Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 19 Mencari Tahu


__ADS_3

''Gado-gadonya udah gue habisin jadi sekarang waktunya cerita.'' Paksa Dinda.


''Tapi gado-gado gue masih,'' jawab Aruna dengan senyum kecilnya.


''Iya soalnya elo sengaja ngulur waktu. Apa masalah elo ada hubungannya sama Mas Arya?''


Aruna masih terdiam sambil melanjutkan makannya. Namun makanan itu terasa sulit untuk ia cerna.


''Aruna, elo bisa berbagi apapun sama gue dan juga Gita. Nggak usah di tutup-tutupin. Elo kan lagi hamil jadi jangan simpan beban itu sendiri, Run.''


''Iya Dinda sayang. Sekhawatir itu ya elo sama gue?''


''Ya iyalah gimana nggak khawatir coba? Ibu hamil itu nggak boleh stres. Udah cerita, siapa tahu gue bisa bantu.''


Aruna kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


''Dari kemarin Mas Arya nggak ada kabar, ponselnya nggak bisa di hubungi. Terus gue telepon kantor dan minta alamat dan kamar hotel yang di tempati Mas Arya di Singapura. Dan setelah gue cek, Mas Arya udah check out dua hari yang lalu. Jujur, gue khawatir takut Mas Arya kenapa-kenapa. Kalaupun ada musibah, kenapa nggak ada pihak kepolisian atau apa yang hubungi gue. Gue dari semalam nggak bisa tidur mikirin Mas Arya yang mendadak tanpa kabar. Belum lagi Zidane yang terus tanyain Papinya. Apalagi tanpa ada angin atau hujan foto pernikahan kita jatuh gitu aja. Pas gue mau beli pigura baru, gue mendadak kontraksi. Gue nggak tahu harus gimana? Gue nggak tahu harus nyari Mas Arya dimana. Gue khawatir, Dinda.'' Kata Aruna dengan suara bergetar.


''Oke, elo tenang ya Aruna. Sekarang gue tanya, Mas Arya ke Singapura sendirian? Apa tidak ada asisten atau karyawan kantor yang ikut?''


''Nggak ada Din. Mas Arya berangkat sendiri. Gue juga antar dia ke bandara kok.''


''Sekarang elo kasih tahu gue Mas Arya menggunakan maskapai penerbangan apa. Kebetulan gue punya pelanggan salon dan suaminya itu direktur di salah satu makapai penerbangan. Siapa tahu bisa bantu melacak Mas Arya pergi kemana. Dan juga alamat hotel di Singapura sana. Kita bisa sewa detektif untuk mencari keberadaan Mas Arya.''


''Gimana kalau Mas Arya di culik atau di sekap dan.....''


''Aruna, jangan menduga hal yang buruk. Kita doakan Mas Arya sehat-sehat saja ya. Elo harus tenang, masalah detektif biar gue dan Dinda yang urus. Elo cukup di rumah sambil doa supaya Mas Arya baik-baik aja. Aneh juga sih udah check out dua hari lalu tapi mendadak nggak ada kabar. Tapi kita positif thinking aja ya, Run. Ingat ya elo sedang hamil.''


''Gue mohon ya Din, ini rahasia kita bertiga. Gue nggak mau orang tua Mas Arya ataupun orang tua gue tahu. Gue nggak mau mereka khawatir.''


''Iya, elo tenang aja. Kalau elo butuh apa-apa segera hubungi gue dan Gita, kita siap bantu elo kok.''

__ADS_1


''Thanks banget ya. Kalian memang terbaik.''


''Jadi sekarang, habisin makanan elo dan minum vitaminnya.''


''Iya Dinda.'' Kata Aruna dengan senyum kecilnya.


''Mas, aku sangat khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Tapi di sisi lain kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Maafkan aku ya Dinda-Gita, aku tidak bisa menceritakan prasangka burukku pada Mas Arya dengan kalian. Aku tidak mau prasangka buruk itu membuat kalian juga ikut berpikir buruk tentang Mas Arya.'' Gumam Aruna dalam hati.


Sore harinya, mobil derek yang mengangkut mobilnya pun tiba. Aruna lega karena Daniel benar-benar mengantarkan mobilnya ke rumah. Dan Aruna berusaha melewati hari itu dengan tetap tegar dan tetap tersenyum untuk Zidane.


''Mami, Papi kok belum menelepon ya?'' pertanyaan Zidane itulah yang membuat Aruna sedih.


''Papi sibuk sayang. Nanti kalau Papi sudah tidak sibuk, Papi juga pasti akan memberi kita kabar kok. Lebih baik kamu habiskan dulu makanan kamu setelah itu gosok gigi lalu pergi tidur, oke?''


''Oke Mami.''


...****************...


''Penasaran apaan sih? Mending duduk dan temenin gue minum.'' Kata Daniel.


''Kalau urusan minum, itu urusan mudahlah.'' Jawab Fero dengan entengnya. Fero lalu menuangkan wine ke dalam gelas dan segera menenggaknya.


''Jadi? Hari ini ada masalah apa? Terus mobil itu milik siapa? Jangan bilang elo bikin ulah lagi. Bisa-bisa elo di coret dari daftar warisan keluarga elo.''


''Siapa yang bikin masalah? Justru gue hari ini berbuat baik.''


''Apa? Berbuat baik? Wow, kabar yang mengejutkan.'' Seloroh Fero terkekeh.


''Emang gue seburuk itu apa? Sampai berbuat baik aja elo heran.''


''Hahahaha iya lah. Biasanya kan elo bikin ulah sama cewek-cewek nggak jelas. Jadi kebaikan apa yang elo lakuin hari ini?''

__ADS_1


''Gue nolongin Ibu hamil yang kontraksi.'' Mendengar ucapan Daniel, seketika membuat Fero terkejut sampai membuatnya menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


''Jadi Ibu hamil itu adalah Nyonya yang anaknya gue ajak ribut di supermarket. Kita nggak sengaja ketemu di toko pigura. Eh mendadak dia kontraksi dan semua mengira kalau gue suaminya. Karena gue juga sempat rebutan pigura sama dia. Mau tidak mau gue akhirnya bawa dia kerumah sakit. Bayangin deh elo di posisi gue? Panik nggak? Mana orangnya galak banget lagi. Kalau nggak karena kasihan, gue males berurusan sama dia.''


''Lah, emang suaminya kemana?''


''Suaminya ke luar negeri urusan pekerjaan katanya. Daripada kenapa-kenapa terus semua orang anggap gue suaminya, kalau gue menyangkal yang ada gue di gebukin dan di keroyok orang.''


''Wah-wah, hebat juga ya elo. Mendadak jadi suami siaga." Seloroh Fero dengan tawanya.


''Keadaan yang memaksa,'' ketus Daniel.


''Terus Nyonya itu bagaimana? Apa dia melahirkan atau bagaimana?''


''Hanya kontraksi palsu saja kata Dokter. Gue juga nggak paham sih, pokoknya itulah. Udahlah jangan banyak tanya, pusing kepala gue. Tapi mobilnya udah elo antar kan?''


''Sudah sampai ke rumah Nyonya Aruna tepat waktu Tuan Daniel. Eh tapi kenapa ya elo selalu aja ketemu sama Nyonya itu?''


''Mana gue tahu. Gue sendiri aja heran kenapa bisa kebetulan. Galaknya itu lho amit-amit deh. Gue harap, gue nggak ketemu lagi deh. Nyusahin banget lah apalagi di situasi yang gue sendiri nggak tahu harus ngapain.''


Fero tertawa. ''Hahahaha ya udah lah ya, ambil hikmahnya aja. Nanti kan elo bakalan nikah terus punya anak juga. Anggap aja itu pelajaran gratis, ujian mental dan kesiapan sebagai suami siaga.''


''Masih jauhlah! Belum mikirin nikah gue.''


''Udah gue duga sih,'' seloroh Fero.


''Tapi gimana kalau Tuan Hutama mendadak nyuruh elo nikah? Hayo lho.''


''Gampang, gue kabur aja.'' Ucapnya terkekeh.


''Dasar, emang gila ya lho.''

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2