Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 10 Aroma Parfum


__ADS_3

Masih di restoran, Daniel masih bermesraan dengan wanita disampingnya itu.


''Daniel, i miss you so much. Kamu kemana saja? Kenapa baru memberiku kabar?'' peluk manja Sisi, salah satu koleksi wanita Daniel.


''Aku kan sudah bilang kalau aku sibuk mengurus perusahaan. Makanya aku bilang jangan hubungi aku, sebelum aku menghubungimu. Aku tidak ingin orang tua ku tahu hubungan kita.''


''Iya sayang, aku mengerti. Tapi aku juga menginginkan sesuatu darimu.''


''Apa itu? Apapun keinginanmu, akan aku kabulkan.''


''Seperti biasa, aku sudah lama sekali tidak belanja. Ada koleksi tas terbaru.''


''Oh soal itu, itu mudah saja Sisi. Persoalan belanja itu sepele bagiku.'' Jawab Daniel.


''Oh ya kamu sudah memutuskan semua wanita-wanita koleksimu kan?''


''Tentu sudah. Cuma kamu satu-satunya, Si. Jadi tidak ada yang lain selain kamu. Hanya kamu milikku.''


''Aku senang sekali karena aku satu-satunya.''


''Oh ya bagaimana kalau aku tiba-tiba miskin? Apa kamu masih mau dengan ku?''


Sisi terdiam sejenak mendengar ucapan Daniel. ''Kenapa kamu bicara seperti itu Daniel? Kamu tidak akan miskin. Masa iya seorang Daniel itu miskin. Bukannya matre, aku realistis saja. Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, bukankah begitu?''


''Iya benar sekali ucapanmu.'' Jawab Daniel.


''Sudah kuduga, semua wanita yang aku dekati lebih menyukai uangku saja but its okay, menyenangkan wanita itu mendapat pahala. Terserah mereka lah, aku juga mudah sekali bosan dengan mereka.'' Gumam Daniel dalam hati. Saat sedang bermesraan, datanglah seorang wanita yang tak kalah cantik dan seksi dari Sisi.


''DANIEL!" seru wanita itu saat melihat Daniel bermesraan dengan Sisi. Daniel tercekat melihat wanita yang berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang.


''Elena," ucap Daniel.


''Aku bukan Elena, aku Tamara.'' Kata Tamara.


''Siapa dia sayang?'' tanya Sisi.


''Aku tidak kenal dia.'' Jawab Daniel dengan entengnya.


''Kamu bilang tidak mengenalku? Kamu lupa siapa aku? Apa karena saking banyaknya wanita yang kamu kencani?'' marah Tamara.


''Sorry tapi aku lupa. Sudah ya jangan mengaku. Sisi ini pacarku.'' Kata Daniel yang masih saja bisa mengelak. Tamara kemudian mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri dan menunjukkan foto dirinya saat berasama Daniel.


''Ini kamu kan? Beberapa waktu lalu kita ke Bali.'' Ucap Tamara sambil menunjukkan foto-foto kebersamannya dengan Daniel.


''Aduh sial! Aku sudah mengelak tapi masih saja kena,'' gerutunya dalam hati.


''Daniel, kamu masih belum berubah juga ya. Aku tidak mau diduakan.'' Sahut Sisi. Sisi kemudian beranjak dari duduknya dan menampar pipi Daniel. PLAK!


''Aku masih bisa mendapatkan pria seperti dirimu.'' Kata Sisi dengan angkuhnya.


Daniel tersenyum kecut. ''Jelas saja, kamu hanya mencintai uangku sampai kamu rela menjadi simpanan para pejabat.'' Ucapnya dengan sinis. Sisi kesal karena Daniel tahu rahasianya. Namun Sisi tak peduli dan memilih pergi.

__ADS_1


''Aku kecewa dengamu, Daniel.'' Satu tamparan melayang di pipi sebelah Daniel.


''Sudahlah kita sama-sama brengsek, jadi tidak usah merasa tersakiti. Kamu juga sudah puas bermain-main dengan uangku.'' Kata Daniel.


''Jaga ucapanmu Daniel!" bentak Tamara.


''Hhhh kamu pikir aku bodoh? Berapa banyak produser yang kamu tiduri hanya demi sebuah peran dalam sebuah film?'' ucap Daniel dengan tatapan sinis. Mulut Tamara terkunci medengar apa yang di ucapkan oleh Daniel. Tamara lalu menyiramkan segelas minuman yang ada dihadapannya ke wajah Daniel, kemudian Tamara berlalu begitu saja.


Dari kejauhan, Aruna hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang terjadi pada Daniel.


''Hmmm rupanya dia player. Ya Tuhan, semoga aku tidak bertemu lagi dengan orang itu.'' Gumam Aruna dalam hati.


''Sayang, setelah makan siang, aku balik ke kantor ya.'' Uca Arya.


''Iya Mas. Nanti makan malam di rumah ya?''


''Iya akan aku usahakan.''


...****************...


Selesai makan siang, Arya kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Arya. Ada nama Mr. Mark yang tak lain adalah bukan nama samaran Shella di ponsel Arya.


Shella : Arya, aku merindukanmu. Apa makan siangmu dengan istri dan anakmu sudah selesai?


Arya : Sudah Shel, aku sekarang sedang di kantor. Baru juga semalam kita menghabiskan waktu bersama, masa iya sudah rindu.


Shella : Memangnya kamu nggak kangen?


Shella : Kamu nakal juga ternyata.


Arya : Kamu yang membuatku jadi nakal.


Shella : Arya, nanti pulang cepat ya, aku sedang tidak enak badan.


Arya : Kamu sakit? Kenapa tidak bilang?


Shella : Aku sakit karena kecapekan. Capek kerja, capek juga di hantam kamu beberapa hari terakhir ini. Ya maklumlah aku kan masih virgin, jadi kaget gitu mendapat hantaman keras dari kamu.


Arya : Tapi kamu suka kan?


Shella : Suka banget lah, sayang. Makanya kamu kesini, aku butuh kamu, pingin peluk kamu sampai puas.


Arya : Kamu selalu memancing dan mengacaukan konsentrasiku. Baiklah tunggu dua jam lagi ya.


Shella : Dua jam lama Arya, aku maunya cepat.


Arya : Coba kirim foto seksi kamu. Supaya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.


Shella : Wait, aku pose dulu ya.


Shella kemudian tengkurap hanya dengan mengenakan bra. Ia lalu memotret dirinya sendiri, sambil menggigit bibir bawahnya, Shella berpose menonjolkan buah dadanya yang menyembul. Arya sangat terkejut menerima kiriman foto dari Shella.

__ADS_1


Arya : Ough, so hot! Melihatmu saja sudah memancing gairahku, Shel. Baiklah satu jam lagi ya aku ke apartemen. Siapkan dirimu.


Shella : Oke Arya sayang. I love you.


Arya : I love you too.


''Shella, kamu semakin membuatku sulit untuk melepaskanmu.'' Gumam Arya sambil menatap foto seksi Shella.


-


Sore harinya, Aruna kedatangan Dinda dan Gita. Mereka sedang asyik nge-teh bersama di teras samping rumah.


''Run, elo nggak pingin nyalon apa? Gue kasih deh pelayanan gratis.'' Kata Dinda seraya menyeruput teh di hadapannya.


''Makasih deh, Din. Elo tahu kan kehamilan kedua ini gue malas banget yang namanya ke salon. Gue nggak suka ribet.'' Ucap Aruna.


''Lagian Aruna mau dandan apa nggak, dia tetap cantik kok. Aruna itu natural.'' Sahut Gita.


''Ya biar Mas Arya makin cinta gitu lah,'' sahut Dinda.


''Hamil besar gini mau gituan rasanya juga begah, Din.'' Sahut Aruna terkekeh.


''Lagian ya, mau secantik apapun seorang wanita, kalau laginya bejat mah bejat aja, Din. Kenapa gue bisa ngomong gitu karena hari ini gue punya pasien, yang cantiknya minta ampun. Body slim, wajah cantik kayak gadis padahal udah dua anak, eh nggak tahunya suaminya diam-diam selingkuh. Dia dandan setiap hari, melakukan perawatan hanya untuk memuaskan suaminya tapi ternyata diam-diam suaminya masih punya selingkuhan. Kadang gue haran deh kenapa ada laki kayak gitu? Sumpah gue kasihan banget.''


''Perselingkuhan itu sebenarnya gimana sih? Kenapa mereka nglakuin itu gitu lho?'' sahut Dinda.


''Intinya mereka kurang bersyukur aja sih sama apa yang mereka punya. Gue ini bicara netral ya, nggak nyudutin cewek ataupun cowok. Soalnya gue punya pasien juga yang diselingkuhin istrinya. Ngelihat kejadian kayak gitu, kadang bikin gue takut nikah. Memberikan konseling untuk mereka itu tidak mudah. Yang pasien cewek gue tadi, dia cerita kalau rumah tangganya itu selalu berjalan mulus. Suaminya benar-benar memperlakukan dia selayaknya ratu. Bahkan bersikap kasar pun tidak pernah. Sampai pada akhirnya, dia nggak sengaja nemuin boarding pass atas dua nama di koper suaminya. Nah disitulah mulai diselidiki dan ternyata benar, suaminya pergi keluar negeri sama selingkuhannya. Gila nggak tuh!" Cerita Gita panjang lebar.


''Sumpah sih itu gila banget. Kalau gue jadi tuh cewek, gue bejek-bejek selingkuhannya. Sekalian aja gue kebiri tuh si cowok.'' Sahut Dinda dengan gemasnya.


''Iya sumpah gue nyesek banget denger ceritanya. Istri sah juga ngelabrak pelakor tapi apa? Suaminya malah belain pelakornya. Ya ampun gue kasihan banget dan gue rasanya pingin ikutan nonjok.'' Sambung Gita.


''Terus sekarang gimana?'' tanya Dinda.


''Istri sah menggugat cerai suaminya. Tapi suaminya masih gantung deh. Dia bingung, mau mundur tapi kasihan anak, mau maju tapi dia yang sakit.''


''Susah sih emang kalau masih cinta. Apalagi sudah ada dua anak.'' Kata Dinda. Aruna hanya bisa terdiam sambil mendengar obrolan kedua sahabatnya itu. Dan obrolan kedua sahabatnya membuatnya teringat kembali dengan aroma parfum suaminya semalam.


"Tapi orang selingkuh gitu bisa sembuh nggak sih?" sambung Dinda.


"Tergantung orangnya juga sih. Ada yang selingkuh karena jenuh dan akhirnya sembuh dan taubat. Tapi ada juga yang selingkuhnya karena penyakit. Jadi nggak bisa sembuh dan suka kambuh. Sekalipun berganti pasangan, dia akan selingkuh lagi. Itu penyakitnya sudah kronis dan stadium akhir." Jelas Gita.


''Ada nggak sih cerita yang bikin gue ketawa? Denger cerita kalian gue jadi serem sendiri,'' sahut Aruna.


''Hehehe habis gue penasaran Run. Ah udahlah elo jangan dengerin, rumah tangga elo kan always happy. Mas Arya nggak akan mungkin seperti itu.'' Kata Dinda.


''Yap benar banget. Dia udah lulus uji lisensi dari kita berdua jadi kita pastikan Mas Arya aman,'' timpal Gita terkekeh.


''Amin, gue anggap ucapan baik dari kalian adalah doa yang baik. Dan doa yang baik juga akan berbalik sama kalian.'' Kata Aruna.


''Amin.'' Ucap Gita dan Dinda dengan kompak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2