Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Dilamar


__ADS_3

Akhirnya Qian bisa selesaikan semua, setelah beberapa minggu berkutat dengan kekacauan yang ada. Dan hari ini semua terselesaikan dengan baik. Sesampainya di kediamannya alias kosan Reo, Qian dengan cepat segera berkemas bersiap untuk pulang.


Terus terang itu membuat Reo merasa sedih karena itu artinya dia tidak punya teman lagi. Reo menatap sendu Qian yang tengah beres-beres dengan wajah yang terlihat berseri-seri, berbanding terbalik dengan yang Reo rasakan saat ini.


"Mau langsung pulang? Tungguin gue wisuda lah bentar lagi, bray," mohon Reo. "Bima kan sekalian dia juga wisuda. Ntar lo nggak kesepian lagi kalo kita balik bareng," bujuk Reo lagi.


Qian tidak menjawab, dia terus membereskan semuanya.


"Qian! Gue berasa di tinggal bapak tugas, nih. Nggak rela gue lo pergi!" seru Reo lagi.


Tapi tetap tidak ada reaksi dari Qian yang tampak tetap sibuk dengan kegiatan beres-beresnya. Mulai habis kesabaran Reo menghadapi Qian yang sedari tadi terus mengacuhkannya. Ia memicingkan matanya, mengumpulkan keberaniannya untuk sesuatu yang besar dan bahaya yang akan ia ucapkan.

__ADS_1


"ANJING! lo dengerin gue nggak sih," amukan Reo seketika membuat Qian menghentikan kegiatannya dan mengangkat wajahnya menatap Reo tajam, Reo yang di tatap balik mulai terlihat pucat pasi, ia dengan susah payah berusaha meneguk ludahnya sendiri, ia mulai merasa ketar-ketir melihat tatapan elang si Qian yang terkenal sangat menakutkan saat marah.


"Nggak gue bunuh aja lo udah bersyukur. Tiga minggu gue di sini urus kegoblokkan lo. Ngerti lo!" ucap Qian tajam.


Reo pun seketika nyali nya kembali ciut. Pria berkulit coklat dengan lesung pipinya itu tampak tidak berani membantah lagi. Dia sibuk memainkan kukunya seraya menggigitnya seperti anak kecil yang habis di omeli ibunya.


***


"Mama sih setuju saja. Toh, kalian yang tau mana yang terbaik. Mama cuman bisa restui saja. Bagaimana nanti kalian atur saja, ya," ungkap Maya merestui. Membuat Vero dan Alzam tersenyum bahagia mendengar lampu hijau yang Maya berikan. Alzam menggenggam tangan Vero bahagia.


Akan tetapi kebahagiaan Alzam berbanding terbalik dengan Vero. Dia masih merasa ragu dengan keputusan nya ini. Mana mungkin hatinya bisa begitu mudah berbalik arah dari lelaki yang telah ia serahkan segalanya kepadanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Alzam mengeluarkan sebuah kotak hitam bludru yang tampak mewah. Maya tersenyum melihat apa yang di lakukan putranya. Ia tahu betul, Alzam akan melamar Vero saat ini.


Tatapan Vero saat ini tak dapat di artikan. Hanya ada senyum tipis yang samar di wajahnya.


Dia menatap kotak kecil itu dengan tatapan hampa, masih ada ruang tak ikhlas di hatinya. Masih ada nurani yang berkata nanti dulu. Tapi, tidak mungkin ia lakukan saat ini, karena di sini ada ibunda Alzam yang menyaksikan semua. Vero tidak ingin wanita yang baru pertama kali ia temui itu akan melihat hal yang tidak mengenakan di kesan pertemuan pertama mereka.


Alzam bersimpuh di hadapan Vero.


"Maukah kau menjadi istriku, Veronica Ariana?" Vero hanya tersenyum.


Alzam pun meraih tangan Vero dan mulai menyematkan cincin kejari manis Vero. Seketika air mata Vero pun menetes tanpa ia ketahui alasannya. Vero dengan cepat menyekanya dan menutupinya dengan senyum seraya terus menyeka air matanya. Alzam yang tidak tega segera memeluk Vero.

__ADS_1


Vero terisak di dalam pelukan Alzam, sedangkan maya yang tidak tau apa-apa hanya bis tersenyum bahagia. Melihat kebahagiaan dua sejoli tersebut.


__ADS_2