
Vero mulai bekerja di depan meja resepsionis lagi bersama Mika. Mika merasa tidak tega dengan keadaan sahabatnya itu. Dia tampak tidak sanggup untuk berdiri, tapi tetap memaksakan dirinya untuk tetap bekerja.
"Udah, Ver. Duduk aja. Biar aku yang terima tamu. Kamu istirahat," ujar Mika khawatir. Vero mengangguk seraya tersenyum.
Tidak lama mereka kedatangan salah satu tamu hotel dengan sebuah handuk di tangannya. Ia melempar handuk tersebut begitu saja ke wajah Vero. Vero yang kaget mencoba untuk tenang menghadapinya.
"Mbak! Gimana sih, masak handuk di kamar saya bau apek, sih. Itu handuk di cuci apa nggak sih," keluh tamu hotel tersebut. Seorang wanita cantik dengan gaya menor yang mengenakan make-up tebal dan baju seksinya yang memperlihatkan sebagian dari tubuhnya dan lekuk tubuhnya yang sintal menggoda.
Komplein seperti ini adalah sesuatu yang sering Vero dan Mika hadapi. Sebenarnya itu bukan bagian dari tugas mereka, tapi kepada mereka lah para tamu sering mengeluh.
"Baik, Buk. Nanti akan kami sampaikan kepada HK kami. Mohon bersabar sebentar ya, Buk," ujar Vero ramah. Karena kebetulan saat itu Mika tengah tidak ada di sana. Dia tengah ke toilet.
"Ya saya butuhnya sekarang, Mbak. Masak saya harus tunda mandinya. Ini saya sebentar lagi ada pertemuan dengan klien saya. Saya maunya handuk yang baru sekarang juga, tidak bisa nunggu lagi." Kelihatannya ini adalah salah satu tamu yang sulit untuk Vero tangani hari ini.
"Mohon tunggu sebentar ya, Buk. Kami coba hubungi HK kami sebentar."
Vero tetap mencoba untuk tenang walau dia sudah mulai tidak tahan. Rasa pusing dan mual-nya mulai membuat dia merasa panas dingin, keringat mulai bercucuran di dahinya. Sedangkan si tamu masih sibuk dengan ocehan komplenannya.
__ADS_1
Vero mencoba untuk tetap kuat walau sebenarnya dia mulai merasa melayang-layang. Dan di detik selanjutnya.
BUKKK...
Tubuh Vero ambruk seketika dan Vero tidak ingat apapun lagi.
***
Perlahan mata Vero mulai terbuka. Walau terasa sangat berat Vero berusaha untuk terjaga. Saat terjaga wajah yang pertama Vero lihat adalah sosok yang sangat Vero kenal. Pria tampan yang berperawakan bersih dengan kaca matanya yang memberi kesan berwibawa dan tenang.
"Vero! Kamu sudah sadar?" tanya Alzam lembut seraya menggenggam tangan Vero. Vero mulai mengumpulkan kesadarannya, ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
"Rumah sakit. Tadi kamu pingsan," jawab Alzam lagi.
Seketika Vero merasa jantungnya berhenti untuk berdetak untuk sesaat. Vero takut keadaanya yang sebenarnya akan di ketahui oleh semua orang, apalagi oleh Alzam. Mau di taruh di mana wajahnya saat ini. Atau lebih parah, dia akan di pecat dari pekerjaannya karena hal ini.
Oh, tidak. Vero hanya bisa berharap, semoga dia tidak di periksa terlalu detail, kalau sampai mereka mengetahui semuanya bisa habis dia.
__ADS_1
"Vero!" panggil Alzam yang seketika membuyarkan lamunan Vero.
"Kamu hamil? Tadi katanya kamu hamil. Sudah 3 minggu," terang Alzam yang seketika membuat Vero tak bergeming.
"Aku belum telfon nenek," terang Alzam. Mendengar penuturan Alzam, Vero bisa bernafas sedikit lega. Alzam belum mengadukan semua kepada nenek, tapi cepat atau lambat nenek pasti akan tau semuanya nanti.
"Maaf, Vero. Apa ... Kamu ... Sudah menikah?" tanya Alzam, dia yakin jika Vero belum menikah. Tapi bagaimana dia bisa hamil. Vero bukan tipikal wanita murahan. Selama mereka berpacaran dulu, tidak sekalipun Vero menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita gampangan.
Vero menggeleng pelan dengan wajah ragu. Seketika wajah Alzam berubah kaget saat mendapat jawaban dari Vero.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada Vero saat ini. Sekarang Alzam yakin jika Vero dalam masalah besar bersama kekasihnya yang saat ini.
Alzam mengangguk paham.
"Tidurlah. Kau harus banyak beristirahat. Aku tidak akan mengatakan ini kepada siapapun," ucap Alzam. Vero menatap Alzam lekat-lekat. Apa katanya barusan? Apa dia berusaha melindunginya? kenapa? Bukannya ini kesempatan bagus untuk pria ini balas dendam? Ah sudah lah, dia terlalu pusing untuk berpikir saat ini.
Akan tetapi ini membuat Vero merasa tenang sekaligus bersalah. Dia diam tidak mampu mengucapkan sepatah katapun kepada Alzam.
__ADS_1
Saat Vero telah tertidur, Alzam membenahi selimut yang menyelimuti tubuh Vero. Lalu bangkit dan keluar dengan langkah perlahan dari ruangan tersebut.