Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Log-in, Log-out


__ADS_3

Stress dengan pemecatannya barusan, Qian pun mengajak Reo dan Bisma untuk mengobati sakit hatinya.


Mereka berkumpul di sebuah kafe dan duduk di bangku outdoor dengan pemandangan jalanan kota langsung.


Tampak jalanan ramai yang memang sedang sibuk-sibuknya karena masih waktu jam kerja. Qian pun menceritakan tentang pemecatannya kepada dua sahabat karibnya ini.


Reaksinya seperti sudah Qian tebak. Apalagi jika bukan ditertawakan. Tidak apa-apa, itu cukup menghibur Qian walau harus menahan perasaan kesal juga.


"Ya elah, baru aja masuk. Udah berhenti secara tidak hormat aja lo," komentar Reo dengan melempar tawanya.


"Log-in, log-out," sela Bisma dengan tawa keras menertawakan kesialan sahabatnya ini bersama Reo yang di sambut tos-an dari Reo dan di iringi dengan tawa yang semakin kencang dari keduanya. Sedangkan Qian hanya terdiam dengan tatapan gusar.


Dia bingung harus menjelaskan apa kepada Vero nanti. Dia menggaruk-garuk tubuhnya yang tidak gatal dengan kasar hanya sekedar untuk meluangkan emosinya saat ini.


"Siap-siap aja lo ribut sama bini lo di rumah ntar," imbuh Bisma yang membuat Qian makin gusar. Dia berdecis dan mendekap wajahnya di meja.


"Drama rumah tangga pun dimulai!" ledek Bisma lagi. Tapi Qian tak menyahut. Dia masih dengan tafakurnya di dekapan meja.


Bisma dan Reo mulai kasihan dengan nasib sahabatnya ini. Sepertinya Qian benar-benar tengah kacau, sudah tidak bisa menanggapi candaan mereka yang biasanya akan Qian tanggapi dengan ringan. Dia pun menepuk pundak Qian memberi Qian dukungan.


"Sabar, Bra. Ntar pasti ada tante-tante yang bisa lo porotin buat kaya raya," celetuk Bisma lagi.


"Biar gue bantu lo cari duit. Muka ganteng itu emang musti di manfaatin dengan baik." Bisma pun berdiri mengeluarkan handphonenya dari saku celana dan mulai ambil posisi. "Sini gue foto buat masukin mechat," ucap Bisma lagi bersiap dengan kameranya.

__ADS_1


Cekrek...


Satu foto Qian berhasil Bisma ambil dari Qian yang tengah menidurkan wajahnya di meja.


"Widiiiihhh... Gantengnya anak dokter Maya," seru Bisma.


Itu sontak membuat Qian bangkit dari posisinya dan bersiap akan mencekik Bisma.


"Sini lo brengsek!" rutuk Qian mulai tidak tahan dan Bisma pun dengan cepat segera kabur, sedangkan Qian segera di tahan oleh Reo.


"Udah, udah. Bisma lo ladenin. Mending lo mikirin cara dapat kerjaan baru lagi," cegah Reo yang mulai masuk mode bisa di ajak bicara.


"Dari tadi, kek," pekik Qian kesal.


Begitulah gaya kebersamaan mereka. Selalu ada di saat teman membutuhkan walau terkadang selalu terjadi keributan setelahnya.


***


Qian sengaja mengulur waktu untuk bisa pulang sore. Dia tidak ingin memberitahu Vero perihal pemecatannya hari ini. Benar kata Bisma, log-in lalu langsung log-out itu memalukan.


Mendengar suara motor Qian yang sudah terdengar dari kejauhan, Vero pun segera bangkit dan membuka pintunya.


"Kamu sudah pulang?" sapa Vero manis dengan daster panjangnya khas pakaian ibu hamil. Qian hanya tersenyum seraya membuka helm fullface nya dan menyerahkan sebungkus makanan untuk Vero. Vero menyambutnya dengan antusias dan mereka pun masuk rumah.

__ADS_1


Qian langsung menuju kamarnya dan membuka pakaiannya bersiap akan membersihkan diri lagi. Karena kamar mandi yang terpisah dari kamar, Qian pun harus keluar menuju ruang belakang di samping dapur di situlah kamar mandinya.


Satu hal yang Qian tidak sukai dari rumah ini. Yaitu toiletnya yang merupakan toilet jongkok. Dan Qian tidak bisa menggunakan toilet jongkok, apalagi kamar mandi yang selalu basah membuat Qian selalu risih dan selalu menggunakan sendalnya saat ke kamar mandi.


Vero menyadari itu, setiap akan ke toilet untuk BAB Qian pasti akan keluar dan entah kemana. Walau Qian tidak pernah menceritakan tentang kerisihannya Vero tetap tau dari gelagat Qian saat ke kamar mandi.


Padahal kamar mandi di kediaman Vero sudah full keramik dan cukup bersih, tapi Qian tetap tidak bisa karena menggunakan toilet jongkok dan basah.


Vero melihat Qian yang baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan seutas handuk yang melilit di pinggangnya hingga lutut.


Tubuh Qian cukup atletis, karena dia masih sering menghabiskan waktu untuk fitness atau hanya sekedar bermain futsal, dan minimal hanya sekedar joging pagi di sekitar lapangan bola di depan rumah mereka di seberang jalan.


"Hmmm ... Qian! Gimana kalo kita bikin kamar mandi di kamar. Aku liat kamu sering keluar kalo mau ke toilet. Apa kamu nggak bisa pakek toilet jongkok?" tanya Vero dengan hati-hati. Qian yang baru selesai mengenakan pakaiannya pun membalik tubuhnya seraya menutup kembali pintu lemari pakaian.


Dia duduk di samping Vero.


"Sebenarnya sih risih. Sebab nggak ada shower jadi air di bak keliatan terpapar sama bekas sabun, dan toilet nya juga toilet jongkok. Tapi, mungkin karena aku belum terbiasa aja, Kak. Nanti kalo udah biasa juga nyaman sendiri," ungkap Qian tidak ingin mempermasalahkannya.


"Nggak papa, kita bikin toilet di kamar aja. Kan sekalian buat kita juga," ungkap Vero.


"Kan kita masih ada sedikit tabungan," ungkap Vero lagi.


"Terserah Kakak mana baiknya saja." Qian tidak banyak membantah lagi, dia menyerahkan semua keputusan kepada Vero

__ADS_1


__ADS_2