Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Membuat Patah Hati


__ADS_3

Sepulangnya dari makan malam itu Maya terduduk lemas di ruang tengah. Ia bahkan membiarkan lampu tak menyala, ia duduk diam di atas sofa seraya bersandar pasrah di sana. Pikirannya seolah kacau sekarang. Bukan karena sekedar dia malu Qian bekerja menjadi pelayan, tapi ada rasa sakit melihat anaknya sendiri bekerja seperti itu.


Dia adalah lelaki dengan hidup serba ada, Maya selalu memfasilitasi anaknya dengan baik selama ini. Malam ini dia malah melihat bagaimana anaknya bekerja keras untuk hidupnya.


"Keras kepala sekali anak itu," lirih Maya seraya menyeka air matanya.


Tiba-tiba matanya menatap ke lantai atas arah kamar Qian. Sudah lama kamar itu kosong.


Maya bangkit dan berjalan pelan menuju ruangan itu menyusuri anak tangga dengan langkah perlahan. Maya membuka pintu kamar itu perlahan. Tampak nuansa abu-abu dan hitam sangat mendominasi kamar tersebut.



Walau masih sering di bersihkan, tapi penghuninya sudah lama tidak menempatinya. Maya kembali ingat bagaimana berisiknya kamar Qian saat dia ada. Dia selalu mengganggu Maya dengan musik metalnya dengan suara super keras jika keinginannya tidak segera dituruti.


"Si nakal itu ku kira akan cepat pulang jika aku mengusirnya. Ternyata ... Hk, hk, hk..." tangis Maya kembali pecah.

__ADS_1


Maya mulai merenung termangu duduk di ranjang kamar tersebut. Pikirannya mulai menerawang jauh. Entah kenapa hatinya menjadi sakit.


Maya menyentuh dadanya. Tak terasa air matanya kembali menetes. Lama-lama malah kembali terisak.


Setelah ia mengusir Qian hari itu. Mengambil semua fasilitas yang Qian miliki dan membiarkan ia hidup sendiri, Maya pikir akan membuat angkuh putranya itu runtuh. Tapi ternyata Maya salah.


Qian tak lantas runtuh, dia survive dari keadaannya. Malah sekarang melihat bagaimana perlahan dia mulai menjadi asing di mata putranya, itu malah membuat dia mulai ketakutan.


"Aku ibumu, bodoh," rutuk Maya sendirian.


"Mah!" sapa Alzam.


Maya tersenyum tipis menyambut putranya itu. Kelihatannya Alzam memang baru kembali dari rumah sakit.


"Kok tumben duduk di gelap kek gini, kayak orang patah hati saja, Mah," ujar Alzam seraya menghidupkan lampu. Dia di buat kaget dengan mata bengkak ibunya.

__ADS_1


"Mama habis nangis?!" seru Alzam kaget melihat mata sembab dan basah ibunya.


Ia pun segera menghampiri ibunya masih dengan wajah bingung. Dia mendekap ibunya yang malah semakin terisak di pelukan putranya itu.


"Tadi Mama lihat, dia kerja di restoran. Dia datang nyamperin meja Mama. Mama merasa semua orang kini sedang hujat Mama. Mama kayak nggak becus didik anak Mama. Tubuhnya makin kurus, kayaknya dia juga capek. Mama sapa dia waktu Mama ke toilet. Mama lihat cara dia natap dia ke Mama kayak orang asing, hati Mama malah sakit. Di tambah dia jawab seadanya waktu Mama tanya. Dan waktu kita mau bayar bill, dia juga menghindar. Seolah dia memang mau menjauh dari kita. Bukan kayak gini yang Mama mau, Zam," ungkap Maya terisak. Alzam hanya diam mendengarkan. Dia juga tidak tau harus bagaimana.


"Bukan kek gini, Zam. Bukan ...," isak Maya. Alzam yang baru pulang tak sepenuhnya mengerti keadaan. Dia hanya bisa mendekap dan menenangkan ibunya itu.


"Kan Mama bilang dia lagi kerja, Mah. Mungkin dia hanya mau profesional karna takut kena masalah kalau seandainya dia ladeni Mama terus," ungkap Alzam berusaha menenangkan.


"Buat Qian yang kerja jadi pelayan juga aku rasa itu bukan hal yang buruk juga, Mah. Selagi halal biar saja dia mau kerjakan apa saja. Biar dia tau kalau cari uang itu susah," ucap Alzam lagi.


"Udah. Mama jangan nangis," tukas Alzam lagi seraya mendekap erat ibunya itu.


Maya berusaha tersenyum. Anak sulungnya ini memang selalu bisa membuatnya damai dengan caranya.

__ADS_1


__ADS_2