
Entah nasib sial apa yang menimpa Bram kali ini. Hingga harus berurusan dengan gadis aneh seperti Clara. Cantik sih cantik, tapi sikapnya itu terkadang ngeselin.
Teman bukan, saudara bukan, pacar bukan, istri apalagi. Tapi Bram kini malah menemani gadis aneh itu makan malam di sebuah restoran. Clara begitu lahapnya menyantap makanannya sampai tidak menyadari Bram tengah memperhatikannya.
Slurrrrrp !!!
Spaghetti melesat masuk ke mulut Clara. Bram malah meringis melihat cara makan Clara yang menurutnya sedikit kurang anggun itu. Alhasil mulutnya pun belepotan saus.
Katanya dia sepupunya Sheila. Tapi kok begini? Berbeda jauh dengan sepupunya yang model terkenal itu. Sheila orangnya sangat anggun tapi Clara?
Bram menggelengkan kepalanya sambil menatap aneh Clara. Bram duduk bersidekap dada sembari memperhatikan Clara yang terlalu asik menikmati makanannya. Bram memilih tidak memesan makanan dan hanya memesan juice saja. Karena sejak kejadian tadi, selera makannya mendadak sirna. Ditambah lagi melihat cara makan Clara yang belepotan seperti itu. Selera makannya benar - benar kabur entah kemana.
Slurrrrrp !!!
Clara kembali menyeruput spaghetti itu hingga mengeluarkan suara yang khas. Membuat Bram semakin meringis. Dan mulut Clara semakin belepotan saus. Sementara pengunjung restoran yang lain tengah memperhatikan mereka.
"Makan di depan pacarnya kok modelnya begitu."
"Kasihan tuh cowoknya. Udah cakep, eh dapetnya cewek belepotan."
Seperti itulah komentar - komentar nyinyir dari para pengunjung restoran yang lain. Akhirnya, berdasarkan komen para haters itu, Bram pun mengambil sehelai tissue yang ada di meja itu dan memberikannya pada Clara. Clara malah menatap aneh Bram yang mengulurkan tangannya memberinya tissue.
"Bersihkan mulut kamu. Jorok tau." Kesal Bram.
Clara menerima tissue itu lalu membersihkan wajahnya.
"Makasih Pak."
"Jangan Ge-Er ya, aku memberikan tissue itu bukan karna aku perhatian atau peduli padamu. Tapi karna pengunjung yang lain sedang membicarakan kamu."
Clara tidak peduli. Lalu mulai membersihkan mulutnya yang belepotan saus itu. Kemudian tersenyum menatap Bram. Membuat Bram semakin menatapnya aneh.
Setelah makan malam, Bram singgah sebentar di pinggir pantai. Menikmati deburan ombak dan semilir angin malam yang berhembus. Bram duduk di bagian depan mobil sembari memusatkan pandangannya pada hamparan luas lautan di depannya saat ini.
Bram terlihat menghembuskan napas panjang berkali - kali. Seperti tengah meluruhkan segala beban yang menghimpit di dadanya.
"Mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain itu sebenarnya sangat sulit." Ucap Clara tiba - tiba sembari menyodorkan jagung bakar pada Bram.
Bram malah menatap aneh jagung bakar itu dan Clara bergantian.
"Ini sangat enak. Sumpah. Cobain dulu."
Bram masih menatap Clara aneh. Tapi kemudian mengambil jagung bakar itu dari tangan Clara. Namun belum menikmatinya.
Clara pun mengambil duduk di samping Bram.
"Bapak pasti sangat mencintai mantan istri Bapak. Sampe mau bunuh diri begitu." Celetuk Clara. Rupanya Clara menyimak dengan baik kejadian di rumah sakit tadi. Hingga Clara pun bisa menyimpulkan apa penyebab Bram terlihat dingin. Terkadang seperti orang stress.
"Tau apa kamu soal hidupku." Desis Bram kesal.
"Aku pernah ada di posisi itu. Tapi bedanya, dengan sahabatku. Pasti sangat sulit buat Bapak kan? Tapi percayalah, jika Bapak ikhlas, semua akan baik - baik saja suatu hari nanti." Tumben Clara bisa bijak begini kalimatnya.
Bram mendesah. Apa yang dikatakan Clara tidak ada salahnya juga. Bram hanya perlu berlapang dada dan ikhlas menerima semuanya.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat berbeda. Dicko dan Aruna tengah duduk berdua di teras belakang rumah Oma Windi. Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Dengan Aruna sambil menyandarkan kepalanya di pundak Dicko. Sementara jari jemari keduanya saling menggenggam erat.
"Lain kali jangan berbuat nekat seperti tadi. Aku benar - benar takut." Ucap Dicko.
"Aku bingung harus bagaimana lagi. Hanya itu yang terlintas di pikiranku saat itu. Jika Bram masih belum bisa menerima kenyataan, aku jadi semakin merasa bersalah. Aku tidak ingin hidup dengan menanggung rasa bersalah. Hidup seperti itu sangat tidak nyaman."
"Tapi tetap saja, hal seperti itu berbahaya. Bagaimana kalau sampai terjadi apa - apa sama kamu? Aku harus bagaimana jika aku kehilangan kamu?"
Aruna mengangkat kepalanya. Lalu menoleh, menatap Dicko yang kini pun menatapnya. Kemudian merangkul lengan Dicko.
"Kamu tinggal cari wanita lain. Yang lebih cantik, lebih cerdas, lebih dewasa, leb__" kalimat Aruna terpotong. Sebab dengan cepat sapuan hangat bibir Dicko mendarat di bibirnya. Memagutnya dalam. Dan lebih lama. Seakan tidak ingin memberinya kesempatan untuk bicara.
"Jangan memintaku melakukan hal yang sangat sulit aku lakukan." Ucap Dicko setelah melepaskan ciumannya.
"Siapa bilang sulit. Gampang kok. Lagipula wanita mana yang tidak akan jatuh hati saat melihatmu. Sudah mapan, juga tampan. Di luar sana ada banyak wanita cantik. Yang jauh lebih baik dariku. Aku yakin, pria sepertimu akan mudah mendapatkan wanita. Hem?"
"Aku tidak suka bercanda seperti ini." Dicko terlihat kesal. Bisa - bisanya hal seperti itu dijadikan candaan.
"Kamu harus mulai memikirkan hal seperti itu sekarang. Pikirkan tentang wanita lain."
"Aruna!" Dicko menghardik hingga membuat Aruna tersentak kaget. Dan melepaskan rangkulannya dari lengan Dicko seketika itu juga.
"Maaf ..." Aruna terlihat takut. Baru kali ini Dicko menghardiknya.
"Sudah aku bilang, aku tidak suka bercanda dengan hal seperti ini." Kemudian Dicko bangkit dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Aruna. Namun tiba - tiba saja Aruna memeluknya dari belakang. Langkahnya pun terhenti.
"Aku hanya takut, ayahmu tidak akan merestui hubungan kita. Ayah mana yang bisa menerima wanita sepertiku menjadi menantunya. Mantan istri putra bungsunya akan menjadi istri dari putra sulungnya. Apa kamu pikir, hal itu tidak memalukan?" Aruna berkata sambil mulai menitikkan air mata.
Dicko meraih tangan Aruna yang merangkul pinggangnya. Melepaskan rangkulan tangan itu perlahan kemudian. Lalu berbalik menghadap Aruna.
"Kita tinggal kawin lari. Gampang kan?" Kini giliran Dicko yang bercanda. Dan membuat Aruna tercengang.
"Bercanda." Sembari merengkuh tubuh Aruna ke dalam pelukannya.
"Aku akan memperjuangkan hubungan kita. Aku akan terus berusaha meyakinkan Papa. Aku yakin, jika terus berusaha, suatu saat nanti hati Papa akan luluh juga. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
Aruna mengangguk sembari membalas pelukan Dicko.
Semoga saja apa yang mereka harapkan akan dengan mudah mereka meraihnya. Mudah - mudahan Papa Danu bisa menerima kenyataan yang sedikit kurang masuk akal ini. Dan lebih melihat cinta diantara mereka. Dengan mengesampingkan derajat dan kehormatan keluarganya. Mudah - mudahan saja Papa Danu bisa melihat cinta yang tulus diantara mereka.
.
.
Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini. Hingga mereka pulang ke hotel dalam keadaan mabuk. Baik Bram maupun Clara berjalan sempoyongan menuju kamar mereka masing - masing. Alhasil, Bimo jadi kerepotan mengurus dua anak manusia yang setengah sadar itu.
Setelah Bimo mengantar keduanya ke kamarnya masing - masing, Bimo pun kembali pulang dan meninggalkan mereka.
Keesokan paginya ...
Bram tersadar dari tidur lelapnya. Kepalanya terasa pening efek minuman beralkohol itu. Matanya pun nanar memandangi seisi ruangan. Mungkin kesadarannya belum benar - benar pulih, seakan Bram tidak ingat kalau dia sedang menginap di hotel saat ini.
Tiba - tiba, dibalik selimut yang menutupi tubuhnya ada sesuatu yang bergerak - gerak. Bram pun mengernyit heran. Ada apa gerangan dibalik selimutnya. Bram lantas menyibak selimut itu. Dan ...
"Kyaaaaaaaa ..." Teriak Bram sekencangnya saat melihat ada makhluk manis yang terlelap di balik selimutnya. Dan makhluk manis itu pun terbangun saat mendengar teriakan kencang Bram.
"Ada apa ... Ada apa ... Apa ada hantu?" Tanya makhluk manis itu panik. Yang tidak lain adalah Clara. Sekretaris Bram sendiri.
__ADS_1
"Gadis aneh, apa yang kamu lakukan dikamarku. Hah?" Hardik Bram. Hingga Clara pun terkaget sambil menutup mata dan telinganya.
"Bisa tidak jangan teriak - teriak. Bisa budeg kupingku nanti." Clara malah menanggapinya santai. Sedangkan Bram justru panik luar biasa. Sembari memeriksa tubuhnya di balik selimut itu.
Huffffttt !!!
Untung saja pakaiannya masih lengkap. Tidak kurang satu helai pun. Begitu pula dengan pakaian Clara. Lengkap dari atas sampai bawah.
"Kenapa kamu bisa ada disini, hah? Jangan - jangan kamu ... Kyaaaaaaa ..." Bram kembali berteriak membuat Clara harus menyumpal mulut Bram dengan tangannya.
"Hmmmpppt ... Lepaskan." Bram menghempaskan kasar tangan Clara yang menyumpal mulutnya itu.
"Bisa diam tidak?" Pinta Clara sambil melotot. Waduh, baru kali ini ada bawahan yang cukup berani dengan atasannya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan padaku semalam? Hah? Ayo jawab!" Hardik Bram lagi. Clara melongo mendengar pertanyaan aneh Bram.
"Yang ada juga Bapak yang ngapa - ngapain. Mana ada perempuan yang melecehkan laki - laki." Sungut Clara sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa kamu bilang? Maksud kamu aku melecehkan kamu? Begitu?"
Clara mengangguk, sambil cemberut. Dan Bram pun melongo. Persis seperti orang bego.
Oh ya ampun. Lelucon macam apa ini? Mana mungkin Bram bisa berbuat seperti itu. Astaga, apa Clara sedang bercanda?
"Jangan macam - macam kamu. Aku bisa saja memecatmu sekarang juga." Ancam Bram.
"Bapak sendiri yang tiba - tiba datang dan memelukku."
"Aku?" Bram sungguh tidak percaya.
"Iya. Coba Bapak lihat, ini kamar siapa?"
Bram pun menyapukan kembali pandangannya ke seisi ruangan itu. Kamarnya memang terlihat mirip. Lalu matanya kembali menangkap sebuah koper berwarna pink di pojok kamar itu. Jika kopernya berwarna pink, lalu kemana koper hitam milik Bram? Jangan - jangan Clara benar. Bram sendiri yang datang ke kamar Clara.
Bram pun sangat terkejut sambil membekap mulutnya sendiri.
Astaga.
Kenapa sekarang Bram tidak ingat apapun? Bram panik luar biasa, sementara Clara tersenyum mengejek.
Kena kamu. Tau rasa aku kerjain. Bisik Clara dalam hati.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Setelah membaca boleh dong minta jejaknya 🤗
Biar otor kawe ini makin semangat update nya.
Tapi tetap, always saranghae ❤️❤️
Salam hangat
__ADS_1
Otor Kawe