
Sedangkan Qian bersama Vero masih terlibat perang dingin. Vero masih tidak berani mengawali pembicaraan mereka. Sesaat dia sadar jika Qian tidak membawa jaketnya. Tidak biasanya Qian melepaskan jaketnya. Biasanya dia selalu mengenakannya saat pulang kerja.
"Qian. Jaket kamu mana? Kok aku liat dari tadi nggak ada?" tanya Vero tepat saat Qian baru masuk kamar dan membawa barang bawaan Rumi kerumah.
"Tadi habis antar teman, terus di pinjamnya," terang Qian singkat. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Teman? Teman yang mana?" tanya Vero lagi.
"Ada teman yang kerja di gedung yang sama sama aku. Dia habis ribut sama pacarnya terus aku pinjemin jaket, sebab baju dia robek," terang Qian membuat Vero merasa semakin aneh. Entah kenapa dia merasa tak suka saat Qian menceritakan tentang wanita itu.
Setelah selesai membereskan semua dan dia pun sudah selesai membersihkan dirinya sebentar di kamar mandi, ia pun menghampiri Vero yang sudah terbaring duluan di ranjang. Qian melingkarkan tangannya di perut rata Vero dan menyesap aroma tubuh Vero yang wangi.
__ADS_1
Vero yang masih kesal hanya diam di perlakukan seperti itu. Tau akan kekesalan Vero. Qian pun mulai memancingnya dengan ciuman hangat di leher Vero dan gigitan kecil di telinga Vero yang membuat Vero bereaksi karena geli.
"QIAN, AH!" seru Vero agak keras dan menyentak.
Membuat Qian menempelkan telunjuknya ke bibir tanda meminta Vero agar tak berteriak karena takut akan membangunkan Rumi yang sudah tertidur. Vero pun langsung terdiam. Ia semakin mendekat kearah Vero hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lainnya.
Di tatap sedekat itu ternyata mampu membuat Vero luluh. Wajah tampan dengan hidung mancung dan bibir tipis, mata tajam serta alis tebal, serta bau wangi tubuh Qian membuat Vero tak bisa menolaknya.
Dan lagi pula Vero yang memang sudah lama menginginkannya tentu akan menyambutnya dengan hangat. Ia langsung mengambil kesempatan itu untuk melakukan sesuatu yang lebih berani lagi.
Qian yang agak tidak siap menerima serangan Vero, membuat ia langsung terjatuh menimpa tubuh Vero. Hingga mereka benar-benar berciuman secara tak sengaja dari pihak Qian dan sangat di sengaja dari pihak Vero.
__ADS_1
Kali ini dia tidak akan melepaskan Qian. Dia tidak akan terima alasan Qian tertidur lagi. Dia pun bergerak cepat dengan melepaskan pakaiannya hingga Qian tidak punya alasan lagi untuk stop seperti dulu lagi.
Qian yang melihat Vero yang begitu agresif hanya bisa tertawa tertahan karena takut membangunkan anak mereka. Vero tak perduli, dia juga memaksakan Qian untuk melakukan hal yang sama.
Hingga mereka benar-benar melakukannya sebagai sepasang suami istri. Vero sangat menikmati setiap sentuhan yang Qian berikan kepadanya, begitu pula Qian. Meski mereka harus menjaga suara agar tetap tak mengganggu tidur bayi mungil itu. Tak masalah, mereka bukan tipe pasangan yang berisik saat berhubungan. Hanya lenguhan kecil yang masih sebatas wajar dan tak sampai membangunkan Rumi kecil.
Qian sangat sibuk akhir-akhir ini hingga bisa di katakan mereka jarang melakukannya karena saat pulang biasanya Qian sudah kelelahan dan langsung tertidur pulas.
Sepertinya saat ini Qian juga sebenarnya kelelahan. Hanya saja dia masih bisa melakukannya karena memang sudah sangat merindukan istrinya ini.
Benar saja, setelah mereka sama-sama mencapai klimaksnya, Qian membalikkan tubuhnya dan langsung terlelap dengan membelakangi Vero.
__ADS_1
Vero hanya bisa mendengus nafasnya kasar. Dia benar-benar merasa seperti habis manis sepah di buang. Akhirnya ia pun membalasnya dengan tidur juga membelakangi Qian. Hingga akhirnya mereka semua pun terlelap masuk ke alam mimpi.