
"Akh ..." Rama kembali memegangi kepalanya. Satu per satu bayangan di masa lalunya secara ajaib memutar kembali dalam memorinya. Dan hanya satu nama yang terucap dari bibirnya.
"Aruna ..."
"Aruna ..."
Rama menyebut nama itu berulang kali. Seiring dengan air mata yang mulai bercucuran. Mendadak hatinya terasa perih. Dadanya begitu sesak.
"Aruna ..."
Berjanjilah, kamu tidak akan pergi dariku. Kamu akan selalu berada di sisiku.
Kalimat itu kembali menggema di telinganya. Terdengar sangat jelas. Kalimat yang pernah Aruna ucapkan dulu. Rama ingat semuanya. Ingatannya sudah kembali.
Rama pun bergegas masuk ke mobilnya. Dan menumpahkan tangisnya di dalam mobil itu.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah berjanji padanya, aku tidak akan pernah meninggalkannya." Gumam Rama sambil menitikkan air mata. Menyadari sudah terlalu lama dia meninggalkan wanita yang dicintainya.
Kemudian Rama mengambil ponselnya, dan mulai mencari satu nama di daftar kontaknya. Setelah menemukannya, Rama pun mulai menghubunginya.
"Halo ..." sapa seseorang di seberang.
"Randa ... ini aku."
"Rama? ada apa?"
"Bukan. Ini aku."
"Iya, Rama. Ada apa?"
"Aku Dicko!"
"........." hening. Yang terdengar hanya suara ******* napas Randa.
"Randa? Kamu masih disana kan? Aku tunggu kamu, sekarang. Kita harus bicara." Kemudian memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Randa.
_____
Setelah menerima telepon dari Rama, langsung saja Randa bergegas menemui Rama di apartemennya. Dan kini, mereka tengah duduk berhadapan di sofa ruangan apartemen itu.
Randa terlihat gugup. Sedang memikirkan jawaban apa yang akan dia lontarkan atas pertanyaan yang akan Rama ajukan padanya nanti.
Sementara Rama terlihat beberapa kali menghembuskan napas berat. Dengan wajah tertunduk. Namun sejurus kemudian, dia mengangkat wajahnya, memandangi Randa.
"Katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi." Ucap Rama dengan tatapan menyelidik.
"Kamu kehilangan ingatanmu. Setelah operasi itu, setahun yang lalu."
"Kenapa aku bisa jadi Rama?"
"Om Danu mengubah identitas kamu."
"Kenapa?"
Randa terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan pada Rama kalau Papa Danu melakukan itu untuk Bram.
Setahun yang lalu, catatan hasil pemeriksaan milik Dicko tertukar dengan milik orang lain yang memiliki riwayat penyakit kanker stadium 4. Sementara Dicko sendiri hanya menderita tumor otak. Hal itu sampai membuat Dicko putus asa. Dia mengira hidupnya tidak akan lama lagi. Dan dia pun berniat mendonorkan matanya untuk Aruna jika hidupnya tidak terselamatkan lagi.
__ADS_1
Berkat Randa yang selalu menyemangatinya, akhirnya Dicko mau mengikuti saran Randa untuk berobat di Singapura. Namun sebelum itu, Dicko sudah membuat rekaman yang berisi pesan terakhirnya untuk Aruna jika suatu saat terjadi apa - apa padanya nanti.
Papa Danu sudah mendengar bahwa operasi pengangkatan sel - sel tumor di kepalanya nanti, kemungkinan akan menghilangkan memorinya. Dan Papa Danu pun memanfaatkan hal ini.
Sebelumnya, Papa Danu sempat mendengar pembicaraan Randa dan Dicko, bahwa Dicko akan berusaha keras untuk sembuh demi Aruna. Dan keberangkatan Randa dan Dicko ke Singapura itu pun tanpa sepengetahuan Bram. Saat mereka sudah berada di Singapura, Papa Danu malah mengatakan pada Bram bahwa kakaknya sudah meninggal.
sebulan berada di Singapura sebelum melakukan operasi, Dicko meminta bantuan Randa untuk mencarikan Aruna pendonor mata. Dan dia akan membayarnya berapapun. Beruntung, berkat bantuan teman seprofesi Randa, akhirnya mereka bisa menemukan pendonor.
Di Singapura Dicko menjalani berbagai pengobatan. Mulai dari pengangkatan sel - sel tumor, hingga kemoterapi yang memakan waktu lama. Namun siapa sangka setelah operasi itu, Dicko malah kehilangan memorinya. Dan Papa Danu malah memanfaatkan hal itu. Papa Danu tidak memberitahu Dicko bahwa Bram dan Aruna sudah menikah. Sementara Dicko tengah berjuang untuk kesembuhannya demi Aruna. Demi janjinya akan selalu ada untuk Aruna.
"Maaf, untuk itu sebaiknya kamu tanya sendiri pada Om Danu."
"Ada hal yang aku tidak tau tentang Aruna?"
"Emm ... Dicko, Aruna sudah menikah dengan Bram. Aruna tau kamu sudah meninggal."
Kemudian Randa mengambil ponselnya. Dan memperlihatkan sebuah video yang sengaja dia rekam saat Aruna dan Bram pergi ke kuburan Dicko. Saat itu Randa mengikuti mereka secara diam - diam untuk memastikan kalau Aruna percaya bahwa Dicko sudah meninggal. Dan hal itu atas permintaan Papa Danu. Papa Danu sendiri sudah meminta agar Randa mau membantunya untuk membuat Dicko melupakan Aruna.
"Tuhan, aku mencintainya. Aku mencintainya."
Kalimat yang di ucapkan Aruna di sela tangis pilunya di depan kuburan itu. Hingga membuat Rama meneteskan air mata.
"Jadi itulah kenapa Papa mengubah identitasku," Rama mengangguk pelan, "baiklah. Aku akan hidup sebagai Rama. Akan aku ikuti permainan Papa."
Sangat di sayangkan, di balik kematiannya yang di palsukan ternyata ada campur tangan sang ayah. Hingga sang ayah merubah identitasnya. Dari seorang Dicko Adiguna menjadi Rama Antonio.
Demi kebahagiaan satu putra sang ayah mengorbankan kebahagiaan putra yang lain. Dan Dicko untuk sementara waktu, akan hidup sebagai Rama. Sampai dia tahu alasan ayahnya melakukan ini.
"Tolong rahasiakan ini. Jangan sampai ada yang tau, kalau aku adalah Dicko. Biarkan orang - orang mengenalku sebagai Rama." Pinta Rama.
"Mungkin Bram dan Aruna harus tau, siapa kamu sebenarnya. Mereka tidak tau kamu masih hidup dan hilang ingatan."
"Aruna sudah menikah. Biarkan dia berbahagia."
"Aku hanya ingin tau perasaannya yang sebenarnya. Apakah dia lebih mencintai Bram, atau aku." Sambil menatap tajam Randa.
Tidak ada yang bisa Randa lakukan, selain membantu sahabatnya dalam merahasiakan identitasnya yang sebenarnya.
Pasti ini sangat berat untuk Dicko, hidup dengan identitas lain sebagai Rama. Di saat dia tengah berjuang untuk kesembuhannya demi cintanya, dia justru kehilangan ingatannya. Dan disaat dia telah pulih, wanita yang dicintainya kini telah menjadi milik orang lain. Milik adiknya sendiri. Dan di balik ini semua, ada campur tangan sang ayah. Sungguh miris.
.
______
.
Di malam yang sama.
Aruna hendak membaringkan diri di ranjangnya. Di sampingnya, Bram telah tertidur lelap. Tangannya sudah bersiap menarik selimut, sampai terdengar bunyi notifikasi tanda pesan masuk di ponselnya. Aruna pun meraih ponselnya dari nakas kecil di sisi ranjang. Lalu membuka isi pesan itu kemudian.
Pesan itu berisi sebuah foto. Ya, foto dirinya saat sedang bersama Rama di taman sore tadi. Foto yang sama seperti yang pernah di kirimkan oleh nomor tak dikenal di ponselnya Bram.
Dan pesan berikut berisi sebuah kalimat yang membuat Aruna mendadak gemetaran.
Apa kamu pikir orang yang sedang bersamamu itu adalah orang yang berbeda? Kamu yakin dia bukan orang yang kamu kenal?
Aruna mencoba mencerna dan memahami maksud kalimat itu. Seketika dia pun teringat pada Dicko. Apakah maksud dari pesan itu mengatakan bahwa Rama adalah Dicko?
__ADS_1
Tidak mungkin!
Dicko sudah meninggal. Aruna sangat yakin. Bahkan Aruna sendiri sering pergi ke makamnya. Mana mungkin Dicko masih hidup.
Ini pasti hanya kerjaan orang - orang iseng yang ingin mengganggu ketenangan kehidupan rumah tangganya. Apakah ini perbuatan Hanna lagi? Wanita itu sangat benci pada Aruna. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat Aruna menderita. Demi membalaskan sakit hatinya, karena tidak bisa mendapatkan Bram.
Apakah mungkin ini perbuatan Hanna? Kalau bukan Hanna, lalu siapa lagi?
"Sayang, kenapa belum tidur?" Bram terbangun dan menatap nanar Aruna yang yang sedang menatap layar ponselnya dengan dahi mengerut.
Aruna pun terkaget. Lalu segera mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali di nakas.
Dengan cepat tangan Bram melingkar di pinggangnya. Dan membawanya ke dalam dekapannya saat Aruna baru saja merebahkan dirinya.
"Kenapa kok muka kamu tegang begitu?" tanya Bram sembari mempererat dekapannya.
Aruna menggeleng lemah, "tidak kenapa - napa."
"Pesan dari siapa?"
Sontak Aruna menadahkan pandangannya. Menatap heran Bram. Jadi, sejak tadi dia belum tertidur pulas.
"Kenapa kaget begitu? Aku masih bisa dengar walaupun mataku tertutup."
"Pesan dari Alika. Dia hanya menanyakan kabarku." Aruna berbohong.
"Kamu tidak bohong?"
"Tidak ..."
"Yakin?"
"Untuk apa aku bohong."
"Ya sudah, ayo tidur." Lalu mengecup lembut kening Aruna.
Meski sudah berusaha memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Bram, namun rasa kantuk itu belum jua datang. Aruna masih memikirkan isi pesan itu. Yang membuat rasa keingintahuannya mendadak muncul.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Pa kabar readers 🤗
Ibadahnya lancar kan?
Otor cuma mau bilang thankyou so much udah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini.
Tetap jaga kesehatan ya 🤗
Jangan lupa like nya ya 🤗
Saranghae ❤️
__ADS_1
Otor Kawe