
"Bagaiman kabar Vero?" tanya Maya basa-basi.
"Baik," jawab Qian singkat.
Tidak lama terdengar seseorang kembali memanggil Qian. Qian pun segera meninggalkan Maya. Maya menatap Qian yang kelihatannya pekerjaan yang ia pilih kali ini cukup melelahkan.
Saat Qian selesai melayani pelanggan tersebut. Maya pun kembali menghampiri Qian. Dan mengajak Qian bicara di sebuah lorong di restoran tersebut. Awalnya Qian menolak, hingga akhirnya ia pun mengikutinya.
"Datanglah ke rumah sakit. Kamu bisa kerja di sana. Ada bagian office yang kosong," lirih Maya lembut.
"Jangan kasihani aku. Jangan hina aku lagi. Aku bekerja bukan untuk diri aku sendiri tapi untuk keluarga. Jadi biarkan aku bekerja dengan tenang," lirih Qian dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Maya tertegun melihat reaksi putra nya ini.
"Tak perlu memberitahu kumbang, bagaimana manisnya nektar bunga. Kumbang cukup tau diri jika yang di tunggu bunga hanya lebah yang terbang." Maya semakin tertunduk mendengar pernyataan putranya. Dulu dia sempat menghina Qian dengan mengatakan lebah dan kumbang, dan sekarang Qian menjawab itu. Air mata Maya tumpah tak tertahan, terduduk lunglai di lantai. Sedangkan Qian sudah pergi dari sana meninggalkannya.
sepertinya Qian salah paham dengan kata 'office' dia pasti mengira nya adalah office boy. Padahal yang Maya maksud adalah bagian management kantor rumah sakit.
__ADS_1
***
Selesai dengan acara tersebut. Merly kembali memanggil waiters. Beberapa kali dia mengkode memanggil Qian. Tapi Qian tampak sengaja mengabaikannya. Dia benar-benar tidak ingin dikasihani.
Dia tidak ingin menerima belas kasih yang seperti ini. Dia tahu betul, Merly pasti akan memberi bayaran bill yang berlebih, dan Qian tidak ingin menerima itu. Dia sengaja membiarkan rekannya yang lain yang menanganinya.
"Dia menghindari kita!" gumam Merly. Maya kembali menatap putranya itu.
***
Selesai semua Qian di hampiri rekannya.
"Ambil saja. Itu buat kalian," jawab Qian datar seraya bersiap untuk pulang. Ia pun berlalu begitu saja. Wayan jadi bingung, mau di kemanakan uang segepok ini.
"Udah. Keknya Qian punya masalah dengan geng ibuk-ibuk tadi. Tadi aku liat salah satu ibuk-ibuk itu bahkan nangis waktu ngomong sama Qian," terang salah satu rekannya yang lain dan kebetulan melihat obrolan Qian dan ibunya saat di depan toilet. Wayan pun mengangguk paham. Ia menatap punggung Qian yang kian menjauh.
***
__ADS_1
Saat baru sampai Qian di sambut oleh Vero dengan perasaan bahagia. Vero yang sudah hafal dengan suara kendaraan Qian langsung membuka pintu tepat saat Qian baru masuk pekarangan rumah mereka.
Dan seperti biasa, Qian selalu membawa sesuatu untuk Vero saat pulang. Vero menyambutnya dengan pelukan hangat. Tanpa Vero duga Vero malah melihat mata Qian yang tengah berkaca-kaca.
"Kenapa sayang?!" lirih Vero mendekat dan matap wajah Qian dengan kedua tangannya yang menangkup wajah suaminya langsung. Sesaat Qian dapat rasakan kehangatan dari telapak tangan lembut Vero. Tapi dia tidak ingin membuat Vero khawatir.
"Aku kangen kamu, Kak," lirih Qian dengan mata manjanya. Vero tersenyum walau dia tau Qian seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Bukan itu yang membuat Qian sendu, pasti sudah terjadi sesuatu di tempat kerjanya. Vero yakin itu. Tapi, dia tidak akan memaksa Qian untuk bercerita jika dia tidak mau.
***
Mereka pun masuk rumah menuju kamar mereka. Vero melihat kelelahan yang terlihat jelas dari Qian saat ini. Dia mendekat dan memeluk tubuh Qian yang tengah menggantung Hoodie nya. Dia menyerap aroma tubuh Qian, bau parfum yang sangat maskulin khas Qian. Qian pun membalikkan tubuhnya. Ia menatap mata indah Vero seraya menyeka rambut Vero kebelakang telinganya.
"Capek, ya?" tanya Vero mengusap wajah Qian yang terlihat lelah.
Qian mengangguk pelan dengan seulas senyum tipis.
"Tadi iya, capek banget rasanya. Tapi waktu pulang liat kakak, capeknya mendadak hilang," jawab Qian lembut. Vero pun kembali tenggelam ke pelukan Qian.
__ADS_1
Ini lah yang membuat Qian bisa setegar ini saat ini. Vero. Dia seperti penyemangat yang sangat mujarab bagi Qian.
Pada akhirnya dia hanya butuh tempat untuk pulang.