Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Lepaskan Tangguhmu


__ADS_3

Qian yang baru sampai rumah sakit langsung menuju meja resepsionis rumah sakit tersebut untuk menanyakan keberadaan istrinya dan anaknya.


Setelah mendapat nomor kamar istrinya, Qian langsung menuju kamar tersebut di ikuti oleh Reo juga yang memang datang bersamnya.


Saat melihat Rumi tengah di gendong oleh Alzam, Qian langsung berlari menghampiri dan mengambil putranya dari gendongan Alzam dengan sedikit kaget, membuat Alzam kaget. Namun, dia mengerti dengan sikap tersebut, Qian memang tengah panik.


"Rumi kamu nggak papa, sayang!" seru Qian panik seraya memeriksa tubuh putranya panik.


"Dia nggak apa-apa. Tapi ibunya Kakinya keseleo tadi dan kepala ada beberapa jaitan," terang Alzam tanpa di minta.


Sesaat Qian bisa bernafas lega melihat putranya baik-baik saja. Alzam yang merasa sudah tidak punya kepentingan apapun lagi pun berniat beranjak dari sana. Qian yang melihat kakaknya akan pergi entah kenapa mulai merasa bersalah.


"Mas!" seru Qian. Alzam menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Qian yang tengah menggendong putranya.


"Terimakasih," lirih Qian tulus, membuat Alzam terdiam hingga akhirnya ia tersenyum dan mengangguk. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.


"Dia masih muda udah punya bayi. Hah ... Rasanya insecure sama adik sendiri," gumam Alzam pada dirinya sendiri dan meledek dirinya sendiri pula. Sesaat ia tertawa sendiri dengan kelakuannya. (Mulai gila 🙂)


***


Qian sekarang sudah duduk di hadapan Vero dan melihat keadaan Vero yang masih terbaring lemah. Itu membuat dia merasa sangat sedih. Apalagi mengingat Rumi juga masih sangat butuh perhatian dari Vero.


Kelihatannya dia masih tertidur karna efek obat bius. Qian mengelus lembut punggung tangan istrinya itu. Dia masih bisa merasa bersyukur luka Vero tidaklah parah.


"Nggak papa. Nanti Mimi pasti sembuh. Rumi, sama Didi dulu ya. Jangan nakal," ucap Qian kepada putranya.


"Mimi ...," tunjuk Rumi. Bayi 10 bulan itu menunjuk ibunya yang tengah tertidur.


"Iya. Mimi lagi tidur," terang Qian.


"Nen!" ucap Rumi lagi.


"Nggak. Nanti aja. Pakek dot dulu, ya. Tawar Qian. "Kita aja terancam tidur di lantai. Lu malah banyak mau," ucap Qian seraya memencet hidup putranya hingga bayi itu mengernyit kan wajahnya lucu.


"Nen," tunjuk Rumi pada ibunya dan mencoba meraihnya.


"Jangan pernah mengambil keuntungan dari wanita yang tengah tak berdaya. Paham!" nasehat Qian dengan mimik wajah serius pada putranya.


"Nen!" celoteh Rumi lagi.

__ADS_1


"Nih anak, band ...," ucapan Qian terputus saat tiba-tiba terdengar seseorang yang ikut tertawa, yg seketika juga membuat Qian menoleh kearah sumber suara.


Ternyata itu adalah Maya, Maya yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu, malah ikut tertawa melihat gaya bercanda ayah dan anak itu.


"Maaf Mama nguping," ucap Maya masih menahan tawanya. Qian hanya diam melihat kedatangan ibunya.


"Nen," seru Rumi lagi tiba-tiba seraya menunjuk ke arah ibunya. Qian melirik putranya yang kembali membuat Maya tertawa melihat tingkah lucu dan pintar cucunya.


"Pinternya cucu Oma ini. Sini, nak," ucap Maya yang lalu mengambil Rumi dari pangkuan Qian. Qian masih diam.


"Rumi biar sama Mama malam ini. Kamu jagain Vero di sini. Sebentar lagi juga efek biusnya habis," terang Maya terus bercanda bersama Rumi. Qian masih tetap diam tanpa sepatah katapun.


"Tadi Mama kebetulan mau telepon Vero buat kasih Rumi bajunya yang dulu. Masih Mama simpan. Kayaknya masih muat dia pakek sebagian. Dulu Mama beli banyak buat dia persiapan sampe besar. Jadi, Mama pikir lebih baik Rumi pakek, kan," terang Maya seraya menatap cucunya gemas. "Biar Rumi punya banyak baju ganti ya nak, ya. Papa nggak boleh tolak lagi," ucap Maya.


"Didi," celoteh Rumi lagi seraya menunjuk ayahnya yang masih diam sedari tadi.


"Oh, iya, Didi ya, bukan Papa," ralat Maya seraya tertawa mendengar celoteh Rumi yang seolah paham dengan ucapannya.


Maya kembali menatap Qian.


"Malam ini biarkan Rumi tidur sama Mama di kamar paviliun belakang. Mama tidur di sana sama Rumi. Kamuc jaga Vero, mungkin sebentar lagi dia bangun," terang Maya dan akan membawa Rumi pergi dari sana.


"Tunggu dia bertemu ibunya dulu. Dia pasti kangen ibunya," cegah Qian sebelum Maya pergi.


Qian diam tak bisa membantah lagi. Ibunya benar. Vero masih belum pulih. Biar dia istirahat saja malam ini.


Qian tampaknya sudah mulai paham untuk tak bersikap egois lagi. Dia tidak ingin dengan sikap egonya yang lebih mementingkan perasaannya seperti dulu akan membuat anak istrinya celaka lagi. Qian menatap kepergian Rumi dan ibunya.


***


Hari sudah semakin larut dan Vero hanya sempat bangun sebentar lalu kembali tertidur. Kini Qian pun sudah ikut tertidur dengan duduk di samping ranjang Vero.


Alzam tiba-masuk dan menghampiri Qian yang tengah tertidur. Tubuh itu kini terlihat lebih kurus dari yang biasa dia lihat. Kulit wajahnya yang biasanya bersih dan terawat kini mulai terlihat ada bercak dan tampak sangat lelah.


Alzam melihat gaya tidur Qian yang seolah tengah menahan dingin. Ia pun bangkit dan mulai mencari sesuatu di ruang kamar kosong. Hingga ia menemukan sebuah selimut tebal lembut. Ia mengambilnya dan membawanya Kembali ke kamar Qian tadi. Dan mulai menyelimuti adiknya. Setelah memastikan Qian bisa tidur dengan nyaman ia pun keluar meninggalkan sepasang suami istri itu tertidur beristirahat.


Dia masih menyempatkan untuk berkeliling sebentar melihat keadaan sekitar hingga ia putuskan untuk menuju ke ruangannya sendiri sendiri.


***

__ADS_1


Sedangkan Maya di tempat lain tengah di sibukkan dengan cucu kesayangannya. Bayi itu baru saja tertidur setelah sempat rewel sesaat.


Ia keluar dan tanpa sengaja melihat Alzam tengah duduk di bangku panjang sendirian. Maya berjalan mendekati putranya itu.


Alzam yang melihat kedatangan ibunya segera membenahi posisi duduknya.


"Nggak pulang?" tanya Maya. Alzam menggeleng.


"Kenapa?" tanya Maya lagi.


"Di rumah sendirian. Di sini aja biar rame," jawab Alzam. Maya pun ikut bersandar seperti Alzam dan menarik nafasnya dalam.


"Seandainya Qian mau pulang sama keluarganya pasti rumah rame, ya," lirih Maya. Alzam menatap ibunya, ada senyuman hangat tipis yang tersemat di bibir merah Maya yang seolah menunjukkan rasa rindunya terhadap Qian.


"Mama kangen dia?" tanya Alzam.


"Hmmm..." gumam Maya mengangguk.


"Dia kurusan sekarang, Mah. Juga lecek nggak kayak dulu," ucap Alzam membuat Maya tertawa kecil mendengarnya.


"Dia sekarang kerja terus nggak sempat urus diri lagi. Mama sempat kasihan waktu dengar Vero bilang mobilnya ringsek dan bingung sama biaya pengobatan orang yang dia tabrak," ucap Maya.


"Bantuin, Mah. Mereka pasti benar-benar nggak punya apa-apa sekarang," ucap Alzam. Maya tersenyum seraya mengangguk.


Malam semakin larut dan Maya mulai mengantuk. Dia pun akhirnya kembali ke ruang paviliun tempat Rumi menginap. Dia senang karena malam ini dia bisa tidur bersama cucunya.


***


Sedangkan Alzam kembali berkeliling. Tanpa sengaja dia melihat Qian yang tengah duduk sendirian di sebuah bangku didekat ruang perawatan Vero. Kelihatannya dia baru bangun dan tengah menikmati sepuntung rokoknya. Dia memang sering merokok hanya jika suasana hatinya tengah buruk.


Alzam berjalan agak cepat menuju kearah Qian. Pria itu tetap tak bergeming. Dia seolah sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Alzam di hadapannya. Alzam pun memberanikan diri untuk mendekat dan duduk di samping Qian yang masih tampak acuh.


"Baru bangun?" tanya Alzam mencoba memecahkan kebisuan diantara mereka. Setelah menunggu beberapa saat masih tetap tidak ada jawaban dari Qian yang malah tampak asyik dengan rokok dan lamunannya.


Alzam yang merasa di acuhkan mulai kesal dan mengambil rokok yang ada di tangan Qian.


"Ini kawasan bebas asap rokok," ucap Alzam mematikan api dari rokok Qian dengan menginjaknya. Itu berhasil membuat Qian menoleh.


"Jaga udara tetap bersih di lingkungan ini. Di sini lingkungan perawatan pasien yang lagi sakit," terang Alzam.

__ADS_1


Bukannya berhenti Qian malah kembali mengeluarkan rokoknya lagi dan mencoba untuk kembali memantiknya dengan sebuah korek.


"Kapan kamu bisa dengar kalau di larang!" tegas Alzam lagi seraya merebut korek beserta sepuntung rokok dari tangan Qian dan sekotak rokok Qian yang lainnya. Qian hanya bisa berdecak kesal masih tanpa sepatah katapun.


__ADS_2