
"Apa maksud kamu?" tanya Bram ingin kejelasan maksud kalimat itu. Meski sebenarnya Bram sudah punya firasat buruk.
"Mari kita ..." Aruna memejamkan matanya sembari menarik napas panjang. Sementara Bram terlihat tegang.
"Mari kita bercerai ..."
Kalimat itu bagai menggema di seisi ruangan. Dan Bram seketika terpaku.
Bukan hanya Bram, Dicko yang bisa mendengar jelas kalimat itu pun terhenyak. Seketika perasaannya menjadi tak enak. Rasa bersalah itu pun mendadak menderanya. Walau bagaimanapun, dia juga penyebab retaknya rumah tangga Aruna dan Bram.
Sementara Sarah, hanya bisa memandangi mereka satu per satu. Tanpa mengerti situasinya.
Bram menatap Aruna lekat dengan buliran air mata yang kembali membanjiri wajahnya.
"Cerai?" lirih Bram berkata teriring rasa sakit yang tiada tara. Serasa dunianya runtuh seketika. Seakan dia kembali terjebak di dalam mimpi buruk.
"Maafkan aku." Ucap Aruna lirih.
"Cerai ... itu yang kamu inginkan? Kenapa?"
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku tidak ingin kita saling menyakiti. Maafkan aku."
Kini isak tangis Bram terdengar. Rasanya seperti napasnya terhenti detik itu juga. Bram pun tertunduk sambil terisak dalam tangisnya. Semakin lama semakin menyayat hati. Kata yang selalu di bencinya. Akhirnya keluar dari mulut Aruna sendiri.
Ya Tuhan, Bram tidak bisa menahan pilu dihatinya. Sekali lagi hatinya remuk. Hancur sehancur - hancurnya. Tidak menyangka Aruna menginginkan hal ini. Hal yang sangat ditakutinya. Adalah kehilangan cintanya. Sekaligus, Bram kehilangan calon bayinya, dan kehilangan isteri tercintanya.
Kenapa? Kenapa takdir enggan berpihak padanya? Seperti inikah akhir kisah hidupnya?
Tak kuasa Aruna melihat Bram seperti itu. Aruna pun tak bisa menahan tangisnya. Kemudian Aruna kembali berbaring dan membenamkan wajahnya di bantal.
Perlahan Bram pun berdiri. Dengan tatapan kosong Bram mulai melangkahkan kakinya gontai. Lesu, bagai tak bertenaga. Namun air mata masih saja membanjiri wajahnya.
Bram keluar dari ruangan itu, melewati Dicko dan Sarah begitu saja.
Dicko ingin sekali menenangkan Aruna. Akan tetapi, dia juga tidak bisa membiarkan Bram seperti ini. Saat ini Bram dalam keadaan hancur. Meski hubungan mereka sedang tidak baik saat ini, tapi Dicko pun tidak bisa membiarkan Bram. Dia takut Bram akan berbuat hal yang tidak - tidak.
Dicko bimbang, memilih antara Aruna atau Bram saat ini. Dan Sarah yang melihatnya, mengerti akan hal itu.
"Aruna biar aku yang jaga. Kamu susul saja adikmu." Usul Sarah.
"Trima kasih." Kemudian Dicko bergegas menyusul Bram.
Di parkiran Bram tengah menangis pilu sambil menyandarkan punggungnya di pintu mobil. Perlahan tubuhnya pun mulai merosot. Hingga akhirnya Bram berjongkok sambil meremas kuat rambutnya dengan kedua tangannya.
Orang - orang yang melewati parkiran itu sering melempar tatapan aneh padanya. Tapi Bram tidak peduli. Dia terus saja menangis.
Langkah Dicko terhenti saat dilihatnya Bram berjongkok sambil menangis. Perlahan Dicko memberanikan diri menghampirinya.
"Bram ..." panggil Dicko lirih.
Bram pun mendongak. Menatap kakaknya sendu.
"Untuk apa kamu kemari? Ternyata kamu masih punya nyali."
"Maafkan aku."
"Cih ... Maaf? Setelah semua yang kamu lakukan, kamu meminta maaf? Semudah itu kamu mengucapkan kata maaf. Semua ini terjadi gara - gara kamu."
"Aku tau aku salah. Kamu boleh membenciku. Benci aku sepuasmu."
__ADS_1
Bram pun bangkit. Dan menatap Dicko tajam. Amarah itu masih ada. Tapi pilunya hati Bram saat ini, tak mampu tertahankan. Dan amarah itu seakan tenggelam.
"Aku sudah kehilangan dia. Aruna ingin berpisah dariku. Aku tidak sanggup menerima ini." Ucap Bram sambil terisak.
Dicko jadi tak tega melihatnya. Bram benar - benar hancur dan terluka.
"Jika aku kehilangan dia, untuk apa lagi aku hidup. Dia adalah hidupku. Satu - satunya dalam hidupku."
Dicko pun tak kuasa membendung air matanya lagi. Dan akhirnya, untuk pertama kalinya, sejak Dicko kembali. Bram menghambur ke dalam pelukannya. Bram menangis pilu dalam pelukan kakaknya.
"Aku tidak sanggup kehilangan dia. Tolong lakukan sesuatu untukku, seperti dulu. Tolong bujuk dia." Tangis pilu Bram.
"Iya, aku akan mencoba membujuknya." Sambil menepuk lembut punggung Bram.
"Tolong jangan rebut dia dariku."
Hati Dicko seakan tersentil mendengar kalimat itu. Betapa kejamnya Dicko jika sampai melakukan hal itu. Merebut Aruna dari adiknya sendiri? Sungguh lucu.
Tidak bisa dipungkiri, Dicko pun sangat mencintai Aruna. Lalu Dicko harus bagaimana? Di satu sisi, dia ingin memiliki Aruna. Dan di sisi lain, hatinya pun tak tega melihat Bram dalam keadaan seperti ini. Walau bagaimanapun, Bram adalah adiknya. Dan Dicko masih menyayangi adiknya.
.
.
Sarah masih menemani Aruna di ruangan itu.
"Maaf, aku mungkin belum mengenal kamu. Tapi dari yang aku lihat, sepertinya suamimu sangat mencintaimu." Ucap Sarah memulai obrolannya.
Aruna yang tengah berbaring, menatap Sarah sendu. Aruna memang tidak mengenal Sarah. Tapi entah kenapa Aruna merasa ada yang berbeda dari Sarah. Dari sikap dan caranya menatap Dicko, Aruna seakan merasa Sarah menyukai Dicko. Hal itu sangat jelas terlihat, saat Sarah datang memeriksa kandungannya di rumah waktu itu. Tapi entahlah, mungkin saja Aruna salah.
"Banyak hal yang sudah terjadi. Jika aku ceritakan, dokter tidak akan mengerti." Ucap Aruna sembari mengulum senyum menatap Sarah yang berdiri di sisi ranjang.
"Maaf, jika aku boleh tau, apa dokter dan Dicko saling mengenal sebelumnya?" tanya Aruna tiba - tiba.
"Maaf dok. Tidak usah di jawab." Sela Aruna cepat.
"Tidak usah panggil dokter. Panggil saja Sarah."
"Iya, Sarah. Aku hanya bertanya, tidak perlu di jawab."
Sarah menarik napas panjang, "bisa di bilang, iya, kami saling mengenal. Kebetulan kami satu universitas waktu itu. Tapi beda jurusan."
"Ooh ..."
Tiba - tiba terdengar bunyi decitan pintu terbuka. Dari pintu itu terlihat Dicko tengah berjalan menghampiri.
"Trima kasih sudah menemani Aruna." Ucap Dicko sambil menatap Sarah. Kemudian berdiri di sisi ranjang di samping Aruna.
"Sama - sama." Sambil menatap Dicko berbinar - binar.
Namun mendadak tatapan berbinar itu seakan meredup saat Sarah melihat Dicko tengah membelai lembut puncak kepala Aruna. Dan Aruna sempat menangkap perubahan itu meski sekilas.
"Ee ... maaf, kalau gitu aku permisi dulu. Masih ada pasien lain yang harus aku tangani." Pamit Sarah.
"Oh iya, silahkan. Sekali lagi trima kasih ya? Maaf sudah merepotkan kamu." Ucap Dicko.
"Itu sudah menjadi kewajiban aku. Permisi ..." sembari mengulum senyum. Kemudian keluar dari ruangan itu.
"Dokter Sarah cantik ya? Orangnya juga baik dan ramah." Ucap Aruna seakan menggoda Dicko.
__ADS_1
Dicko tersenyum tipis. Kemudian mengambil duduk di tepi ranjang. Aruna pun mencoba bangun dan di bantu oleh Dicko.
"Oh ya, menurut kamu dokter Sarah itu seperti apa orangnya?" tanya Aruna sambil menatap sorot mata Dicko.
Dicko pun menatapnya lekat. Aruna terlihat biasa saja, seakan dia telah melupakan kesedihannya saat ini.
"Apa ini saatnya kamu bertanya tentang orang lain?" Dicko malah balik bertanya. Tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun.
"Apa kamu serius dengan keputusan yang kamu ambil?" tanya Dicko lagi.
Aruna menganggukkan kepalanya.
"Kamu yakin?"
Aruna kembali mengangguk. Namun tiba - tiba, air matanya kembali berjatuhan tanpa permisi. Aruna ingin sekali menghalau air mata itu. Tapi entah kenapa air mata itu bercucuran begitu saja. Seakan tahu seperti apa perasaannya saat ini.
"Jika kamu belum yakin, maka jangan lakukan." Dicko tampak serius mengatakan hal itu.
"Kamu ingin aku tetap bersama Bram?"
Dicko menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian.
"Apa kamu masih mencintainya?" Dicko menatap Aruna lekat.
"Aku tidak tau." Sambil menggelengkan kepalanya dan air mata yang masih mengalir.
"Aruna ... jujur, aku ingin kamu jadi milikku. Tapi jika dengan cara seperti ini, ini salah."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku sangat mencintaimu. Apa kita tidak bisa hidup bahagia?"
"Tapi bukan dengan cara seperti ini."
Perlahan Dicko membawa kedua tangannya, mendekap wajah Aruna.
"Aku mohon, pertimbangkan kembali."
Aruna menggeleng, "keputusanku sudah bulat."
"Kembalilah bersama Bram." Sambil menatap lekat sorot mata Aruna.
Kini Aruna tertegun. Bukankah Dicko menginginkan ini? Kenapa sekarang, dia malah ingin Aruna kembali bersama Bram?
"Kamu tidak mencintaiku kan?" lirih Aruna.
Tak kuasa, Dicko pun merengkuh Aruna ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
Hanya ini yang bisa Dicko lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Dan untuk memperbaiki kembali hubungan persaudaraannya dengan Bram. Sama seperti dahulu, Dicko akan selalu mengalah untuk adiknya.
"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Kalau kita memang berjodoh, Tuhan pasti akan menyatukan kita."
Aruna mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Dicko. Jujur, Aruna tidak ingin Dicko pergi lagi darinya. Jika Dicko memintanya untuk kembali bersama Bram, Aruna harus berbuat apa? Haruskah dia kembali bersama Bram?
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1
Saranghae ❤️
Otor Kawe