
Dua tahun telah berlalu.
Siang itu, mendadak Bram dan Dicko harus menghadiri rapat. Rapat dadakan itu berkaitan dengan produk TRF di satu kota kecil yang omset penjualannya mendadak merosot drastis. Dan anehnya, omset penjualan yang menurun itu hanya terdapat di satu outlet mereka yang ada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Sedikit info, demi menjaga privasi Aruna, Teddy dan Shanti memutuskan berhenti bekerja di TRF sejak Bram dan Aruna resmi berpisah. Dan mereka memilih untuk membantu Tante Novi di minimarketnya. Yang kabarnya semakin ramai pengunjung itu. Dan keduanya pun sepakat tidak akan mengatakan pada siapapun dimana Aruna saat ini berada. Dan untungnya, baik Bram maupun Dicko, tidak ada yang bertanya.
Di ruangannya, Bram kini tengah mengobrol dengan Dicko. Sejak dua tahun terakhir ini, hubungan mereka perlahan kembali membaik. Meski kini, Bram jadi jarang terbuka pada kakaknya. Sejak dua tahun terakhir ini pula, Bram seakan terkesan menutup diri. Sampai detik ini pun, Baik Bram maupun Dicko, masih terlihat sendiri. Seakan mereka enggan mendekati makhluk yang bernama wanita.
"Kok bisa ya, omsetnya menurun?" gumam Bram sembari memusatkan perhatiannya pada laporan penjualan di tangannya.
"Itu hal biasa. Mungkin ada pesaing baru." Kata Dicko santai.
"Tapi ini aneh. Kenapa hanya di satu outlet saja yang ada di salah satu Mall kota itu. Sementara di outlet yang lain, omsetnya masih stabil."
"Mungkin mode kita lagi kurang diminati. Modelnya sudah ketinggalan jaman mungkin. Coba kalau masih ada Ar__" Dicko terdiam seketika.
Sudah dua tahun lamanya. Dicko masih belum bisa melupakannya. Bram yang mendengar kalimat Dicko yang tiba - tiba saja terpotong itu pun terdiam seketika. Sekelebat bayangan Aruna pun mendadak melintas di benaknya.
Bram tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sampai detik ini, dia masih belum bisa melupakan Aruna. Bahkan cinta dihatinya untuk Aruna, masih tersimpan apik. Hingga membuat Bram seakan enggan melirik wanita lain. Kenangannya bersama Aruna masih melekat indah di hatinya.
"Oh ya, apa kamu sudah punya solusinya?" tanya Dicko memecah hening. Sebab keduanya tenggelam dalam kenangannya untuk beberapa saat.
"Hm? Solusi?"
Dicko mengangguk, "iya, solusi. Apa perlu aku cari tau sendiri?" tawar Dicko.
"Kakak yakin mau pergi kesana?"
"Kenapa tidak?"
Bram menatap Dicko heran. Tumben kakaknya mau pergi ke kota kecil yang bahkan belum pernah didatanginya.
Sedangkan Dicko berpikir, dengan pergi ke kota yang belum pernah dia datangi sebelumnya, itu bisa menambah pengalaman baru. Siapa tahu, pelan dia bisa melupakan Aruna yang sudah pergi entah kemana. Aruna bahkan sudah mengganti nomor ponselnya dan sudah menonaktifkan akun media sosialnya. Wanita itu benar - benar telah menghilang dari peraduannya.
"Oh ya, besok adalah pernikahannya Randa. Kamu akan datang kan ke pernikahannya?" tanya Dicko tiba - tiba.
"Kita lihat saja nanti."
Bram pun mendesah berat. Kata pernikahan entak kenapa membuatnya kembali teringat pada Aruna. Pernikahannya yang gagal sedikit banyak telah membuatnya terpuruk. Bahkan untuk bangkit kembali dari keterpurukan itu, Bram butuh waktu yang lama.
.
.
Keesokan harinya. Bram dan Dicko akhirnya memutuskan untuk menghadiri pernikahannya Randa dan Sheila. Setelah dua tahun akhirnya dua sejoli itu dipersatukan dalam ikatan tali pernikahan. Dan akad nikahnya di selenggarakan secara tertutup. Tidak boleh ada wartawan yang boleh meliput prosesi akad nikah tersebut.
Setelah akad nikah selesai di laksanakan, hanya ada acara kumpul - kumpul keluarga. Sementara untuk resepsinya akan di langsungkan malam nanti.
Sebagai teman, Dicko memberikan ucapan selamat dan turut berbahagia untuk kedua mempelai. Sementara Bram, sedang duduk seorang diri di pojokan sambil sibuk bermain ponsel.
Di tengah - tengah obrolan Dicko dengan Randa dan Sheila. Tiba - tiba seorang wanita cantik datang. Siapa lagi kalau bukan Sarah. Rekan seprofesi Randa sekaligus teman lama.
"Hai Randa ... Sheila ... selamat ya?" ucap Sheila sambil bercipika - cipiki dengan Randa dan Sheila.
"Makasih ya Sarah?" ucap Sheila.
"Oh ya, Sarah. Kamu kesini sama siapa?" tanya Randa kemudian melirik Dicko.
"Sendiri. Mau datang bareng siapa? Sampe skarang aku masih sendiri. Cari yang pas itu susah ya?"
"Aku rasa tidak juga." Kemudian kembali melirik Dicko. Dan Sarah pun baru menyadari ternyata ada Dicko diantara mereka.
__ADS_1
"Hai Dicko ..." sapa Sarah kemudian sembari mengarahkan tatapannya pada Dicko.
"Hai ..." balas Dicko singkat seraya mengulum senyum sangat tipis. Duh, Dicko pelit amat senyumnya.
"Sudah lama ya kita jarang ketemu. Oh ya, apa kabar kamu?"
"Baik. Sangat baik." Singkat, padat, dan jelas jawaban Dicko.
Sementara di pojokan, Bram yang tengah dibuat asik dengan ponselnya. Tiba - tiba saja dikagetkan dengan seseorang yang tanpa sengaja terjatuh dan entah bagaimana caranya orang itu jatuh kedalam dekapannya. Seketika tatapan mereka pun bertemu. Seseorang yang tanpa sengaja jatuh dalam dekapan Bram itu adalah seorang wanita berparas ayu.
"Maaf, maafkan saya." Ucap wanita itu seraya bangun dari dekapan Bram. Untung saja dia jatuh menimpa Bram kalau tidak dia pasti sudah jatuh bebas ke lantai.
Bram hanya menatap wanita itu datar.
"Lain kali hati - hati." Sesingkat itu tanggapan Bram atas ucapan permintaan maaf wanita itu.
Duh, cakep - cakep tapi dingin. Batin wanita itu bergumam.
Sejak berpisah dengan Aruna, sikap Bram terhadap wanita menjadi dingin. Entah karena luka hatinya yang belum sembuh. Atau karena dia masih mencintai Aruna.
"Iya, lain kali saya akan hati - hati. Oh ya, kenalkan, saya ..." wanita itu sudah mengulurkan tangannya hendak berkenalan. Tetapi Bram malah kembali menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Hingga wanita itu pun menarik kembali uluran tangannya dengan wajah cemberut.
Namun tiba - tiba terdengar suara Sheila memanggil.
"Clara ... ayo kesini." panggil Sheila sambil melambaikan tangannya pada wanita yang berdiri di depan Bram.
"Hai Sheil ..." sapa wanita yang bernama Clara seraya mulai berjalan menghampiri Sheila.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Sheila.
"Sendiri lah. Masa sama satpam." Seloroh Clara, hingga membuat keduanya tertawa.
"Hai, aku Clara. Senang bisa berkenalan dengan kalian." Ucap Clara sambil memandangi mereka satu per satu.
"Oh ya, Sheil. Itu siapa ya?" tanya Clara sembari menunjuk ke arah Bram.
Mereka pun serentak mengikuti arah pandang Clara. Yang menunjuk Bram yang masih saja asyik dengan ponselnya.
"Ooh ... itu Bram. Kenapa?"
Clara menggeleng, seraya mengulum senyum.
"Dingin banget."
Mereka pun saling berpandangan. Bram memang sudah sangat berubah sejak berpisah dari Aruna.
.
.
Sementara itu, di lain tempat, di kota MA.
Di sebuah toko pakaian di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu. Tampak ramai akan pengunjung dari kalangan muda - mudi. Mereka tengah mengerumuni seorang wanita dengan segala macam uneg - uneg dan kemauan mereka.
"Kak, aku maunya bajuku di buat seperti ini loh Kak." Seru seorang gadis muda.
"Kak, aku juga mau dong Kak yang kayak gitu." Seru gadis muda yang lainnya.
"Aku maunya yang kayak gini Kak."
Begitulah keinginan para pelanggan di toko Windi Collection. Sejak Aruna menerapkan metode penjualan dengan cara TENTUKAN GAYAMU, para pelanggan mulai ramai berdatangan. Toko itu tidak hanya menjual pakaian jadi. Toko itu juga menyediakan jasa desain pakaian sesuai dengan yang mereka inginkan. Seketika, toko Oma Windi pun jadi laris manis. Setiap hari selalu ramai pengunjung. Aruna bahkan sampai kewalahan meladeni keinginan mereka.
__ADS_1
Oma Windi pun bahkan harus menambah satu orang lagi jasa penjahit untuk membantunya dan Aruna memenuhi pesanan pelanggannya.
Setelah para pelanggan pergi, Aruna sudah merasa kehausan. Dia pun hendak naik ke lantai empat untuk membeli minuman dingin. Toko Oma Windi berada di lantai tiga pusat perbelanjaan itu.
"Oma ... aku beli minuman dulu sebentar ya?" ijin Aruna pada Oma Windi yang tengah sibuk memeriksa pembukuannya.
Oma Windi adalah tantenya Om Heru. Dan di kota ini, Oma Windi hanya tinggal sebatang kara. Di rumah besarnya dia hanya tinggal bersama pembantu rumah tangganya yang sudah dianggapnya seperti saudara dan juga Aruna.
Kehadiran Aruna membuat Oma Windi begitu bahagia. Dalam sekejap hidupnya kembali terisi dan tidak merasa kesepian lagi.
"Iya. Oma titip satu ya? Air mineral aja."
"Oke Oma."
Aruna pun kemudian pergi ke lantai empat dengan menaiki tangga eskalator.
Seperti itulah keseharian Aruna di kota ini bersama Oma Windi. Di sibukkan dengan kegiatannya di toko pakaian Oma Windi selama dua tahun terakhir ini.
Sesampainya di lantai empat, langkah kakinya terhenti di depan sebuah outlet ternama. Setiap kali naik ke lantai empat, langkah kakinya selalu terhenti di depan outlet itu. The Royal Fashion. Seakan bayangan masa lalu senantiasa mengikutinya.
Samar - samar terdengar para karyawan outlet ternama itu tengah bergosip.
"Kalian sudah dengar belum?" tanya seorang karyawati memulai gosipnya.
"Ada kabar apa?" tanya yang lain antusias.
"Putra dari pemilik tempat ini akan datang berkunjung kemari. Katanya, hanya untuk melakukan peninjauan."
"Oh ya? seperti apa orangnya?"
"Dengar - dengar sih orangnya sangat tampan."
"Waah ... kayaknya aku harus tampil maksimal nih. Trus, kapan orangnya akan datang?"
"Belum tau. Mungkin satu dua hari ini."
"Wow ...beneran?"
Begitulah gosip yang terdengar diantara mereka. Tetapi Aruna tidak mau ambil pusing. Yang telah berlalu biarlah berlalu. Masa lalu cukuplah menjadi kenangan.
Aruna pun melenggang menuju tempat yang menjual aneka minuman dingin. Rasa haus seakan telah membuat tenggorokannya mengering.
Setelah membeli minuman dingin, Aruna lalu kembali ke toko Oma Windi.
"Ini buat Oma." Sembari menyodorkan sebotol air mineral itu pada Oma Windi.
"Makasih Run. Oh ya, Run. Lusa adalah ulang tahun kamu kan? Kamu mau kita rayakan dimana?"
"Tidak perlu Oma. Lagi pula, di kota ini aku tidak punya banyak teman."
"Kok gitu sih? Kita rayakan di rumah saja ya? seperti tahun kemarin. Hanya kita bertiga. Kamu, Oma, dan Cika."
"Terserah Oma deh." Aruna pun tersenyum hambar. Seperti itulah Oma Windi yang penuh kasih sayang. Aruna hanya berharap, di hari ulang tahunnya kali ini, setidaknya akan ada sedikit keajaiban.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1