
''Terima kasih sudah menjemputku, Tuan.''
''Sebaiknya kamu langsung pulang saja. Zidane juga pasti sudah di rumah.''
''Tapi masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Jadi biar aku selesaikan dulu. Aku harus tetap profesional dan lagi kita harus menyiapkan acara bazar besok. Tuan sudah banyak membantuku jadi aku juga harus membantu Tuan.''
''Baiklah kalau itu keputusanmu.'' Akhirnya mereka berdua kembali ke kantor.
''Oh ya siapkan rapat terakhir untuk acara besok.'' Ucap Daniel seraya menuju ruangannya.
''Baik Tuan,'' jawab Aruna.
Dan akhirnya hari itu Aruna pun lembur, tentu saja ia tidak tega meninggalkan semua tim yang akan menggelar bazar besok. Fero dan Daniel juga ikut lembur. Tiba-tiba ponsel Aruna berdering tanda panggilan masuk dari Mbak Lasmi. Aruna segera mengangkatnya takut terjadi sesuatu pada Zidane.
''Halo Mbak, ada apa?''
''Nyonya, Den Zidane demam. Dan demamnya sangat tinggi.'' Apa yang di katakan Lasmi tentu saja membuat Aruna terkejut. Padahal paginya Zidane baik-baik saja.
''Iya Mbak, aku segera pulang.'' Panggilan berakhir. Melihat wajah panik Aruna, Daniel segera menghampirinya.
''Ada apa Aruna?''
''Zidane demam, Tuan.''
''Apa? Ya sudah ayo kita pulang.'' Ajak Daniel.
''Fer, tolong urus semuanya.''
''Siap Tuan Daniel. Hati-hati.'' Pesan Fero. Tentu saja saat itu sikap Daniel dan Aruna menjadi pusat perhatian para karyawan lain. Namun Aruna yang sudah terlanjur panik tidak peduli tentang itu.
''Kenapa Tuan Daniel ikutan panik ya?'' tanya salah satu dari mereka.
''Pak Fero, apa mereka ada hubungan selain sekretaris dan bos?'' timpal yang lain.
''Sudah-sudah jangan bicarakan itu, kita fokus saja. Apapun yang terjadi urusan mereka.'' Ucap Fero. Fero tentu tidak akan buka mulut kalau belum mendapat lampu hijau dari bos sekaligus sahabatnya itu.
Kini Aruna dan Daniel sedang dalam perjalanan menuju rumah.
''Lebuh cepat, Tuan.'' Pinta Aruna.
''Ini sudah cepat, Aruna. Kamu harus tenang. Aku akan menelepon dokter pribadiku.'' Ucap Daniel. Daniel mengeluarkan ponselnya dan menekan nama dokter Andy.
''Halo dokter, tolong ke rumah ku secepatnya ya. Ini urgent! Putra ku sakit.''
''Putra? Daniel benar-benar menganggap Zidane seperti anaknya sendiri. Sedangkan Papa kandungnya sama sekali tidak peduli,'' batin Aruna.
''Baik Tuan. Kebetulan saya juga sedang di jalan yang tidak jauh dari rumah anda.'' Jawab Dokter Andy.
''Baik dok, aku tunggu.'' Panggilan berakhir.
Namun Dokter Andy kembali sadar.
''Anak? Tuan Daniel kan belum menikah? Ah siapa tahu diam-diam sudah menikah juga.'' Gumamnya.
Aruna mere...mas sendiri tangannya karena merasa sangat khawatir. Reflek tangan Daniel menggenggam tangan Aruna.
''Tenang Aruna. Semua pasti akan baik-baik saja. Kontrol diri kamu.'' Kata Daniel dengan lembut. Dan Aruna merasakan aneh, sentuhan tangan Daniel membuatnya merasa tenang dan lebih baik. Kembali terbesit tentang ucapan Daniel kalau Daniel serius dengannya dan sangat menyayangi Zidane.
Aruna melirik Daniel sejenak, meskipun berusaha tenang namun dalam raut wajah Daniel juga menyimpan rasa cemas dan khawatir.
''Apa kamu khawatir?'' tanya Aruna.
''Sangat khawatir.'' Jawabnya singkat sambil terus fokus menatap jalanan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Aruna dan Daniel bergegas menuju lantai atas kamar tamu. Disana Dokter Andy baru saja selesai memeriksa Zidane. Begitu sampai dikamar, Aruna langsung menghambur memeluk Zidane.
''Sayang, kenapa bisa begini? Tadi baik-baik saja.''
''Aku tidak tahu Mami. Tadi pulang sekolah aku merasa lemas sekali dan kepalaku pusing.'' Ucap Zidane.
''Dokter, bagaimana keadaan anak saya?'' tanya Aruna.
''Tenang Nyonya, putra anda hanya demam biasa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.''
''Dokter yakin? Apa tidak ada pemeriksaan lebih lanjut?'' sahut Daniel.
''Tidak ada Tuan. Sepertinya dia hanya kelelahan saja. Dia tadi cerita kalau baru pulang dari acara outbond di sekolah. Saya sudah memberikan obat penurun demam dan vitaman untuk penambah imunnya. Kalau demamnya tak kunjung turun setelah minum obat, bisa langsung bawa ke rumah sakit saja, Tuan.'' Jelas Dokter.
''Syukurlah kalau begitu. Terima kasih ya dokter.''
''Oh ya Tuan, apa anda sudah menikah? Sejak kapan?'' Dokter Andy merasa penasaran.
''Mmmm aku belum menikah, Dok. Nanti aku ceritakan. Mari aku antar ke depan.''
''Dokter terima kasih.'' Ucap Aruna.
''Sama-sama Nyonya.''
''Pak Dokter, terima kasih ya.'' Sambung Zidane.
''Sama-sama Zidane. Cepat sembuh ya. Sayur dan buahnya di perbanyak ya.''
''Oke Dokter.''
Daniel lalu mengantar Dokter Andy ke depan sembari mengobrol.
''Apa Tuan Hutama tahu, Tuan?''
''Jadi Nyonya Aruna single parent?''
''Ya dokter. Aku jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya.''
''Sejujurnya saya sangat terkejut seorang Daniel jatuh cinta pada single mom.''
''Dia wanita hebat, Dokter. Berbeda dengan wanita yang pernah aku kencani. Tapi sayangnya aku belum mendapat jawaban darinya. Aku merasa kehangatan sebuah keluarga saat bersamanya. Aku membawanya ke rumah karena sedang dalam masalah.''
Dokter Andy terkekeh. ''Itu artinya anda harus lebih semangat untuk berjuang. Sepertinya cassanova sudah menemukan pawangnya.''
''Sepertinya begitu,'' singkat Daniel dengan senyum lebarnya.
''Baiklah Tuan, saya tunggu kabar baiknya. Semoga hati Nyonya Aruna segera luluh. Permisi.'' Ucap Dokter Andy sambil menepuk bahu Daniel.
''Terima kasih Dokter. Hati-hati.''
Setelah mengantar Dokter Andy keluar, Daniel kembali ke kamar Zidane.
''Sayang, ayo makan.'' Bujuk Aruna.
''Mulutku pahit, Mi. Aku tidak mau makan.'' Ucap Zidane.
''Sejak pulang sekolah, saya sudah memaksa Den Zidane untuk makan Nya, tapi tetap tidak mau. Hanya susu saja yang di minum.'' Kata Mbak Lasmi.
''Atau kamu menginginkan sesuatu Zidane? Mami akan belikan.''
''Aku tidak mau, Mi.''
''Nanti kamu bisa tambah sakit kalau tidak makan,'' tutur Aruna dengan lembut.
__ADS_1
''Kenapa Aruna?'' sahut Daniel.
''Dia tidak mau makan. Lihat makanannya masih utuh.'' Ucap Aruna sambil menunjukkan piring di pangkuannya. Daniel tersenyum lalu duduk di bibir ranjang, berhadapan dengan Aruna.
''Kamu kenapa tidak mau makan Zidane?''
''Mulutku pahit, Om. Makan apapun tidak enak.''
''Makanlah walau sedikit. Kasihan Mami. Mami sangat mengkhawatirkanmu. Kalau kamu tidak makan, Mami pasti akan sangat sedih.''
''Tapi pahit Om, aku justru ingin muntah.''
''Kamu suka madu tidak?''
''Suka, itu kan manis.''
''Dulu saat Om masih kecil, ketika sakit dan susah makan, Mama Om memberikan Om madu untuk menghilangkan rasa pahit. Kamu mau coba? Kasihan Mami. Nanti Mami sedih dan nangis. Mami kan cengeng.'' Kata Daniel sedikit mengejek Aruna. Zidane pun tertawa.
''Enak saja. Itu namanya khawatir Tuan. Wajarlah menangis,'' timpal Aruna dengan kesal. Bibirnya mengerecut namun akhirnya dia tersenyum juga.
''Lasmi, tolong ambilkan madu di kulkas.'' Perintah Daniel.
''Baik Tuan.'' Mbak Lasmi berlalu.
''Nyonya-Tuan, saya juga ke dapur dulu menyiapkan makan malam untuk Nyonya dan Tuan.'' Sahut Bi Tuti.
''Iya Bi.'' Ucap Aruna. Tak lama kemudian Mbak Lasmi kembali membawa madu.
''Ini Tuan.''
''Terima kasih.''
''Kalau begitu, saya permisi.'' Ucap Lasmi seraya berlalu.
''Ayo kamu coba satu sendok saja.'' Daniel menyuapi satu sendok madu.
''Madu ini khasiatnya banyak terutama untuk orang yang sedang sakit.'' Ucap Daniel.
''Mmmm iya Om. Mulutku lebih baik daripada tadi.''
''Ya sudah, sekarang makan ya. Om suapin.'' Ucapan Daniel mendapat anggukan dari Zidane. Aruna lalu memberikan piringnya pada Daniel. Satu suapan sudah berhasil masuk ke mulut Zidane.
''Nah, anak pintar. Kamu harus kuat Zidane. Kalau kamu lemah, siapa yang akan menjaga Mami? Jadi kamu harus makan, setelah itu minum obat dan tidur ya. Supaya kamu bisa menjadi anak kuat dan selalu bisa menjaga Mami.''
''Iya Om.''
''Apa perlu Mami menelepon Papi?'' sahut Aruna.
''Tidak usah, Mi. Papi saja tidak peduli pada kita dan tidak mencari kita. Bahkan Papi tidak memberikan kita tempat tinggal. Untung saja Om Daniel yang selalu ada untuk kita. Aku tidak mau Papi, aku hanya ingin Om Daniel. Papi jahat!"
''Sudah, jangan marah dulu. Makannya di habiskan.'' Sela Daniel.
''Om sudah, aku kenyang.''
''Baiklah, sudah habis setengah juga. Sekarang minum obatnya.'' Kata Daniel. Saat itu Aruna dibuat kagum dengan sisi lain Daniel, bisa merawat Zidane dengan sangat telaten.
''Dia belum pernah menikah dan punya anak tapi dia begitu sabar merawat Zidane. Padahal Zidane bukan darah dagingnya. Oh Tuhan, haruskah aku membuka pintu hatiku untuknya? Tapi aku masih takut untuk memulai kehidupan rumah tangga lagi.'' Gumam Aruna dalam hati.
''Om, terima kasih ya. Terima kasih untuk semuanya. Aku sayang, Om.'' Zidane lalu memberikan pelukan untuk Daniel.
''Om juga sayang kamu.'' Daniel mengecup pucuk kepala Zidane.
''Ya Tuhan, rasanya aku sudah sangat menyayangi anak ini. Tapi sulit sekali meluluhkan hati Ibunya,'' batin Daniel.
__ADS_1