomong aja buruan. Sebelum Qian ngamuk lagi," jawab Bisma ketus.
"Itu. Aku tau, aku dulu nyebelin. Aku suka ngadu apapun yang kamu lakuin. Kamu jalan sama teman kamu, aku ngadu. Kamu nongkrong nggak sekolah, aku ngadu. Kamu ngerokok, aku ngadu. Sampe kamu di marahin sama mbak Irza. Tapi, Mbim. Sebenarnya aku nggak niat jahat. Aku cuman pengen kamu di rumah, biar kita bisa main bareng. Sebab aku nggak boleh pergi jauh-jauh dan selalu banyak aturan dalam pergaulan. Aku iri sama kamu yang bisa punya motor cross atau jaket Levis, bahkan boleh pulang lewat tengah malam," ungkap Rendi jujur.
"Kenapa lo iri sama kelakuan dajjal gue? Lagian wajar lah lo banyak aturan. Lo mah anak ustadz. Gue anak tak dianggap. Mak sama bapak gue udah sepuh. Cuman gue kesel sama kelakuan lo yang dikit-dikit ngadu. Mirip cewek, tau," seru Bisma ketus.
"Sekarang malah jadi bagian dari tim gue. Gimana gue nggak gedeg," ucap Bisma lagi jujur tanpa saringan.
"Maaf, Mbim. Gua ngaku salah. Gua nggak akan kayak gitu lagi. Gua janji," ucap Rendi bersungguh-sungguh.
Reo yang mengintip dari luar tersenyum melihatnya. Akhirnya sahabatnya itu bisa berdamai juga dengan Rendi dan keadaan.
Dia segera menghampiri Qian di ruangannya. Qian hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Udah. Jangan iseng lagi. Serius lah kerjanya." Mata Qian masih tetap fokus pada layar laptopnya.
"Yaelah. Galak amat sih lu," sungut Reo kesal. "Gue cuman mau kasih laporan. Rendi sama Bisma udah baikan, tuh," lapor Reo bangga.
"Biarin aja. Toh cepat atau lambat juga mereka pasti baikan, kan. Toh mereka kan satu tim. Sekarang lo sibuk kesana-kesini emang kerjaan lo udah beres? Pak Wahid udah nelfon mulu itu nanyain logo produknya yang dia pesan udah selesai belom?" ucap Qian masih tak melepas pandangannya dari laptopnya.
"Udah. Tinggal finishing nya aja lagi," jawab Reo malas dan pergi dari sana.
***
Hari sudah gelap Qian baru bisa pulang. Dia mencoba melakukan olah raga kecil untuk meregangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk seharian.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya, Qian pun turun. Dia terus berjalan menuju basement parkir untuk mengambil mobilnya.
Tanpa Qian sadari ada sepasang mata yang tengah mengintainya. Qian yang sudah cukup lelah terus mengendarai mobilnya keluar dari basement menuju ke kediamannya.
"Hanya dia sekarang yang bisa aku harapkan. Apapun yang terjadi aku harus dekati dia. Dia pasti tidak akan tega kalau aku sudah masuk ke dalam hidupnya. Seperti dulu," bisik seseorang yang tengah memakai Hoodie tebal yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah puas memantau, ia pun beranjak pergi dari sana.
***
Saat sampai Qian langsung membuka pintunya. Dia tidak perlu membuat Vero terjaga lagi untuk membukakannya pintu, karena dia sudah punya kunci serep rumahnya. Itu sengaja Qian lakukan karena dia memang sering pulang larut malam saat bekerja.
Di kamar Qian mendapati Vero tengah tertidur lelap dengan posisi bayi mereka yang masih menyusui padanya tapi ternyata juga sudah tertidur. Qian pun setelah meletakkan barang-barangnya segera menghampiri ibu dan anak itu. Dia membenahi posisi tidur bayi mungil itu dan membenahi pakaian Vero yang terbuka. Ia mengancing kembali baju Vero dan mengecup lembut kening Vero.
Qian menyelimuti keduanya serta mengecup wajah anaknya juga, tercium sangat wangi. Khas bau minyak telon bayi, dan ia kembali menghampiri Vero dan memeluknya dari belakang. Dan masih tak membuat Vero bergeming.
"Capek banget, ya," gumam Qian lembut seraya mengusap kepala istrinya lembut dengan seulas senyuman hangat.
Sebelum tidur ia pun membersihkan dirinya sebentar di kamar mandi. Setelah bersih dan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru, ia pun ikut tidur bersama anak dan istrinya.
Rumi mereka tidurkan di tengah mereka diantara mereka. Mereka memang tidak menempatkan bayi mereka terpisah. Melainkan ikut tidur bersama mereka untuk sementara. Karena Vero masih terlalu lemah.
***
Pagi menjelang. Kesibukan pagi yang merupakan rutinitas keluarga kecil Vero pun di mulai. Sedangkan Qian masih terlelap tidur bersama Rumi di sampingnya. Bayi itu tidur dengan gaya yang sama dengan sang ayah. Ia tidur dengan sedikit memiringkan wajahnya ke samping, hingga membuat Qian dan Rumi berhadapan satu sama lainnya.
Saat Vero masuk dan melihat keadaan itu. Membuat dia gemas dan tersenyum. Ia pun segera menghampiri suaminya.
"Qian, bangun. Ingat, jam 10 pagi ini papa mau berangkat lagi. Ini udah jam 8, kita siap-siap lagi sayang," bisik Vero lembut mencoba membangunkan suaminya itu.
"Hmmm...," desah Qian yang masih separuh terjaga.
"Cepetan. Nanti kita telat, ayok lah. Kamu belum sarapan dan siapa-siapnya pasti lama nanti," ucap Vero sedikit mendesak Qian untuk segera bangun.
"Iya, iya, ya. Ck, ah ...," lirih Qian malas karena masih sangat mengantuk.
__ADS_1