Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Terluka Sangat Dalam


__ADS_3

Setelah rapih dan Vero pun sudah siap dengan semua keperluan Rumi selama perjalanan mereka nanti. Bayi berusia 3 bulan itu terlihat nyaman di gendongan sang bunda.


Tapi sesaat Vero tertegun saat melihat tatapan kosong Qian di ranjang dengan pandangan keluar jendela. Vero menghampirinya dan menyentuh bahu Qian lembut. Qian menoleh dan tersenyum seolah ingin menutupi kegalauan hatinya.


"Aku nggak masuk, ya. Aku antar kalian saja," ucap Qian yang seketika sadar dari lamunannya dan segera mengambil sepatunya dan mengenakannya.


Vero tidak langsung menjawab. Ia berfikir sejenak dan menatap Qian dalam. Dia tau, ini bukan waktu yang tepat untuk membantah Qian. Qian pasti tidak nyaman bertemu ibu dan kakaknya.


"Iya. Nggak papa. Biar aku sama Rumi saja yang masuk," ucap Vero akhirnya tak membantah dengan seulas senyuman hangat.


Vero bangkit seraya menggendong Rumi, ia melangkah keluar kamar di ikuti Qian yang menenteng tas bayi yang berisikan keperluan Rumi. Setelah pamit kepada Mama Jill, mereka pun berangkat.


***


Saat akan keluar dari mobil Vero kembali menanyakan Qian.


"Kamu yakin nggak mau keluar?" tanya Vero sekali lagi sebelum dia keluar.


"Iya. Udah lah, ntar kakak ketinggalan pesawatnya," jawab Qian malas. Vero hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


Ia keluar dan menutup pintu mobil seraya membuka payungnya untuk melindungi bayinya itu dari sinar matahari langsung. Dan ia pun mulai melangkah masuk.


***


Di dalam Vero menemui ayah mertuanya, ternyata ia tengah bersama seseorang. Vero terus berjalan mendekat yang ternyata juga menyadari kedatangannya bersama anaknya.


"Pah!" seru Vero memanggil ayah mertuanya itu dengan sopan.


"Hai Vero. Sini, Nak," seru Arial pula seraya menghampiri Vero yang tengah menggendong Rumi. Alzam tersenyum melihat kedatangan Vero, sesaat dia celingak-celinguk mencari keberadaan Qian tapi tak menemukan pemuda itu. Itu artinya Vero sendirian kesana. Anak itu masih saja kekanak-kanakan membiarkan anak dan istrinya pergi sendirian begini ke bandara. Pikir Alzam.


Sesaat Alzam dan Vero saling pandang hingga akhirnya mereka saling lempar senyuman.


"Mama mana?" sapa Vero kepada Alzam, sedangkan Arial tengah sibuk bermain bersama Rumi yang ia gendong dengan hati-hati.


"Dia ada praktek pagi ini, jadi nggak bisa datang," terang Alzam. Vero pun mengangguk paham.


Mereka mengobrol cukup lama hingga akhirnya panggilan keberangkatan Arial pun terdengar, baru lah mereka memberikan salam perpisahan kepada orang tua mereka tersebut.

__ADS_1


Arial dapat pergi dengan tenang sekarang. Dia merasa apa yang ingin ia sampaikan telah ia sampaikan. Sekarang saatnya dia benar-benar membuka lembaran yang baru bersama Lisa. Sekarang dia benar-benar siap menerima Lisa di dalam hidupnya. Bukan sekedar formalitas saja, tapi juga mengasihinya selayaknya seperti yang Lisa impikan selama ini.


***


Setelah selesai mengantar Arial, Alzam dan Vero pun keluar bersama.


"Dimana Qian?" tanya Alzam kepada Vero saat mereka berjalan keluar.


"Ada di mobil. Dia nggak mau keluar," jawab Vero.


Saat sedang asyik berjalan berdua keluar tiba-tiba terdengar seruan seseorang dari belakang.


"Hei Alzam! Ih, beneran Alzam. Tante kira siapa tadi yang jalan keluar bareng anak sama istrinya. Kapan kamu nikah kok tante nggak tau. Tau-taunya udah punya anak aja kamu," seru seorang wanita paruh baya yang sangat jreng gayanya dengan barang-barang super mahalnya.


"Eh, tante Jasmin. Dari mana Tante?" sapa Alzam balik dengan ramah.


"Antar Riki buat ke bandara. Dia kan tugas di Medan sekarang. Kamu ke sini ngapain? Eh, iya ini istri kamu cantik bener, pintar kamu pilih istri ya," serunya lagi yang seketika kembali membuat keduanya kagok. Alzam dan Vero kembali saling pandang.


Tanpa mereka sadari Qian yang sedari tadi terus memperhatikan interaksi keduanya dari kejauhan dengan tatapan tajam tak suka. Apalagi saat melihat Alzam menyentuh kedua bahu istrinya itu. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Yang jelas Qian sangat tak menyukainya.


"Eh Qian kamu ada di sini juga?" sapa tante Jasmine kepada Qian yang baru datang.


"Iya Tante, saya antar ISTRI DAN ANAK SAYA tadi kesini," ungkap Qian penuh tekanan melirik kepada Alzam yang menyunggingkan senyumnya seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Vero.


"Oh, tadi tante kirain istrinya Alzam. Ternyata istri kamu. Cantik, ya. Padahal Alzam yang lebih tua kok kamu belum nikah sih, Zam?" ucap Tante Jasmine yang seketika membuat Alzam tersenyum nyengir tidak tau harus mengatakan apa.


"Mamah. Jodoh itu di tangan tuhan. Mana kita tau siapa yang duluan siapa yang belakangan. Udah ah, bikin mas Alzam salah tingkah aja, Mamah mah," ucap seorang wanita muda di samping si ibu yang sedari tadi diam dan bereaksi saat melihat reaksi tidak enak Alzam.


"Udah ah, Mah. Ayok kita pergi. Papa udah nungguin tuh," seru si wanita muda itu lagi. Mereka akhirnya berpamitan untuk pergi dari sana.


Qian menatap Alzam tajam.


"Lain kali jangan akuin sesuatu yang nggak mampu kamu lakuin," sarkas Qian yang seketika membuat expresi Alzam semakin berubah.


Vero yang menyadari itu segera mencubit pinggang Qian tanda peringatan.


Sedangkan Alzam langsung pergi dari sana tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


"Dia nggak ngakuin apapun. Dia bilang aku adik iparnya, istri adiknya dan ini keponakannya. Kamu jahat banget mulutnya sama dia," geram Vero yang di tanggapi cuek oleh Qian.


***


Alzam masih tampak diam hingga dia berada di rumah sakit. Dia diam di lobby rumah sakit seraya memandang sebuah keluarga kecil yang terdiri dari anak, ayah dan ibu. Mereka tampak tengah menghibur anak mereka yang ketakutan untuk berobat.


Ada seulas senyum dalam terukir dari sudut bibir Alzam. Dia terus memperhatikannya dalam diam. Jesika yang kebetulan ada di sana terus memperhatikan bagaimana ekspresi Alzam tersenyum saat ini.


Dia tersenyum hangat tapi di mata nya terpencar kesedihan yang dalam. Jesika dapat rasakan itu. Sebagai orang yang sedari kecil selalu bersama Alzam membuat dia paham betul bagaimana Alzam.


***


Tidak lama Alzam pun pergi dari sana. Jesika segera mengikutinya dari belakang.


Dia mengikuti Alzam yang masuk ke sebuah ruangan, saat Alzam akan menutup pintu ruangan tersebut, dia menahan pintu ruangan tersebut. Alzam pun dengan cepat menoleh kearah belakangnya. Dan terdiam sesaat menatap Jesika.


"Ada apa? Apa yang terjadi di bandara tadi?" tanya Jesika yang seolah bisa menebak jika terjadi sesuatu antara Qian dan Alzam. Karena jarang mereka berdua bertemu tanpa konfrontasi. Alzam menatap mata Jesika dalam dan tampak sejenak berpikir.


"Tidak ada," jawab Alzam akhirnya.


"Hmmmhh... Yaudah," tutur Jesika tidak ingin memaksa.


Alzam kembali terdiam penuh pertimbangan.


"Aku ... Aku tidak ingin menikah!" ucap Alzam akhirnya, tepat ketika Jesika akan menutup pintu ruangan itu kembali. Saat mendengar pernyataan Alzam, ia pun kembali membuka pintu itu.


"Qian bilang apa?" tanya Jesika lagi dengan lebih lembut.


"Mama sudah tau semua. Dia bersikap dingin, Papa pergi begitu saja seolah juga tidak terlalu peduli, Qian ... Qian ... Entah lah. Rasanya aku kehilangan semua hal," ungkap Alzam yang seketika membuat Jesika ikut terdiam mendengarnya. Alzam tersenyum sinis yang seolah menertawakan dirinya sendiri.


"Kamu sempurna. Kamu tampan, mapan, lembut, bertanggungjawab, berpendidikan dan apalagi? Hanya satu kekurangan kamu merasa sudah kehilangan semua isi dunia ini? Sepicik itukah, Zam? Seserakah itu?" ucap Jesika. Alzam menatap Jesika dalam lalu tertunduk.


"Itu penting. Alasan seseorang bisa hidup, tujuan seseorang untuk bekerja, dan jawaban untuk pertanyaan kenapa seseorang bisa bahagia dan bangga," imbuh Alzam yang seketika menitikkan air matanya.


Jesika tanpa banyak bicara langsung membawa Alzam kedalam pelukannya. Ya, itulah yang Alzam butuhkan saat ini.


Pelukan.

__ADS_1


__ADS_2