
Semenjak saat itu jadilah Qian terpenjara oleh hukuman ibunya sendiri. Pergi sekolah di antar oleh supir begitu pula pulang.
Si supir selalu siap sedia di depan pintu gerbang menunggu kepulangan Qian dengan setia. Dia seolah tidak pernah memberikan sedikitpun celah untuk Qian bisa kabur.
"Rajin amat Pak mantau saya, kayak buronan pembunuh berantai. Mata fokus nggak bisa meleng dikit pun," sindir Qian saat untuk kesekian kalinya rencana kaburnya kembali bisa di cegah oleh si sopir terlatih ini. Dia menangkap Qian dengan sangat lihai bak seorang buronan penjara yang akan kabur.
Dari kejauhan nampak Bisma, Reo dan yang lain tengah menertawakan nasib sial temannya itu.
"Hahaha... Kasian Qian, udah kayak tawanan perang dia sekarang," ledek Reo seraya tertawa terbahak-bahak bersama yang lain.
"Lama-lama dia bakalan jadi dokter beneran kalo kayak gini terus," tambah yang lain masih tidak bisa berhenti tertawa.
Fix, sekarang dia jadi bahan tertawaan teman-temannya sebagai anak mami. Tapi, itu juga membuat mereka kehilangan sosok pemimpin mereka.
Walau kesal dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa. 'Tidak apa-apa hanya 3 bulan lagi' Begitu cara Qian bertahan dengan semua penyiksaan ini.
Sementara itu ibunya terus mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan rencananya memasukkan Qian ke kedokteran. Dia sudah membulatkan tekad. Mau tidak mau, Qian harus mau mengikuti keinginannya itu.
__ADS_1
***
Seharian Qian hanya di rumah, membuat dia merasa jenuh dan bosan.
"Bun! Mama kapan pulang?" tanya Qian kepada pengasuhnya yang tengah menyusun pakaian Qian yang sudah di setrika di lemari pakaian di kamarnya.
"Sebentar lagi juga pulang. Kenapa?"
"Pengen gitar," sahut Qian singkat masih membolak-balikkan bukunya bosan.
Selesai membereskan pakaian, dia pun segera keluar meninggalkan Qian yang masih terbaring malas di ranjangnya.
***
***
Maya baru saja pulang kerja, rasa lelah dan penat menghinggapi sekujur tubuhnya. Dia menekan beberapa bagian tubuhnya yang pegal dengan pijatan ringan seraya berjalan menjinjing tasnya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah ia melangkah. Qian sang putra bungsu sudah menghampirinya. Dia terlihat aneh. Karena tumben-tumbenan dia bersikap sangat manis.
"Capek ya, Mah! Sini tasnya Qian bawa-in," tutur Qian dengan senyum manisnya yang menambah kesan janggal. Maya menatap Qian curiga. Dia yakin jika putra bungsunya ini sedang merencanakan sesuatu.
Walau begitu, dia coba ikuti permainannya kali ini. Dia penasaran dengan apa yang menjadi tujuannya.
"Mah, boleh nggak ... Aku beli gitar? Bosen di rumah sendirian nggak ada hiburan. Boleh ya, Mah?" Tepat tebakan Maya. Maya menyunggingkan senyumnya.
"Mama kan udah bilang. Belajar dulu. Jangan ada lagi yang namanya main-main dulu. Belajar buat ujian akhir, kuliah, nah kalo udah lulus kamu. Baru semuanya Mama kasih lagi," tolak Maya tegas.
"Yaelah, Mah. Gitar doank," desak Qian lagi.
"Nggak. Sekali Mama bilang nggak, tetap nggak. Tunggu kamu udah lulus kedokteran, nah baru."
Kelihatannya Qian tidak akan berhasil kali ini. Seperti biasa, Qian selalu berbeda dari Alzam. Alzam dengan mudah di kabulkan setiap keinginannya dengan alasan dia anak baik. Sedangkan Qian yang bandel selalu sulit mendapatkan keinginannya.
'Idih, siapa juga yang mau jadi dokter,' batin Qian kesal. Dia langsung meninggalkan ibunya dengan sebelumnya ia mengembalikan tas ibunya lagi.
__ADS_1
"Anak ini," kesah Maya geleng-geleng kepala.