
Pagi-pagi sekali Qian yang baru bangun sudah di kagetkan dengan kedatangan seseorang. Begitu berisik dan menganggu tidurnya, membuat Qian mau tidak mau harus bangun.
"Ayok Qian bangun. Semua orang di rumah kamu udah kerja cuman kamu yang masih kayak hewan hibernasi gini," teriaknya mengganggu. "Bangun Qian, kita jalan, hayuk," ajak nya seraya terus menarik tangan Qian paksa.
Siapa lagi wanita pengganggu ini kalau bukan Khairunnisa atau Una. Teman sekelasnya dari SD hingga SMA bahkan sampai ke universitas pun gadis pengganggu ini terus menguntitnya.
Padahal kakak nya Marvel sangat membenci Qian, dia tetap tidak perduli. Una, gadis cantik yang naksir Qian dari dulu kala, tapi semakin ia akrab, dia dan Qian malah semakin sulit untuk menjadi sepasang kekasih. Malah membuat semakin nyata batasan bahwa dia dan Qian tidak bisa lebih dari sekedar teman. Tapi tetap saja dia tidak perduli, dia mengganggu, mengancam, bahkan mengusir wanita yang berusaha mendekati Qian, alih-alih jengah Qian malah semakin terbiasa dengan sikap mengganggunya.
Una yang kaya raya seringkali Qian manfaatkan sebagai ATM berjalan saat dia sedang tidak punya uang. Jika Qian mau mungkin jika Qian meminta pesawat terbang sekalipun pasti akan ia berikan. Wanita paling pengganggu, merepotkan, bebal dan satu-satunya wanita yang bisa tahan dengan sikap kasar dan jutek Qian.
"Ayok, Qian. Mulai lah harimu yang mengenaskan ini. Pengangguran diantar kesuksesan keluarga. Ayah arsitek, ibu direktur rumah sakit besar, kakak spesialis beda ternama. Eh, nyampe ujung ternyata ada pengangguran kelas berat yang kerjanya cuman tidur hibernasi, nggak guna. Memalukan. Dasar produk gagal," omelnya pagi-pagi di atas ranjang Qian.
__ADS_1
Qian bangkit dan duduk menatapnya. Dia pun tersenyum. Ternyata makiannya bisa membuat Qian bangun juga.
"Gimana kamu bisa masuk?" tanya Qian masih serak khas orang baru bangun tidur dengan mata yang masih separuh terpejam.
"Mata kamu kayak gitu kayak lagi ******* orgasme. Seksi banget." Alih-alih menjawab pertanyaan Qian, Una malah salah fokus dengan wajah sayu Qian yang baru bangun. Qian semakin geli saja di buatnya. Dia pun segera mendekapkan bantalnya ke wajah cantik Una karena kesal di lihat dengan mata mesum Una.
"Lo nggak takut gue apa-apain? Di rumah sepi sama cowok kayak gue?" tukas Qian.
"Perkosa aja, aku ikhlas," tantangnya seraya merentangkan kedua tangannya pasrah. Qian semakin bergidik di buatnya dengan tingkah berani Una. Ia pun melempar selimutnya ke wajah Una hingga gadis itu terjungkal. Bukannya marah Una malah tertawa di perlakukan seperti itu.
Tidak lama Qian keluar dari kamar mandi. Tampaknya dia hanya mencuci wajahnya dan menggosok gigi saja tanpa mandi. Dia melihat Una masih di ranjangnya memainkan handphone nya.
__ADS_1
"Ini desain kamu?" tunjuk Una pada salah satu foto hasil desain Qian.
"Ia pesanan orang," jawab Qian singkat dan meninggalkan Una di kamarnya menuju meja makan. Dia sudah sangat lapar. Untung saja sebelum pergi tadi pagi ibunya sempat memasak sarapan untuknya.
***
Di atas meja sudah terhidang nasi goreng buatan ibunya, sudah lumayan dingin karena Qian yang telat bangun. Qian tetap menikmati sarapannya itu.
Tidak lama tampak Una yang baru datang langsung menyambut udang goreng dari piring Qian.
"Jalan, yuk. Aku suntuk di rumah," ajak Una kepada Qian yang masih asyik sarapan.
__ADS_1
Tiba-tiba Qian tersedak dan batuk-batuk. Una dengan sigap mengambil minum untuk Qian dan menyodorkannya kepada pria tampan itu. Qian meminumnya, Una hanya tersenyum melihat wajah merah Qian karena habis tersedak. Dia menyukai apapun yang pria ini lakukan, walau di tolak jutaan kali dia tetap tidak mau pergi.
Menguntit Qian baginya adalah sesuatu yang menyenangkan. Walau Qian marah dan terus mengusirnya dia tetap tidak perduli.