Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kakak Yang Jahat


__ADS_3

Mereka berusaha untuk kabur, karena yang menjadi incaran mereka juga sudah mereka dapatkan. Mereka segera ambil ancang-ancang untuk kabur.


Tapi dengan cepat Qian cegat, mereka berhasil Qian tahan. Qian berhasil melukai salah satu diantaranya, bahkan menghajar mereka hingga babak belur.


"Balikin barang gue, BANGSAT ...," umpat Qian penuh amarah.


Tapi, tidak lama segera datang gerombolan yang lebih banyak. Melihat jumlah yang besar, Qian tidak mungkin sanggup melawannya lagi. Qian pun memutuskan untuk pergi dari sana dan merelakan uangnya.


Mungkin uang itu memang bukan rezekinya lagi. Qian terpaksa mengikhlaskannya dengan tatapan penuh dendam kepada Alzam yang berada di seberang sana.


Ia segera mengambil motornya dan mengejar Alzam yang hendak pergi. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, hingga akhirnya Qian berhasil mengejar mobil Alzam. Dia mencegat mobil Alzam dengan menghadang mobil yang di kendarai Alzam menggunakan motornya.


"Keluar lo BAJINGAN!" seru Qian penuh amarah kepada Alzam yang berada di dalam mobil. Alzam yang melihat amarah yang besar dari Qian pun tak berani untuk keluar menemui Qian.


Melihat Alzam tak kunjung keluar, Qian pun mengeluarkan pisau lipatnya. Melihat itu Alzam semakin ketar-ketir melihatnya. Apa yang akan Qian lakukan sekarang.Qian menatap Alzam penuh tantangan dan satu torehan Qian lakukan di mobil kesayangan Alzam.


Alzam masih tak bergeming dari dalam mobil. Qian semakin menjadi, dia menusuk ban mobil kesayangan Alzam.

__ADS_1


"Keluar nggak. Atau gue hancurin mobil lo BANGSAT," pekik Qian.


Alzam tidak punya pilihan lain lagi sekarang . Dia berusaha tenang sebelum dia keluar dari dalam mobilnya.


Saat di keluar, Qian langsung menyambarnya dan mencengkram kerah baju kakaknya dengan cepat.


"Lo pikir Vero mau nikah sama lo setelah dia nikah sama gue? Lo pikir dia nggak punya akhlak? Langkahin dulu mayat gue kalo lo mau mimpi lo jadi kenyataan," tantang Qian dengan mata penuh amarah.


"Kan sudah Mas bilang nggak usah di ganti. Kamu masih keras kepala. Kalo diambil orang ya sudah. Kan kamu masih hidup ...," ucap Alzam tak merasa bersalah, membuat Qian makin mengepalkan tangannya geram. Jika bukan kakaknya sudah lama dia lumatkan jahanam ini ke neraka sana.


"Gue akan ganti duit lo. Nggak sudi gue punya hutang sama bangsat keparat kayak lo," umpat Qian penuh amarah. "Nggak ada di dunia ini kakak modelan kayak lo. Cuman lo!" umpat Qian lagi. Sangat terlihat raut kekecewaan Qian saat ini.


"Iya. Dan hanya kamu adik yang bisa merusak kebahagian kakaknya. Tau apa kamu tentang mengalah. Tau apa kamu tentang menahan diri? Selama ini aku yang menamengi semua kesalahan kamu. Membela kamu di saat yang lain menyalahkan kamu. Tapi, apa yang aku dapat sebagai balasannya?" ucap Alzam juga penuh kekecewaan.


"Lo berubah. Lo bukan kakak gue lagi," ungkap Qian lagi. Ia menelan kekecewaan yang mendalam terhadap Alzam. Qian mundur dan memacukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Alzam sendirian di tempat yang sepi.


Alzam menatap kepergian adiknya dengan tatapan yang dalam.

__ADS_1


Lalu ia merogoh saku celananya mengambil handphone.


"Halo. Jemput mobil saya di sini sekarang. Nanti saya kasih tau alamatnya," ucap Alzam kepada seseorang di sebrang sana.


***


Qian sampai rumah dalam keadaan kacau. Tangannya terluka karena sempat kena sabetan benda tajam. Mulai Qian rasakan sakit saat sampai di rumah. Dia melihat tangannya sudah di lumuri banyak darah. Untung Vero dan ibunya sudah tidur hingga tidak perlu keributan untuk melihat keadaan Qian yang berantakan.


Saat Qian kembali ke kamar untuk bersiap tidur, ternyata Vero sudah bangun dan tengah menunggu kedatangan Qian. Qian sengaja menggunakan baju lengan panjang untuk menutupi perban lukanya.


Vero tersenyum melihat kedatangan Qian, Qian membalasnya dan terlihat aneh di mata Vero seperti ada yang Qian tengah coba sembunyikan darinya.


"Kamu kenapa?" tanya Vero kepada Qian yang baru duduk di ranjang bersamanya.


"Nggak ada apa-apa. Tidurlah, Kak. Sudah larut," ucap Qian masih sibuk dengan sesuatu sebelum ia juga bersiap akan tidur.


Qian pun terbaring di samping Vero dengan membelakangi Vero dan Vero bereaksi mendekat memeluk Qian dari belakang. Qian menggenggam tangan Vero yang memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2