Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Meragu


__ADS_3

Selesai dinner malam itu, Alzam tak lantas mengantar Vero langsung pulang, melainkan mereka malah mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.


Alzam sengaja mengajak Vero ke taman tersebut. Ia telah menyiapkan sesuatu untuk Vero. Ia mengajak Vero menuju lapangan yang tidak jauh dari sana. Seperti sebuah lapangan golf yang cukup luas.


"Aku punya kejutan buat kamu." Alzam pun mengkode sesuatu kepada seseorang dan orang tersebutpun langsung paham. Ia segera pergi dari sana. Vero yang penasaran tampak tidak sabar ingin tau apa tujuan Alzam saat ini.


Tidak lama tiba-tiba kembang api yang sangat indah pun bertaburan di langit malam saat ini. Hati Vero yang bimbang sedari tadi seketika menjadi terhibur kembali. Ia tersenyum kagum dengan kejutan yang Alzam berikan untuknya malam ini. Vero memang sangat menyukai kembang api.


Vero ingat saat-saat di masih kecil, dimana dia dan almarhum ayahnya sering melakukan pesta kembang api kecil-kecilan saat tahun baru. Bagaimana bahagianya dia saat itu. Ayahnya akan membuat kembang api sederhana untuknya setiap tahun baru maupun hari raya lainnya.


Seketika tangis Vero kembali pecah.


"Kenapa?" tanya Alzam sedikit bingung.

__ADS_1


Vero menggeleng pelan.


"Aku ingat ayahku. Dulu dia juga sering kasih aku kejutan kayak gini buat aku," ungkap Vero, Alzam tersenyum. "Makasih, Zam," lirih Vero lagi. Alzam mengangguk dan Kembali memeluk Vero.


Dan perlahan Alzam melepas pelukan Vero berganti menatap Vero intens. Seketika jantung Vero berdetak karena cepat di tatap begitu dalam oleh Alzam. Perlahan jarak di antara mereka pun mulai semakin terkikis. Vero malah tiba-tiba jadi panik, saat hanya menyisa beberapa senti lagi jarak diantaranya dan Alzam, Vero dengan cepat mengalihkan wajahnya.


Alzam yang menyadari itu sontak membuatnya kaget sekaligus canggung. Dia merasa Vero tengah menolaknya saat ini. Vero dengan cepat mengalihkan perhatiannya.


Entah kenapa dia merasa tak rela jika dirinya di sentuh oleh orang lain. Ini perasaan yang berbeda saat dia bersama Qian. Dia begitu menikmati setiap detik kebersamaan mereka, tapi kenapa dia begitu saat bersama Alzam. Bukan kah Alzam juga pria yang pernah ia cintai? Apakah ini pertanda bahwa dia tidak bisa berpaling dari Qian? Ah, ternyata masalah hati memang bukan sesuatu yang mudah untuk di atasi.


Seburuk apapun Qian saat ini, dia tetap tidak dapat berpaling darinya.


***

__ADS_1


Qian terus direpotkan oleh rengekan Reo yang sedari mereka berangkat hingga akan berangkat terus merengek tanpa henti. Qian yang lama-kelamaan merasa pusing pun memutuskan mengenakan headphonenya untuk menghindari hal tidak di inginkan, contohnya keinganannya untuk menggampar Reo yang seperti anak kecil saat ini.


"Qian, plis tinggal bentar lagi, ya. Gue janji baju lo selama di sini gue yang cuci dan setrika. Gue bakal jadi babu yang baik buat lo selama lo tinggal di sini. Gue nggak akan tidur ngorok lagi. Apapun asal jangan lo tinggalin gue, Qian!" rengek Reo hingga mereka sampai di bandar saat ini.


Reo bahkan sudah tidak peduli jika mereka saat ini menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Dia terus bergelayutan di lengan Qian dan merengek.


Hanya Qian yang merasa risih, tapi di minta diam juga percuma. Reo bukan tipe yang mudah untuk di hentikan rengekannya, persis seperti anak kecil saat keinginannya tidak di turuti.


Tangis Reo semakin menjadi saat panggilan keberangkatan pesawat Qian sudah terdengar. Qian dengan sekuat tenaga berusaha untuk lepas dari cengkraman Reo hingga Qian meminta bantuan para sekuriti di sana, baru dia bisa lepas dari Reo.


"Gila si Bangsat, Reo!" rutuk Qian yang terus berlari masuk menuju pesawatnya.


Qian terus melangkah pergi dengan perasaan bergidik karena ulah sahabat tengilnya itu. Sedang Reo, dia masih juga merengek di pintu pembatas. Qian tetap tidak peduli, pria tampan itu terus masuk tanpa menoleh kebelakang lagi.

__ADS_1


__ADS_2