Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Aku Tak Akan Melepaskan Nya


__ADS_3

Alzam segera mengejar Qian saat melihat Qian akan pergi. Mereka pun bertemu di parkiran tepat saat Qian akan mengenakan helm fullface nya.


"Tunggu!" seru Alzam.


Qian yang sudah siap akan pergi pun menghentikan kendaraannya. Dia menatap kedatangan Alzam tanpa membuka helmnya. Jika saja Alzam dapat melihatnya, maka akan terlihat sorot mata tajam yang penuh amarah saat ini menatapnya tak suka.


"Qian! Lepaskan Vero. Kamu tidak akan bisa membesarkan bayi itu. Kamu nanti hanya akan membebani Vero dan anak itu. Kasian mereka. Biarkan aku yang besarkan anak itu. Aki janji, aku tidak akan menyia-nyiakan mereka," pinta Alzam saat mereka sudah saling berhadapan. Qian tersenyum sinis mendengarnya.


"Terserah kalian. Tapi, jangan harap aku akan lupa jika itu adalah anakku," sinis Qian menantang Alzam yang selama ini tidak pernah ia tentang yang masih berada di kendaraannya.


"Apa maksud kamu?" tanya Alzam mulai terpancing melihat keberanian Qian kepadanya.


"Dia mengandung anakku dan kalian semua tidak menganggap itu penting? Dia anakku dan itu tidak bisa kalian ingkari," ujar Qian yang kini sudah membuka helmnya dan turun dari kendaraanya dengan senyuman menantang.


Itu sontak membuat Alzam mengepalkan tangannya bersiap melayangkan pukulannya kepada Qian. Belum sempat kepalan tangan Alzam mendarat di wajah Qian, Qian sudah menangkisnya dengan menahan tangan Alzam dan langsung membalasnya dengan pukulan telak.


Seperti Alzam lupa siapa Qian. Dia adalah pemain jalanan yang sudah biasa dengan kekerasan di jalanan. Dia tidak akan mundur jika di tantang. Dia akan lebih keras jika di lawan.


"GUE MUAK SAMA KALIAN SEMUA!" seru Qian lantang.

__ADS_1


Qian mulai terlihat habis kesabarannya menghadapi mereka semua. Dia melangkah mendekati Alzam. Sepertinya dia sudah tidak perduli lagi jika yang ia hadapi saat ini adalah kakak kandungnya sendiri. Dia akan selesaikan ini dengan caranya jika Alzam terus menantangnya.


Tentu Alzam tidak akan mampu melawan Qian yang memang jago beladiri. Sebelum semua semakin memburuk mereka yang kebetulan ada di sana segera menghentikan pertengkaran tersebut.


"Sudah. Ini rumah sakit. Apa yang kalian lakuin di sini," lerai salah seorang pengunjung yang ada di sana. Dan kebetulan melihat pertengkaran Qian dan Alzam.


***


Di sisi lain, Nenek mulai tersadar dengan selang di mana-mana dan suara lemahnya masih berusaha angkat suara. Dia juga masih berusaha keras untuk bangkit dan menyampaikan sesuatu. Vero yang sedari tadi berada di sampingnya menyambut antusias kesadaran neneknya.


"Nek!" seru Vero dengan tangis harunya.


"Siapa, Nek?" tanya Vero bingung.


"Ayah dari anakmu?" tanya nenek seperti berbisik karena keadaannya yang sangat lemah. Vero terpaku mendengarnya. Dia membeku sesaat. Bingung harus mengatakan apa.


"Di-dia pergi, Nek," sahut Vero akhirnya.


"Cari dia, Vero. Bawa dia kesini. Nenek tidak akan lama lagi, tapi setidaknya nenek bisa pergi dengan tenang, Nak. Jika kamu sudah bersamanya," lirih nenek dengan berlinang air mata. Vero kembali terpaku mendengar pernyataan neneknya. Bagaimana ini. Apa yang harus ia lakukan. Apa yang neneknya ingin lakukan?

__ADS_1


Tapi, yang membuat Vero tak sanggup adalah saat mendengar pernyataan neneknya. Tidak. Nenek tidak boleh meninggalkannya sekarang. Dia masih belum siap. Dia belum siap jika harus kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya sepenuh hati. Ia menggenggam erat tangan neneknya dengan wajah yang basah karena air mata.


"Panggilkan dia Vero. Nenek mohon. Bawa dia kesini," pinta nenek lagi.


***


Vero tidak menunggu waktu lama lagi. Ia Segera mencari keberadaan Qian. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya Vero mendapat kabar jika Qian dan Alzam baru saja berkelahi dan Alzam tengah di rawat karena terluka, sedangkan Qian tengah berada di bangku panjang di sebuah lorong rumah sakit. Kelihatannya dia habis diomeli ibunya.


Qian menatap kedatangan Vero sekilas lalu kembali buang muka. Vero menghampiri Qian dan melihat kemarahan tengah terpancar jelas jelas di wajah Qian saat ini, itu membuat Vero ragu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.


Tapi, dia tidak punya pilihan. Dia harus menyampaikan amanah neneknya sekarang juga, sebelum dia terlambat.


"Nenek nyariin kamu," ungkap Vero.


"Buat apa?" tanya Qian datar.


"Temuin aja dulu. Nanti juga kamu tau."


Qian menatap Vero dan menghela nafasnya panjang. Qian pun bangkit dan melangkah menuju kamar nenek Vero di rawat. Sedangkan Vero mengikuti langkah Qian dari belakang. Ia terus menatap punggung Qian.

__ADS_1


Saat melewati kamar mayat Vero segera mempercepat langkahnya melewati Qian. Qian hanya menatap Vero sekilas dan terus melanjutkan langkahnya.


__ADS_2