
Saat Maya kembali ke meja makan dia mendapati Qian tengah menikmati sarapannya dengan gaya kusut khas baru bangun tidur.
"Jam berapa kamu pulang semalam?" selidik Maya.
Qian sesaat membeku saat menyadari ibunya ternyata belum pergi bekerja.
'Mampus' batin Qian mulai panik. Dia tidak mungkin bisa menyembunyikan keadaan nya. Walau lukanya sudah mulai membaik tapi tetap saja luka gores di wajahnya masih bisa terlihat. Benar saja, Maya langsung mendekat saat melihat ada yang aneh dengan wajah putranya itu.
"Muka kamu kenapa?" tanya Maya heran seraya menyentuh wajah putranya itu dan memutar-mutar wajah Qian dengan penuh selidik. Ibunya mulai curiga saat melihat keadaan wajahnya.
"Berantem lagi?"
"QIAN! Kamu ini kapan benernya sih? Kamu itu bukan anak kecil lagi. Nggak malu apa? Orang-orang seumuran kamu itu udah pada kerja dan punya penghasilan. Nah kamu. Masih sibuk sok jagoan kayak gini," omel Maya membuat semangat pagi Qian menjadi buyar.
"Bukan aku yang mulai, Mah," kilah Qian malas masih menikmati susu hangatnya.
"Nggak penting siapa yang mulai. Yang penting kamu jangan suka berantem kayak gini lagi. Mama pusing liat kelakuan kamu dari dulu nggak pernah bisa berubah. Yaa Allah Qian," keluh Maya mulai lelah dengan tingkah putranya.
__ADS_1
"Makanya beliin aku perlengkapan buat desain. Nanti aku bisa freelance dari rumah. Jadi nggak keliaran lagi,"
"Percuma. Paling nanti juga nggak kamu pakek,"
"Mama suka gitu. Kalo aku yang mintak selalu ada alasannya, kalo mas Alzam pasti langsung di beliin," tukas Qian yang langsung pergi meninggalkan ibunya.
"Qian! Kamu mau kemana? Mama belum selesai ngomong," seru Maya. Bahkan Qian belum menghabiskan sarapannya.
"Malas! Mama nyebelin," ucap Qian yang langsung menaiki anak tangga cepat menuju kamarnya di lantai atas.
***
Di sisi lain ada Alzam yang tengah menemui seseorang. Seorang wanita cantik yang sangat anggun dengan gaya berkelasnya dengan seragam kerjanya yang menunjukkan posisinya yang cukup mapan saat ini. Memang pada kenyataannya wanita ini cukup sukses dengan karirnya di sebuah hotel berbintang.
Dia lah kekasih Alzam saat ini. Veronica. Wanita yang selama ini menjalin hubungan bersama Alzam dan mereka masih belum terbuka perihal hubungan mereka di depan publik. Ini pula lah masalahnya.
Vero mulai jengah dengan sikap Alzam yang tak kunjung mau mengenalkannya kepada orang tuanya. Padahal dia sudah tidak muda lagi. Sebentar lagi dia akan menginjak usia 30 tahun. Tentu bukan usia yang tepat untuk menunggu tanpa kepastian lagi.
__ADS_1
"Bukan aku nggak mau kasih kamu keputusan sekarang. Tapi, minggu depan aku ada kerjaan keluar kota. Mungkin aku di sana selama kurang lebih 3 bulan. Kasih aku waktu lagi. Sumpah, aku nggak bermaksud cari-cari alasan. Percayalah, Vero," ungkap Alzam meminta pengertian dari kekasihnya ini untuk kesekian kalinya.
"Kamu pergi sama siapa kesana?" selidik vero. Alzam tampak ragu untuk memberitahunya. Itu membuat Vero semakin curiga. Dia mulai menatap Alzam curiga penuh selidik.
"Sa-sama Jesika," terang Alzam ragu.
Vero menatap Alzam tidak percaya. Alzam akan pergi dengan wanita yang tidak Vero suka. Pasalnya Jesika selama ini memang tampak selalu ingin mendekati Alzam.
"Hah. Terserah," tukas Vero. Dia segera bangkit dari posisinya bersiap untuk meninggalkan Alzam.
Untuk kesekian kalinya dia harus kecewa dengan sikap Alzam yang tidak bisa mengimbangi perasaannya lagi dan lagi.
Alzam tidak bisa berbuat banyak. Dia tau bagaimana pun dia berusaha menjelaskan semua kepada Vero, pasti Vero tidak akan mau menerimanya.
"Aku mau kita putus. Aku nggak bisa menjalin hubungan kayak gini lagi, Zam."
Alzam tidak percaya Vero akan memutuskan hubungan mereka begitu saja. Bahkan dia tidak di beri kesempatan lagi untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1