
Malamnya Alzam tampak diam termenung di kamarnya. Dia masih memikirkan tentang Vero dan kejadian kemarin. Entah kenapa dia sangat sulit untuk memutuskan sebuah pernikahan. Ada rasa trauma di hatinya jika mengingat bagaimana dulu ayah dan ibunya akhirnya memutuskan untuk bercerai dan sebelumnya mereka selalu bertengkar. Persis seperti hubungannya dengan Vero saat ini.
Mereka sering kali bertengkar karena hal sepele. Itu membuat dia ragu memutuskan untuk menikah. Dia takut gagal seperti orang tuanya, tapi dia juga tidak bisa memutuskan hubungan mereka. Karena Vero adalah wanita pertama yang Alzam pacari secara serius. Apalagi ada alasan lain yang tak bisa ia ungkapkan yang menambah berat untuk Alzam putuskan sekarang.
Alzam selama ini selalu sulit menjalin hubungan pacaran sekalipun. Dan akhirnya dia bisa berpacaran dengan Vero selama 3 tahun belakangan ini, itu sesuatu yang berat untuk ia putuskan. Karena itu dia tidak mudah untuk mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
Sekarang dia kembali memikirkan hubungan mereka. Dia mencoba menghubungi Vero kembali. Beberapa kali panggilan Vero tetap tidak mau mengangkatnya. Sepertinya Vero masih marah kepadanya.
"Yaudah, deh. Besok aku ketempat kerjanya saja," putus Alzam dan beranjak dari posisinya keluar kamar. Dia menuju ruang makan keluarga.
Di sana sudah ada ibunya yang tengah menyiapkan makan malam mereka bertiga.
"Qian mana, Mah?" tanya Alzam tentang keberadaan adiknya tersebut.
__ADS_1
"Di kamar. Belum Mama bangunin, tadi katanya mau tidur dulu habis capek perjalanan jauh. Kamu bantu Mama bangunin dia gih," perintah ibunya. Alzam pun segera menuju kamar adiknya.
Alzam membuka perlahan pintu kamar itu. Sudah lama ia tidak mengunjungi kamar Qian. Kecuali saat dia merindukan Qian. Aroma parfum Qian mulai tercium olehnya. Aroma yang sangat maskulin, tajam sesuai dengan kepribadian Qian yang keras dan suka frontal saat bicara.
Dia melihat ke sekeliling kamar tersebut. Dia mendapati adiknya tengah tertidur lelap dengan gaya telungkup. Mungkin dia benar-benar kelelahan di perjalanannya tadi hingga membuat tidurnya terlihat begitu nyenyak.
Kian mendekat secara perlahan.
"Qian! Qian! Qiaaan," seru Alzam berusaha membangunkan adiknya itu.
"Mama ngajak makan malam," ujar Alzam lagi saat Qian sudah mulai tersadar dari tidurnya. Qian mengangguk seraya mengucek-ngucek matanya. Dia menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci mukanya sebelum ikut Alzam menuju meja makan.
***
__ADS_1
Di meja makan sudah tersedia makanan kesukaan Qian dan Alzam. Sudah lama Maya tidak masak banyak menu seperti ini. Biasanya dia hanya akan masak makanan untuk dia dan Alzam saja. Tapi hari ini dia memasak untuk Qian juga.
"Bunda Retno mana, Mah?" tanya Qian yang sedari tadi tidak melihat pengasuhnya itu.
"Dia sudah pulang kampung. Katanya dia udah kangen kampungnya dan pengen menetap di sana," terang Maya. Ada rasa sedih di hati Qian mendengar berita tersebut. Biasanya dia lebih manja dengan pengasuhnya itu di bandingkan dengan ibunya.
"Mah, motor aku kan udah rusak di gudang habis jatuh dulu nggak di baikin, lagian udah lama juga di gudang. Kayaknya udah nggak bisa di pakek lagi," ucap Qian hati-hati. "Mah, beliin aku motor baru, donk. Aku pengen kemana-mana susah kalo nggak ada motor," lanjut Qian lagi dengan senyum penuh harap.
Maya tampak berpikir sejenak sebelum mulai bicara.
"Bukannya Mama nggak mau beliin, tapi Mama lagi nggak punya uang, Qian. Mama habis renov rumah sama beliin mas kamu mobil. Belum juga 1 bulan. Jadi, kamu motornya nanti dulu, ya jangan sekarang," pinta Maya. Qian walau kecewa, dia berusaha memahaminya. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka tanpa obrolan apa-apa lagi.
***
__ADS_1
Selesai makan malam, Azam pun meminta izin untuk keluar sebentar. Tidak lama Qian pun pergi. Kini hanya tinggal Maya yang di rumah sendirian.