Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 45 Super Heronya Zidane


__ADS_3

Perjalanan pulang, Aruna menelepon Gita. Ia ingin meminta tolong Gita untuk menemani Zidane. Karena Dinda sendiri sedang keluar kota. Aruna juga tidak ingin merepotkan mertua ataupun orang tuanya.


''Halo Git, lagi sibuk nggak?''


''Ini gue lagi di jalan mau pulang. Ada apa Run?''


''Jadi gini nanti malam gue ada gala dinner, gue di ajak saka bos. Mau nolak juga nggak enak, apalagi ini hari pertama gue kerja.''


''Serius elo hari ini udah kerja?''


''Iya. Gue di rumah semakin stres.''


''Ya udah, terus elo pingin gue ngapain?''


''Gue titip Zidane ya. Meskipun ada Bi Tuti dan Mbak Lasmi tetap aja gue nggak tenang.''


''Oke, jam berapa elo berangkat?''


''Jam 7an.''


''Oke, nanti gue kesana. Pokoknya fokus kerja ya. Selagi gue bisa, pasti gue bantu.''


''Thank you ya, Git. Tadinya mau minta temenin Dinda sekalian tapi Dinda kan sedang di luar kota.''


''Iya, udahlah jangan khawatir kayak sama siapa saja. Ya udah see you ya.''


''Iya Git, take care ya.'' Panggilan pun berakhir. Aruna lega karena masalah Zidane sudah ada Gita yang bisa ia andalkan.


Sesampainya di rumah, Aruna langsung menuju kamar Zidane.


''Zidane, sedang apa nak?'' Aruna mendekat kearah Zidane yang tampak sibuk di meja belajarnya.


''Hei Mami, Mami sudah pulang?'' Zidane langsung memberikan pelukan untuk Maminya.


''Iya sayang. Kamu sedang apa?''


''Sedang menggambar.'' Zidane menunjukkan hasil gambarannya pada Aruna. Aruna mengernyitkan dahinya, mencoba menelaah apa yang sedang Zidane gambar. Tampak sketsa wajah seorang pria.


''Siapa itu sayang? Itu seperti superman?" Aruna mencoba menebak apa yang di gambar oleh putranya.


''Bukan Mami. Tapi dia memang seperti superman. Coba Mami tebak?''


''Kalau superman seharusnya S tapi kenapa ini D? Kamu sedang mencoba menciptakan karakter imajinasi kamu ya?''

__ADS_1


''Bisa di bilang begitu, Mi. Ah Mami payah, masa tidak mengenalnya.''


''Sungguh Mami tidak tahu.''


''Berarti gambarku jelek ya, Mi. Memang sih ini tidak wajahnya mirip tapi aku sudah berusaha.'' Zidane menunduk sedih sambil memeluk buku gambarnya.


''Memangnya itu siapa sayang?''


''Ini Om Daniel, Mi.''


''Hah? Om-Om Daniel?'' Aruna tergagap tidak percaya, Zidane menggambar wajah Daniel dengan tubuh superhero.


''Iya Mi. Om Daniel adalah hero bagi Zidane. Karena dia sudah menyelamatkan Mami. Jadi Zidane menggambar ini untuk Om Daniel. Waktu itu Zidane belum terpikirkan hadiah apa yang akan Zidane berikan untuk Om Daniel. Dan akhirnya Zidane memutuskan untuk membuat gambar ini saja.''


''Zidane, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Tuan Daniel ya. Mami tidak ingin terjadi suatu masalah. Apalagi Tuan Daniel itu atasan Mami. Mami khawatir kalau Tuan Daniel merasa tidak nyaman atau mungkin dia hisa berpikir buruk tentang Mami. Mami bekerja juga untuk membayar hutang Mami pada Tuan Daniel. Karena saat itu Tuan Daniel sudah membiayai semua perawatan Mami di rumah sakit.''


''Iya Mami, Zidane mengerti. Tapi Zidane boleh kan memberi hadiah ini untuk Om Daniel?''


''Iya boleh.''


''Setelah jadi, bantu Zidane untuk membingkainya ya?''


''Iya sayang. Oh ya Mami mau minta ijin sama kamu, sayang.''


''Nanti jam 7 malam, Mami harus menemani Tuan Daniel gala dinner bersama rekan-rekan bisnisnya disana. Dan nanti Tuan Daniel akan menjemput Mami. Jadi Mami minta maaf karena harus meninggalkan kamu. Tapi Mami meminta Tante Gira untuk datang kerumah.''


''Iya Mami tidak apa-apa. Mami dandan yang cantik ya malam ini.''


''Dandan yang cantik? Memang Mami kurang cantik ya?''


''Mami sangat cantik. Tapi kan Mami akan bertemu banyak orang. Apalagi Mami harus menemani bos Mami.''


''Ihhh kamu makin pintar saja. Baiklah kalau begitu Mami mandi dulu dan siap-siap ya.''


''Iya Mami.''


Selesai mandi, Aruna sibuk memilih pakaian mana yang cocok untuk menghadiri gala dinner nanti. Namun tiba-tiba ponsel Aruna berdering, panggilan masuk dari Arya.


''Halo Mas, ada apa?''


''Aruna maafkan aku, sepertinya malam ini aku tidak bisa ke rumah untuk membicarakan masalah Zidane. Karena aku ada urusan kantor.''


''Oh, iya tidak apa-apa.''

__ADS_1


''Lalu bagaimana dengan Zidane?''


''Dia baik-baik saja. Ya sudah Mas, aku sibuk. Kalau kamu tidak sibuk saja datang ke rumah.''


''Aruna tungg....,'' tut tut tut tut Aruna mengakhiri panggilannya begitu saja.


''Sayang, aku sudah memilihkan pakaian untukmu.'' Sahut Shella dari dalam kamar. Arya yang berada di dapur segera menuju kamar.


''Ada apa Shella?''


''Ini Mas pakaian untuk gala dinner nanti. Sayang sekali aku tidak bisa ikut.''


''Ini juga aku mewakili bos aku, sayang. Ini ulang tahun pernikahan perak relasi bisnisnya dari Australia. Katanya sekalian liburan, mereka merayakan pesta pernikahan disini. Tinggal datang dan menunjukkan undangan saja, sayang. Karena bos aku kan masih di Dubai dan belum bisa pulang. Kalau ada wakilnya kan, mereka tidak kecewa. Aku juga tidak mengenal banyak orang disana.''


''Awas ya kamu caper sama cewek-cewek disana.''


''Ya tidaklah, sayang. Aku bukan pria mata keranjang. Ya sudah kalau begitu aku siap-siap dulu ya.''


''Iya Mas.''


...****************...


Akhirnya Aruna memutuskan untuk memakai sheat dress off shoulder. Sebuah dress cantik yang menonjolkan lekuk tubuh dan bahu pundak mulus Aruna. Bahkan di usianya yang sudah 28 tahun, tidak membuat kecantikan dan bentuk tubuh Aruna berubah. Aruna memilih menggerai rambutnya dengan menyibaknya ke arah samping. Sehingga tampak jelas leher jenjangnya.


''Apa warna ini terlalu mencolok ya? Tapi ini acara pesta pernikahan, acara yang bahagia. Kalau pakai warna yang soft sepertinya kurang seru.'' Aruna bergumam sambil berlenggak-lenggok di hadapan cermin.


''Ah sudahlah, ini sudah bagus. Tapi rasanya deg-degan. Hampir 8 tahun aku tidak pernah menghadiri acara seperti ini. Bahkan selama 8 tahun duniaku hanya Zidane dan Mas Arya.''


Setelah Aruna siap, ia lalu turun kebawah, memastikan makan malam Zidane sudah siap.


''Bi, makan malamnya sudah siap?''


''Eh Nyonya, sudah siap Nyonya. Nyonya mau kemana? Kok sudah cantik saja. Saya juga sudah masak banyak.''


''Ini Bi, saya harus menemani atasan saya menghadiri gala dinner koleganya. Titip Zidane ya Bi, setelah ini Gita akan ke rumah.''


''Ya sudah, Nyonya berangkat saja. Saya dan Lasmi akan menjaga Den Zidane.''


''Sebenarnya saya tidak tega meninggalkan Zidane. Waktu saya bersama Zidane semakin berkurang. Tapi saya tidak punya pilihan, semua ini demi Zidane. Belum lagi nanti gaji untuk Bibi dan Mbak Lasmi.''


''Nyonya jangan pikirkan masalah gaji saya dan Lasmi. Saya dan Lasmi tidak akan meninggalkan Nyonya. Jangan pikirkan gaji kami Nyonya, lebih baik Nyonya fokus untuk kebahagiaan Nyonya saja. Kalau Nyonya bahagi, kami juga bahagia.''


''Terima kasih ya Bi untuk pengertiannya. Beruntung sekali masih ada Bibi dan Mbak Lasmi disini.''

__ADS_1


''Sama-sama Nyonya.''


__ADS_2