Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Berdamai


__ADS_3

Sebelum pergi, Qian melakukan check-out terlebih dahulu. Setelah check-out Qian tidak sengaja melihat Vero yang tengah bertugas. Qian pun memanggilnya untuk memberi tahu perihal kepergiannya.


"Udah baikan?" tanya Vero dengan senyuman manisnya. Qian menautkan alisnya bingung akan tujuan pertanyaan Vero barusan.


"Udah mau pulang, apa kamu udah baikan?" tanya Vero memperjelas pertanyaannya.


"Kakak aku mau berangkat tugas, Kak. Mama sendirian di rumah. Kasian," jawab Qian dengan seulas senyum ramah.


Entah kenapa dia menjadi sangat sopan saat berhadapan dengan Vero. Mungkin karena dia merasa telah berhutang budi banyak terhadap vero membuat dia segan tehadap Vero.


Vero mengangguk paham. Setelah itu Qian pun pergi meninggalkan Vero yang masih belum beranjak dari posisinya menatap Qian yang terus menjauh.


Sesaat Vero menyadari sesuatu yang ia lupakan.


"Eh, Qian! Tunggu!" panggil Vero yang berhasil membuat Qian menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara. Tampak Vero yang dengan langkah cepat menuju Qian.


"Boleh minta nomer handphone kamu? Kita kan sudah sering ketemu, tapi nggak begitu kenal. Kali aja kita bisa temenan, kan," ujar Vero memaparkan alasannya.

__ADS_1


Qian tersenyum lalu menyebutkan nomer telfonnya langsung. Vero pun segera menyimpannya dan melakukan panggilan ke nomer yang di sebut Qian barusan. Hingga handphone Qian berdering.


"Itu nomor handphone aku. Di save, ya," ujar Vero. Qian pun melihatnya dan langsung menge-save nomer tersebut. Setelah itu mereka pun benar-benar berpisah. Vero melihat kepergian Qian hingga perlahan hilang dari pandangannya.


***


"Ganteng, ya brondong-brondong jaman sekarang," goda Mika yang baru datang dan telah memperhatikan interaksi antara Vero dan Qian sedari tadi.


Mereka tampak akrab, karena Mika memang merupakan teman Vero sejak zaman mereka kuliah dulu, hingga akhirnya mereka juga bekerja di tempat kerja yang sama walau beda jabatan.


"Apaan, sih. Masih kecil itu. Baru lulus kuliah. Bukan selera aku. Aku nyarinya yang mapan," kilah Vero seraya tertawa dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


***


Qian pulang menggunakan taxi online. Baru saja dia turun dari mobil taxi tersebut dia sudah di sambut kakaknya dengan seulas senyum hangat dengan ibunya yang juga ada di samping Azam.


Setelah masuk dan duduk di ruang keluarga Azam mulai mengajak Qian mengobrol dari hati ke hati.

__ADS_1


"Mas mau pergi minggu depan ...," terang Azam membuat Qian mengernyitkan keningnya.


"Katanya besok tadi di telfon," tukas Qian cepat dengan wajah cemberut karena tidak suka di bohongi.


"3 hari lagi, hari ini kita beli apa yang jadi mau kamu aja. Kamu mau apa? Mau laptop sama drawing pad baru? Sekalian mogenya?" tawar Azam dengan tawar menggiurkan.


Qian mulai merasa tidak suka. Kemaren dia selalu di beri alasan tidak punya uang dan harus menunggu. Hari ini kakaknya malah menawarkan itu semua padanya.


"Bukannya lagi nggak ada uang?" tanya Qian penuh selidik.


"Papa yang kirimin buat kamu semalam. Dia yang mintak beliin semua buat kamu," terang Azam. Qian melirik ibunya sekilas. Sang ibu hanya diam sedari tadi. Qian pun mengangguk dan setuju.


Qian dan Azam pun segera menuju tempat yang di maksud. Qian membeli beberapa perlengkapan desainnya yang memang ia butuhkan.


'Selalu papa yang nyelesein. Kalo mama terlalu banyak alasan kalo itu buat aku. Seolah aku bukan anak dia, seolah cuman papa yang anggap aku anak,' natin Qian di sela kegiatannya membeli beberapa alat pewarna.


Azam hanya memperhatikan apa yang di pilih Qian di samping Qian, karena memang dia tidak paham tentang dunia desain yang di tekuni adiknya ini.

__ADS_1


Selesai membeli semua yang Qian butuhkan, mereka pun pulang.


__ADS_2