
Tepat pukul 10 malam Qian sampai di rumah. Dia buru-buru turun dan masuk kerumahnya.
Saat membuka pintu dia di sambut Mama Jill yang tampak tengah membawa sesuatu dari kamar mereka.
"Dimana Rumi, Mah?" tanya Qian tentang anaknya tersebut dengan sedikit panik.
"Ada di kamar. Dia rewel terus dari tadi. Demamnya naik turun terus," terang Mama jill. Qian segera menuju kamar mereka.
Di sana tampak Vero yang tengah menggendong Rumi dengan wajah gelisah. Qian segera mengambil bayinya dari gendongan Vero.
"Matiin AC nya. Ini kasih Paracetamol dulu dia. Jangan di dekap selimut tebal gini, biar panasnya keluar," terang Qian. Vero pun segera melaksanakannya.
Qian yang berasal dari keluarga yang besar di lingkungan kedokteran sedikit paham tentang kesehatan.
Dia mengganti pakaian Rumi dengan baju tipis dan tanpa AC. Mereka rela kepanasan dan jaga malam demi merawat bayi mereka yang tengah demam.
"Ini pasti gara-gara dari bandara kemaren," lirih Vero. Qian menatap Vero sekilas dan tanpa sahutan. Dia tengah fokus mengompres bayi mungil itu dengan air hangat.
"Kamu kenapa malam banget pulangnya? Aku tanya Reo mereka nggak lembur kayanya," selidik Vero. Qian masih malas untuk menjawab. Membuat Vero mulai kesal merasa diabaikan.
__ADS_1
"Qian!" seru Vero.
"Apa? Aku ada kerjaan. Yang penting aku lurus pergi kerja nggak macem-macem. Kalo nggak percaya tanya aja satpam nya," ujar Qian tampak kesal. Vero menatap sekilas pada Qian yang baru saja memberikan Paracetamol pada Rumi, karna bayi mungil itu tak kunjung reda demamnya. Jadi Paracetamol mereka berikan lagi dengan rentan waktu 4 jam.
"Kalo dia masih nggak sembuh. Aku bawak ke dokter besok," ucap Vero lagi.
"Nggak usah. Tunggu 3 hari dulu. Biasanya demam bisa sembuh dalam waktu 3 hari. Belum keliatan gejala apapun kalo belum 3 hari," terang Qian lagi.
"Soal tadi ... Aku ... Minta maaf, ya," lirih Vero. Qian menoleh menatap Vero. Dia mulai berfikir kembali.
Sering ia lepas kendali dan selalu Vero yang memulai perdamaian. Entah meminta maaf secara langsung atau menjemputnya pulang. Mereka selalu berbaikan dengan cara itu. Qian menelan salivanya sesaat.
"Apa ... Kamu bahagia?" tanya Qian serius secara tiba-tiba dengan raut wajah yang seolah menyimpan luka. Vero menatap Qian dalam seolah tidak percaya dengan pertanyaan Qian barusan.
"Kakak mengenalku hanya baru beberapa bulan sebelum memutuskan pernikahan yang bahkan kita jalani tanpa pemikiran matang. Kadang aku merasa Alzam benar-benar pantas bersama kakak di banding aku. Dia mapan. Dia dewasa dan lebih bisa memahami perasaan kakak. Kalian sering di bilang serasi saat berdua. Dan ... Dan ...," Sesaat Qian tertunduk. Vero melihat kerapuhan tengah menghampiri Qian saat ini, ia pun buru-buru menaruh Rumi yang baru tertidur di ranjang. Dan ia segera membawa Qian kedalam pelukannya. Tangisnya pecah.
"Aku tidak punya apa-apa. Tidak ada yang berarti dari aku saat ini,"lirih Qian di pelukan Vero. Vero terus mengusap lembut punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu hanya lelah. Istirahatlah. Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu kalo lagi capek. Nanti fikirannya kemana-mana," ucap Vero menatap mata Qian dalam. Qian menatap balik mata indah itu. Sangat cantik, pantas Alzam sulit melupakannya. Qian menyisihkan pelan rambut yang menutupi sebagian wajah Vero.
__ADS_1
Ah, lagi-lagi dia membandingkan dirinya kesana lagi. Mungkin Vero benar. Dia tengah lelah. Wanita ini sudah menjadi miliknya, kenapa dia terus menyangsikan hal itu.
"Iya. Aku capek," lirih Qian.
"Reo sama Bisma ninggalin kerjaan mereka terus. Semua sibuk pada pacaran. Jadi aku yang harus handle semua," keluh Qian seraya merebahkan bahunya pada Pundak Vero yang berada di hadapannya. Vero kembali mengusap lembut Qian yang kini tengah melingkarkan tangannya di pinggangnya. Semakin erat dan malah semakin berani menyusup kedalam pakaian tidur yang tengah Vero kenakan.
"Katanya capek," celetuk Vero saat Qian malah semakin menyesap lehernya dengan penuh semangat dan g@irah.
Qian tidak menjawab, dia terus fokus dengan apa yang ia lakukan. Vero mendenguskan nafasnya kasar dan mulai ikut larut dalam permainan
yang semakin memabukkan mereka berdua. Sedangkan bayi mungil itu sudah lama larut dalam tidurnya.
Sesaat Qian mulai membaringkan tubuh Vero. Dan terus semakin terbawa suasana. Tapi tiba-tiba di detik selanjutnya Vero mulai merasa ada yang aneh ketika Qian hanya diam memeluknya. Qian seolah berhenti melakukannya.
"Qian," lirih Vero pelan sekaligus bingung. Tapi tak ada reaksi dari Qian. Vero yang kesal dan mulai merasa sesak segera menyingkirkan Qian dari atas tubuhnya. Dia mendorong Qian kesampingnya. Sesaat Vero sadar jika ternyata Qian ketiduran barusan.
Qian tertawa lemas tanpa membuka matanya karena dia memang sudah sangat mengantuk.
"Dasar," sungut Vero kesal.
__ADS_1
Qian pun benar-benar tertidur. Dan Rumi pun tampaknya perlahan sudah mulai sembuh. Suhu tubuhnya sudah mulai normal. Vero membalik tubuhnya kearah Qian yang tengah tertidur di sampingnya. Ia melihat wajah yang tengah terlelap itu. Baru sebentar menyentuh bantal dia sudah tertidur pulas. Qian benar-benar kelelahan, mungkin juga stress dengan pekerjaannya belakangan ini. Vero mengecup kening suaminya itu, seraya memeluknya dari belakang.
"Terimakasih sudah berjuang buat kita," lirih Vero, hingga ia ikut terlelap.