Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Ke Panti


__ADS_3

Hari ini Alzam membawa ibunya ke panti asuhan. Dia menjenguk bayi yang baru datang. Di sana ada juga Bunda Retno yang memang tinggal di sana sekarang. Dia di minta ibu yang biasanya jaga di sana untuknya membantu menjaga anak-anak panti sementara dia pergi ketempat saudaranya yang tengah ada acara.


"Dari semalam badannya panas. Kayaknya dia kangen ibunya, dia biasa ASI, tapi beberapa hari ini kita ganti susu botol dia nggak mau. Jadi kayaknya dia demam karena itu, sangking kangennya dia sama ibunya. Tapi apa boleh buat, kita nggak ada yang tau ibunya kemana, dia di tinggal di terminal bus begitu saja. Padahal sudah di kasih info tentang dia juga di terminal bus, kalau ibunya datang bisa datang kesini. Tapi sampai sekarang ibuknya masih belum keliatan batang hidungnya," terang Bunda Retno yang membuat Maya semakin patah hati mendengarnya.


Ia memeluk bayi mungil itu.


"Kangen Mama ya nak ya? Mama nya mana?" ucap Maya dengan mata berkaca-kaca.


"Keliatannya ibunya baru beberapa bulan melahirkan dan mengalami baby blues, bisa jadi dia stress dan meninggalkan anaknya begitu saja. Keliatannya ibunya juga punya masalah yang berat," ungkap Bunda Retno lagi.


Seketika Maya jadi ingat Vero. Bagaimana stressnya Vero saat itu, ketika Qian yang ia cari tak kunjung ia temui, hingga ia sering jatuh pingsan dan seperti wanita linglung.


Ia kembali menatap bayi mungil itu, bayi itu masih tampak menangis dan gelisah. Maya pun terus menimang-nimang nya agar bisa tenang.


Alzam yang melihat itu terlihat senang bisa melihat ibunya tersenyum kembali. Tapi, dia juga merasa sedih. Ibunya begitu tertarik dengan seorang bayi, sesuatu yang mungkin sulit ia berikan kepada ibunya kelak. Mungkin hanya Qian yang bisa memberikannya.


'Ah, kenapa bajingan tengik itu begitu tuhan percaya untuk memiliki anak di usia semuda itu, bahkan dia belum bisa menghormati perasaan orang tuanya sendiri,' batin Alzam kesal.

__ADS_1


Selesai menjenguk dan mengobati anak panti yang sakit, Alzam, Maya dan Bunda Retno duduk di sebuah ruang tamu sederhana yang memang sering di gunakan untuk menyambut tamu yang datang.


"Untuk Qian, saya harap kalian bisa sabar menghadapinya. Dia hanya butuh waktu untuk percaya kalian lagi. Kalian sempat membuat dia merasa sendirian dan terus menyudutkan dia selama ini. Jadi sesuatu yang wajarkan kalau seandainya dia masih marah juga sampai saat ini. Jadi coba jangan di hadapi dengan emosional, hadapi dia dengan lebih tenang," nasehat Bunda Retno.


Maya menghela nafasnya, dia ingat betul bagaimana Qian marah saat dia melabraknya dan menuduhnya tanpa mendengar pernyataan terlebih dahulu. Bahkan meminta secara terang-terangan agar Qian melepaskan Vero wanita yang sangat ia cintai bahagia bersama Alzam.


Qian pasti merasa di khianati saat itu. Dia pasti merasa Maya lebih menyayangi Alzam di bandingkan dia, apalagi selalu keinganan Alzam lah yang selama ini selalu Maya penuhi sebelum keinginannya sebagai anak bungsu.


"Seharusnya aku bisa berpihak kepada keduanya. Seharusnya aku tunjukkan sikap ku yang juga peduli padanya. Tapi, karena aku merasa dia lebih cuek dari Alzam, jadi aku pikir sedikit keras dan tidak terlalu menunjukkan perasaan ku yang sebenarnya padanya akan membuat dia bisa sedikit bisa diatur. Aku tidak tau kalau akhirnya dia benar-benar menyimpan dendam. Aku menyayangi dia sama dengan aku menyayangi Alzam. Tidak ada bedanya. Tapi memang semua keinginannya tidak langsung aku turuti karena dia selalu buat masalah. Aku tidak mau dia hancur dengan masa depan yang tidak jelas mau di kemanakan. Lalu dia kaget kan lagi aku dengan pernikahan nya yang bahkan dia tidak bertanya dulu padaku. Dia langsung ambil keputusan. Melihat bagaimana dia selama ini bersama ku, mana mungkin aku bisa percaya dia mampu berumah tangga. Setelah melihat nya sekarang, aku tau dia memilih perempuan yang tepat. Dia mau bekerja, dia bisa di andalkan. Dan dia menyayangi anak dan istrinya," ungkap Maya. Sedangkan Alzam hanya diam mendengarkan.


"Itu artinya, cara didikmu yang salah sama dia, Mbak. Dia nggak bisa di kerasin. Semakin kita keras, dia juga lebih keras menentang. Kamu hanya butuh memberi dia sedikit kepercayaan dan kebebasan. Supaya dia tidak kebablasan lagi karna marah dan kamu juga bisa lebih tau apa maunya dia. Dia itu aslinya sangat penyayang loh, Mbak. Aku tau betul bagaimana watak anakku yang satu itu," ucap Bunda Retno yang merupakan sosok Pengasuh Qian sejak kecil.


Maya terdiam. Alzam yang sedari tadi diam tiba-tiba angkat suara.


"Dia kadang sembrono. Sering salah ambil tindakkan karena terburu-buru. Kadang mudah terbawa emosi, dan keras kepala," sahut Alzam dingin dan tenang.


Bunda Retno menatap Alzam dalam.

__ADS_1


"Karna kamu kakaknya. Karna dia anggap kamu kakaknya. Karna itu dia sangat kecewa. Karna itu dia terluka sangat dalam sekarang. Dia marah kenapa lawannya harus kamu, kenapa yang menentang dia akhirnya itu kamu. Satu-satunya orang yang selalu menjadi tempat dia mengadu. Satu-satunya orang yang bisa mendengar bagaimana dia menangis, satu-satunya yang selalu menjadi tempat dia berlari kalau semua orang menyudutkannya. Itu kamu, Zam," tegas Bunda Retno. Membuat mata Alzam seketika berkaca-kaca.


"Kenapa dia merebut satu-satunya perempuan yang aku cintai. Kenapa harus dia, Bunda?" ucap Alzam yang kali ini membuat suasana menjadi hening seketika dan semua mata tertuju kepada Alzam. "Yang kecewa bukan hanya Qian. Aku juga," lirih Alzam lagi. "Aku berusaha berdamai dengan keadaan, walau terasa sangat sulit. Masih terasa sakit, jika aku melihat mereka bersama." Kali ini Bunda Retno akan angkat suara tapi segera di tukas Alzam dengan cepat. "Jangan memberi aku nasehat bagaimana aku harus mengikhlaskan semua. Karena aku sudah berusaha selama ini. Bukannya aku tidak berusaha. Aku tau aku harus mengikhlaskannya. Aku mungkin hanya butuh waktu untuk bisa siap menerima. Melihat wanita yang aku sayangi bahagia itu sudah lebih dari cukup bagi aku. Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri saja dengan statusku sekarang," ucap Alzam masih menahan sesak di dadanya. Bunda Retno bangkit dan seketika memeluk erat Alzam bersamanya.


"Bunda tau kamu anak baik, Nak. Jangan pernah membenci adikmu karena hal ini. Dia juga tidak sengaja melakukan semuanya kepadamu," lirih bunda dengan isak tangisnya.


Alzam mengangguk pelan dengan air mata yang ikut membasahi wajahnya. Maya tersenyum, sepertinya perlahan Alzam mulai menunjukkan sikap menerimanya.


Mereka pulang setelah berpamitan dengan pengurus dan anak panti. Sedangkan Bunda Retno masih tinggal di sana untuk sementara ini.


Di mobil Maya masih di landa rasa kesepian lagi. Maya tetap masih tak puas. Baginya Rumi jauh lebih menggemaskan dari pada bayi panti tadi.


"Rumi lebih gemuk, bulat dan menggemaskan. Dia suka ketawa kalau di sapa. Di sapa sedikit saja dia pasti sudah ketawa. Nggak kayak bayi tadi yang suka nangis kalo Mama gendong," kesah Maya di mobil dengan tatapan hampa. Alzam melirik sekilas kearah ibunya.


"Mama nggak bisa samain Rumi dengan anak panti. Rumi bayi yang besar bersama ayah dan ibunya. Pastinya dia bahagia, sedang bayi tadi dia lagi sedih, Mah," tegur Alzam yang masih fokus menyetir.


"Mama kangen dia. Mama kangen bau minyak telonnya. Kadang juga bercampur sama bau parfum Papa-nya," ucap Maya lagi seraya bersandar di sandaran bangkunya.

__ADS_1


Alzam hanya bisa mendengus nafasnya kasar dengan sikap ibunya yang kadang memang sangat manja kepadanya. Tapi tetap tak bisa melupakan adiknya. (Memangnya kamu berharap ibumu melupakan adikmu, Alzam? 🙄)


Hah, mau punya anak seribu pun seorang ibu akhirnya akan tetap tak ingin kehilangan mereka barang seorang, walau dia sudah memiliki anak yang sempurna. Tetap saja anak yang lain juga bagian belahan jiwanya.


__ADS_2