
Pagi hari di kediaman Anggara. Tiga hari telah berlalu, dan Aruna masih belum kembali ke rumah itu.
Di ruang tengah rumah itu, terlihat Papa Danu tengah menikmati secangkir kopi sambil menonton TV. Seperti biasa, berita pagi selalu menjadi tontonan utama Papa Danu setiap paginya.
Papa Danu hendak menyesap kopi itu sekali lagi. Sampai tiba - tiba berita pagi itu menampilkan sebuah berita tentang Mona.
"Seorang artis muda, yang karirnya tengah melejit, dikabarkan hamil diluar nikah. Netizen sangat menyayangkan ..."
Papa Danu pun mengerutkan dahinya. Lalu kembali menyesap kopi itu. Berita yang di tampilkan masih tentang Mona.
"Dikabarkan bahwa Mona saat ini tengah menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah beristri. Ada kemungkinan pria itu adalah ayah dari ..."
Kini Papa Danu memusatkan pandangannya pada layar TV yang masih menampilkan berita tentang Mona itu.
Untuk ketiga kalinya Papa Danu menyesap kopi itu. Lalu tiba - tiba saja, Papa Danu malah menyemburkan kopi itu. Bahkan sampai terbatuk - batuk. Matanya kini menatap tajam pada layar TV itu yang entah sejak kapan menampilkan wajah Bram secara jelas.
"Pacar rahasia Mona ini di sebut - sebut sebagai ..."
Dan kali ini Papa Danu di buat sangat terkejut dengan berita itu. Hampir saja dia terkena serangan jantung mendadak. Jika bukan karna Bi Surti yang datang menemuinya dengan tergesa - gesa dari arah depan.
"Maaf Tuan ... Itu, di depan ada banyak wartawan. Katanya mau bertemu dengan Den Bram."
"Apa? Wartawan?"
"Iya, Tuan."
Entah apa yang terjadi saat ini. Sampai sekarang Aruna belum pulang dari rumah Om dan Tantenya. Di tambah lagi kabar Bram dan Aruna yang akan bercerai. Dan sekarang, malah timbul masalah baru lagi. Apalagi yang dilakukan Bram kali ini.
Akhirnya Papa Danu menemui para wartawan itu di depan rumahnya. Begitu Papa Danu keluar, mereka langsung datang menghambur dengan kamera dan mikrofon.
"Pak, bisa tolong jelaskan, apa benar putra Bapak terlibat hubungan gelap dengan Mona?" tanya seorang wartawan.
"Mona dikabarkan hamil diluar nikah. Apa benar putra Bapak adalah ayah dari bayi yang dikandung Mona?" tanya seorang wartawan lainnya.
"Kami mendengar kabar bahwa putra Bapak akan bercerai. Apakah ini ada kaitannya dengan kabar kehamilan Mona?"
"Apakah putra Bapak akan bertanggung jawab pada Mona?"
Seperti itu pertanyaan - pertanyaan yang dilontarkan para wartawan itu. Hingga membuat Papa Danu pusing. Dan tak tahan lagi meladeni segala macam pertanyaan - pertanyaan yang tidak masuk akal itu. Papa Danu pun hendak meninggalkan kerumunan wartawan itu. Tetapi mereka tetap mengerumuninya
Para wartawan itu semakin berdesakan. Bahkan Bambang, supir Papa Danu pun kewalahan menertibkan mereka.
"Ada apa ini?" Bram yang hendak ke kantor pun dibuat terkejut dengan kedatangan para wartawan itu.
Melihat Bram, mereka pun beralih mengerubungi Bram. Dan mengajukan pertanyaan yang sama.
"Itu semua tidak benar. Itu fitnah." Tegas Bram.
"Tapi kabar yang beredar saat ini bahwa anda adalah ..."
"Itu tidak benar." Tiba - tiba sebuah suara asing dengan lantang menjawab pertanyaan itu.
Serentak semua pandangan pun tertuju pada seorang pria yang entah dari mana datangnya. Tiba - tiba saja sudah berdiri di belakang para wartawan itu. Semua wartawan itu pun kini beralih pada pria itu.
__ADS_1
Gerry. Manajer sekaligus pacar Mona.
"Pria itu bukan ayah dari bayi yang dikandung Mona." Ucap Gerry tegas hingga membuat para wartawan itu tercengang.
"Apa anda punya buktinya?" tanya seorang wartawan.
"Karna saya adalah ayah dari bayi itu. Saya adalah pacar Mona yang sebenarnya." Gerry sudah cukup lama bersabar dengan kelakuan Mona.
Kebiasaan Mona mengejar pria yang diinginkannya membuat Gerry geram. Hingga kali ini Gerry tidak bisa tinggal diam. Apalagi saat ini Mona tengah mengandung anaknya. Dan Gerry jelas menginginkan anak itu.
Seketika pengakuan Gerry itu cukup menyelesaikan masalah yang ada. Dan Bram pun merasa sangat terbantu dengan pengakuan Gerry. Akhirnya, para wartawan itu pun pergi meninggalkan rumah itu.
"Sorry bro kalau masalah ini jadi melibatkan kamu." Kata Gerry saat mereka kini tengah mengobrol di depan pintu rumah itu.
"Trima kasih atas bantuan kamu." Kata Bram.
"Mona itu adalah pacarku. Kami sudah cukup lama berpacaran. Hanya saja Mona tidak berani menunjukkannya di depan publik. Dan kami terpaksa pacaran diam - diam. Pacar rahasia Mona yang sering dikabarkan itu sebenarnya adalah aku. Manajernya sendiri."
"Lalu kenapa kamu melakukan ini. Bukankah ini akan membawa dampak buruk untuk kalian berdua."
"Aku hanya menginginkan bayi itu."
Bram mengangguk pelan, "makasih sekali lagi."
"Ya sudah. Kalau begitu aku permisi dulu." Gerry pun pergi meninggalkan Bram yang masih berdiri mematung di depan pintu.
Melihat Gerry sudah pergi, kini giliran Papa Danu yang datang menghampiri Bram.
"Jadi ini alasan Aruna meminta cerai darimu?" tanya Papa Danu memastikan.
"Semoga saja pengakuan pria itu bisa membuat Aruna berpikir kembali. Sudah terbukti kan kalau kamu tidak bersalah. Jadi, tunggu apalagi. Pergi minta maaf padanya, dan bawa dia pulang." Titah Papa Danu sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumahnya.
Bram hanya bisa mendesah berat, "masalahnya tidak semudah itu Pa." Gumam Bram.
Bram pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah itu. Tangannya sudah bersiap membuka pintu mobil, sampai tiba - tiba seseorang datang menghampirinya.
"Permisi ... Maaf, dengan Pak Bram?" tanya orang itu.
"Iya, benar. Anda siapa ya?" sembari menarik kembali tangannya.
"Saya dari Pengadilan Agama, hanya ingin memberikan surat ini untuk Bapak." Sembari menyerahkan sebuah amplop putih.
Bram pun menerimanya dengan hati cemas. Bram sudah mempunyai firasat buruk dengan kedatangan orang itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak. Mari ..." orang itu pun bergegas pergi.
Dengan hati cemas Bram pun mulai membuka amplop itu. Dan betapa terkejutnya Bram saat membaca isi surat itu. Seluruh persendiannya pun mendadak terasa lemas. Hampir saja Bram terjatuh. Tampak matanya mulai berkaca - kaca.
"Ternyata kamu serius. Apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?" Bram tidak menyangka, secepat ini Aruna mengiriminya surat gugatan cerai. Rupanya Aruna tidak main - main dengan omongannya. Sekarang, apa yang bisa Bram lakukan? Aruna sudah menentukan pilihannya. Sudah terlambat meski masalah tentang Mona sudah ada kejelasannya.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, di apartemennya, Mona sedang dihadapkan pada situasi yang tidak berbeda jauh dengan Bram. Para wartawan berkumpul di depan pintu apartemennya. Dalam sekejap mata, pengakuan Gerry menjadi viral di dunia maya. Kini, semua orang sudah tahu siapa pacar rahasia Mona dan siapa ayah dari bayi yang di kandung Mona.
Namun, tiba - tiba seorang pria paruh baya datang bersama seorang bodyguard. Dan membubarkan kerumunan wartawan itu. Pria itu adalah ayah Mona. Kedatangannya ke tempat Mona adalah untuk membawa Mona pulang ke rumah.
"Sudah cukup kamu bermain - main dengan Papa. Sekarang juga kamu ikut Papa. Kita pulang. Jangan membantah." Titah ayah Mona tegas begitu berhadapan dengan Mona.
Mona hanya tertunduk lesu. Tidak berani menatap ayahnya. Kabar itu sudah sampai ke telinga orang tuanya. Di tambah lagi, tiba - tiba Gerry datang menemui orang tua Mona dan menyatakan akan bertanggung jawab.
"Dan satu lagi. Secepatnya kamu akan Papa nikahkan dengan Gerry. Bayi yang ada dalam kandungan kamu itu butuh seorang ayah."
Mona pun mengangkat wajahnya. Dan menatap ayahnya tajam.
"Aku tidak mau Pa." Protes Mona.
"Tidak boleh ada yang membantah perintah Papa. Kamu harus menikah dengan Gerry. Titik!"
Mona hanya bisa tercengang. Tidak bisa berbuat apa - apa lagi.
.
.
Di lain tempat. Di rumahnya Tante Novi. Sudah tiga hari Aruna menginap di rumah itu. Dan hanya berdiam diri saja tanpa melakukan pekerjaan apapun. Untuk menghilangkan kejenuhannya, Aruna mencoba berjalan - jalan sebentar. Kebetulan tidak jauh dari rumah itu, ada sebuah taman kecil. Aruna pun memutuskan berjalan - jalan sebentar di taman itu.
Di taman itu, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain - main. Ada dua bocah lelaki yang sedang bermain bola, ada bocah perempuan yang sedang bermain balon, dan ada dua bocah perempuan yang sedang kejar - kejaran.
Aruna tengah duduk di sebuah bangku kecil sembari memperhatikan mereka. Sampai tiba - tiba, ada seorang anak perempuan yang datang menghampirinya dan memberinya seikat bunga mawar merah.
"Waaah ... bunganya cantik sekali ..." ucap Aruna sambil menerima bunga itu.
Anak perempuan itu tersenyum manis.
"Bunganya cantik sama seperti Tante."
"Makasih sayang. Kamu juga cantik. Oh ya, ini bunganya dari siapa?"
"Dari Om ganteng."
Aruna mengerutkan dahinya sambil tersenyum menatap anak perempuan itu.
"Tuh dia Om ganteng ..." anak perempuan itu kemudian menunjuk seorang pria yang berdiri tidak jauh dari tempat Aruna duduk. Pria itu tersenyum manis memandanginya.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Ada yang bisa tebak siapa pria itu?
Sarsnghae readers ❤️
__ADS_1
Salam hangat 🤗
🌺Otor Kawe🌺