
Qian mendapat telpon dari Una. Dia meminta Qian untuk menemuinya di taman yang tidak jauh dari komplek perumahan mereka.
Di sana sudah ada Una yang tampak tengah duduk menunggunya di bangku taman. Qian mendekat dengan langkah pelan. Sesaat Una menyadari kedatangan Qian, ia menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Qian, Qian pun membalas ikut tersenyum dan duduk di bangku yang sama dengan Una.
"Aku mau pergi." sontak pernyataan Una barusan membuat Qian kaget dan menoleh cepat. "Tadi pagi aku ke rumah, eh, malah di marahin mama kamu. Mama kamu resek. Kan kita nggak ngapa-ngapain. Curiga aja bawaannya," adu Una yang terdengar lucu di telinga Qian.
"Kapan kamu pergi?" tanya Qian terdengar ada kesedihan di sana.
"Kamu sedih aku pergi?" tanya Una seraya tersenyum usil.
"Nggak juga. Berarti nggak ada yang bangunin aku pagi-pagi lagi, kan," jawab Qian tidak mengakui.
"Kamu pasti kangen aku nanti, kan aku jadi pengikut kamu dari TK. Dari kamu belain aku di ganggu anak nakal aku udah suka sama kamu. Makin kesini aku makin suka. Apa kita beneran bisa nikah suatu saat nanti?" ungkap Una polos.
__ADS_1
"Nggak ah. Bosen. Kita sering mandi ujan bareng, makan bareng, tidur juga sering bareng, 17 tahun, eh nggak deh, 18 tahun kita bareng terus kamu tempelin aku terus. Bosen. Aku mau cari perempuan yang lebih tua aja buat nikah. Biar nggak manja, nggak suka ngerepotin kayak kamu," ungkap Qian.
Una hanya tertawa mendengarnya. Dia menyukai gaya bicara Qian yang tanpa beban terhadapnya dan selalu menolaknya melalui ucapan tapi selalu hangat saat bersamanya.
"Aku pergi sekitar 2 atau 3 tahun. Tergantung keadaan. Kalo aku kangen nggak tahan. Aku pulang dan aku tinggalin El di sana. Anggap aja kepergian aku ini buat buang El. Nanti kalo El udah aku buang, aku balik lagi kesini." Qian tertawa mendengar pernyataan lugu Una.
Una sangat marah saat tau El membawa teman-temannya untuk mengeroyok Qian. Dia bahkan mengamuk habis-habisan di rumah. Menghancurkan semua barang-barang El. Lalu memfoto kamar El yang super hancur kepada Qian. Dengan caption 'Balas Dendam' saat menerima pesan tersebut Qian tidak henti-hentinya tertawa.
Una adalah satu-satunya orang yang memihak nya selama ini. Kehilangan Una sebenarnya sangat berat bagi Qian. Bagaimana bisa dia baik-baik saja kehilangan orang yang menyayanginya secara tulus.
Una menatapnya dalam. Tiba-tiba sebuah ciuman hangat mendarat di wajah Qian. Seketika membuat wajah Qian memerah malu sekaligus kaget. Qian menyentuh wajahnya yang barusan di cium Una dan mengelapnya. Una malah tertawa keras melihat reaksi lucu Qian.
Seharian mereka jalan-jalan bersama. Qian mengantar Una pulang saat hari mulai sore. Tepat saat El melihat kedatangan Qian. Tapi dia tidak melakukan apapun. Dia hanya melihat sekilas lalu masuk ke rumah besar miliknya seolah tidak melihat kedatangan Qian.
__ADS_1
"Eh ada Qian! Dari mana tadi sayang?" sapa Ibunda Una ramah. Qian hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Ibunda Una.
"Dari jalan-jalan, Mah," jawab Una.
"Om sama Tante mau pindah, ya?" tanya Qian.
"Iya. Una yang cerita, ya? Nggak lama. Hanya sampe bisnis Papa Una beres disana. Setelah itu kita balik lagi kesini. Paling 1 atau 2 tahunan. Tapi Marvel nggak mau pergi kalo Una nggak ikut. Makanya Una jadinya juga ikut. Kalo dia sama Marvel disini berdua yang ada ribut terus mereka," terang Ibunda Una. Qian hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Eh iya. Una cerita katanya marvel ganggu kamu, ya? Aduh Tante jadi nggak enak. Maaf in anak Tante, ya. Kemaren juga sudah di tegur ayahnya sama Una dia," terang Kinan lagi tidak enak hati.
"Udah nggak papa kok, Tante," jawab Qian kikuk.
"Aduh, Marvel sering banget ribut sama kamu, ya," ungkap Kinan lagi.
__ADS_1
"Iya, Mah. Marvel resek sama Qian," adu Una. Qian hanya tersenyum kecut mendengarnya.
Setelah itu Qian pun berpamitan kepada ibunda Una yang memang sangat ramah terhadapnya. Dia juga sangat menyukai Qian sama seperti Una. Tapi, rasa sukanya hanya sebatas ibu dan anak. Dia sangat menyukai sikap Qian yang baginya sangat menarik dan selalu menjaga Una dengan baik.