
''Aruna!" seru Nyonya Galuh begitu sampai di kamar Aruna dan Zidane. Aruna tentu saja sangat terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya di rumah Daniel. Mereka berdua langsung memeluk Aruna. Tentu saja bulir air mata Aruna mengalir begitu saja sampai akhirnya Aruna terisak. Hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata. Di ambang pintu, Daniel sudah berdiri disana. Pasti Daniel yang memberitahu semuanya, itulah yang ada dalam benak Aruna. Namun saat ini Aruna hanya ingin menangis di pelukan kedua orang tuanya.
''Kenapa kamu simpan beban ini sendirian Nak? Ada Papa dan Mama disini.'' Ucap Nyonya Galuh dengan tangisnya.
''Kenapa kamu tidak bilang pada Papa? Papa bisa menjemput kamu dan Zidane. Tuan Daniel datang menemui kami dan menceritakan semuanya.'' Sambung Tuan Wira. Aruna hanya bisa menggeleng sambil terisak.
''Oma-Opa, apa kalian tidak merindukan aku?'' sahut suara lugu itu. Melihat cucu satu-satunya terbaring di atas tempat tidur, Tuan Wira dan Nyonya Galuh langsung mendekat dan memeluk cucunya.
''Zidane, kamu baik-baik sayang? Maafkan Oma dan Opa ya?'' ucap Nyonya Galuh.
''Aku baik-baik saja Oma-Opa. Oma dan Opa tidak salah.'' Jawab Zidane. Setelah cukup lama berpelukan, mereka saling melepaskan.
''Aruna, apa kata dokter?'' tanya Tuan Wira.
''Zidane baik-baik saja Pah, hanya demam biasa.'' Jawab Aruna seraya menyeka air matanya. Aruna lalu mengarahkan pandangannya pada Daniel yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu.
''Pah-Mah, titip Zidane sebentar ya?''
''Iya sayang,'' jawab Nyonya Galuh. Aruna kemudian menarik tangan Daniel dan membawanya ke sudut ruangan yang cukup jauh dari kamarnya. Daniel mengikuti saja langkah kaki Aruna tanpa banyak protes karena Daniel tahu kalau Aruna akan marah.
''Maksud Tuan apa dengan membawa kedua orang tua ku kemari?'' Aruna langsung bertanya tanpa banyak basa-basi.
Daniel menghela, sudah tahu kalau Aruna akan mengatakan hal seperti itu.
''Mereka orang tua kamu Aruna, jadi mereka berhak tahu. Mau sampai kapan kamu sembunyi? Dan bagaimana kalau seandainya mereka datang ke rumah lama kamu tapi kamu tidak ada disana? Bukankah mereka akan semakin kecewa dan sakit hati?''
Aruna hanya diam tak bergeming mendengar ucapan Daniel. Setidaknya apa yang di ucapkan Daniel kali ini ada benarnya. Daniel lalu memegang kedua pundak Aruna, di tatapnya wajah cantik namun terlihat sendu kala itu.
''Aruna, aku tahu kamu tidak ingin membuat mereka sedih dan merasa terbebani tapi berpikirlah dari sudut pandang mereka sebagai orang tua juga. Mereka berhak tahu semua masalahmu dan jangan menyimpan semuanya sendiri. Ingat, kamu masih punya orang tua. Masih ada tempat untuk bersandar disaat kamu seperti ini. Jangan malah menghindar dan sembunyi. Kalau aku juga tetap diam, mereka juga pasti akan berpikir buruk tentang ku. Apalagi kamu bekerja dengan ku jadi kamu juga tanggung jawabku.''
__ADS_1
Aruna masih terdiam. Ia tidak bisa menjawab ucapan Daniel. Namun saat itu juga Aruna melihat sosok Daniel yang begitu dewasa dan bijaksana. Berbeda dengan Daniel yang biasanya kekanakan dan juga seenaknya sendiri. Aruna lalu menunduk, menahan semua kepahitan hidup yang ia alami saat ini. Tidak menyangka jika pria di hadapannya menjadi saksi semua kepahitan yang ia alami. Daniel kemudian menarik Aruna dalam pelukannya.
''Semua akan berlalu begitu saja, Aruna. Percayalah.'' Ucap Daniel. Lagi, Aruna tidak mampu menolak pelukan Daniel. Ia merasa pelukan Daniel mampu menenangkannya.
Sepasang mata tengah mengamati keduanya dengan tampak serius.
''Daniel!" suara seorang pria yang tidak asing di telinga Daniel. Daniel menoleh kearah sumber suara tersebut dengan tatapan terkejut.
''PAPA,'' gumamnya. Mendengar Daniel menyebut nama Papa, Aruna seketika melepaskan pelukannya dari Daniel.
''Tu-tuan Hutama. Ma-maaf! Kam-kami tidak melakukan apapun dan sa-saya juga tidak melakukan seperti yang anda katakan.'' Ucap Aruna tergagap. Sungguh ia sangat takut dan khawatir jika Tuan Hutama salah paham. Tuan Hutama tersenyum seraya mendekat kearah mereka.
''Anda sudah dari tadi Tuan?'' tanya Aruna.
''Mmmm lumayan,'' jawab Tuan Hutama.
''Maaf, saya tidak bermaksud lancang. Saya permisi.'' Ucap Aruna seraya berlalu dengan langkah terburu. Dan kini tinggalah Ayah dan anak itu.
''Papa apaan sih? Aku hanya menenangkannya.'' Jawab Daniel malu-malu.
''Menenangkannya atau mencari kesempatan?'' goda Tuan Hutama.
''Mmmm dua-duanya, Pah.'' Kekeh Daniel.
''DASAR!" Kata Tuan Hutama seraya menoyor pelan kepala putranya.''
Dan kini mereka semua tengah duduk bersama. Kedua orang tua Aruna duduk berhadapan dengan Tuan Hutama. Daniel duduk bersama Papanya sedangkan Aruna bersama dengan kedua orang tuanya.
''Tuan Hutama, maafkan kami yang lancang ini terutama putri kami. Tidak seharusnya dia dan putranya disini, di rumah atasannya.'' Ucap Tuan Wira yang memulai obrolan.
__ADS_1
''Tidak perlu minta maaf Tuan. Justru aku senang Aruna dan Zidane berada disini. Sungguh aku sama sekali tidak keberatan.'' Ucap Tuan Hutama. Tentu saja kedua orang tua Aruna terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Hutama.
''Maaf, maksud anda apa Tuan?'' tanya Tuan Wira.
''Begini Tuan Wira, aku sendiri mengenal Aruna sudah sangat lama. Bahkan saat dia memulai karir sebelum menikah. Jujur saja, dulu aku ingin menjodohkannya dengan putraku, Daniel. Namun sayang sekali, saat itu Daniel masih sekolah dan Aruna sudah memiliki calonnya sendiri. Jadi keinginanku untuk menjadikan Aruna sebagai menantuku masih berlanjut hingga detik ini juga.'' Jelas Tuan Hutama dengan tenang. Tentu saja kedua orang tua Aruna terkejut dengan pengakuan Tuan Hutama begitu pula dengan Aruna.
''Ya tanpa basa-basi lagi, aku ingin meminang Aruna sebagai menantuku dan sebagai istri putraku, Daniel,'' sambung Tuan Hutama. Sebuah pernyataan yang lagi-lagi membuat mereka terkejut. Sebelum datang ke rumah Daniel, Fero sudah menceritakan semuanya pada Tuan Hutama terutama tentang perasaan Daniel pada Aruna yang masih mendapat penolakan dari Aruna.
''Tap-tapi Tuan, kami ini hanya orang biasa dan Aruna juga hanya seorang bawahan di kantor. Apalagi dengan statusnya yang seorang single parent,'' tukas Tuan Wira.
Tuan Hutama tersenyum. ''Aku tidak mempermasalahkan semua itu. Itu hanyalah status. Bagiku hanya Aruna yang pantas untuk putraku dan juga aku sangat menyayangi Zidane.''
''Tuan, saya tidak pantas untuk Tuan Daniel. Setelah ini saya juga akan pindah. Apalagi Tuan Daniel juga atasan saya. Status saya dan masa lalu saya tentu akan menjadi perbincangan para penggemar Tuan Daniel.'' Kata Aruna sambil melirik kearah Daniel. Ucapan Aruna pun di sambut tawa Tuan Hutama.
''Tenanglah Aruna, dia sudah tidak punya penggemar. Dia justru sekarang menjadi seorang penggemar yaitu dirimu.'' Kekeh Tuan Hutama. Jujur saja, Aruna tidak menyangka pertemuan tidak sengaja bagi Aruna ini, akan mengarah ada hubungannya dengan Daniel. Sungguh di luar dugaan Aruna. Aruna sendiri juga belum yakin dengan Daniel, mengingat Daniel adalah seorang playboy.
''Aruna, aku tahu keraguanmu pada putraku. Tapi sebagai seorang Ayah, aku mohon percayalah pada dia. Berikan dia kepercayaan lebih untuk membuktikan perasaannya. Aku pun tahu kalau kamu pasti menyimpan trauma dalam sebuah pernikahan jadi aku juga tidak mau membuatmu buru-buru mengambil keputusan. Saling mengenal dulu tidak masalah. Yang jelas aku hanya menginginkanmu sebagai menantuku.''
''Om-Tante, sejujurnya saya sendiri tidak tahu kapan saya jatuh cinta pada Aruna. Seperti yang Om dan Tante tahu pasti Aruna sedikit banyak cerita tentang saya. Saya akui kalau saya di cap sebagai playboy tapi sejak mengenal Aruna, mengerti rasa sakitnya dan dibuat menjadi saksi kegagalannya, membuat saya sadar bahwa saya salah apapun itu alasan saya. Saya hanya ingin mencari sosok wanita yang seperti almarhum Mama saya dan saya menemukan itu pada Aruna. Dia memberi saya kehangatan dalam sebuah keluarga. Saya juga mengenal Aruna sebelum Aruna bekerja dengan saya. Bahkan dia adalah gadis yang selama ini saya cari, gadis pemilik jepit kupu-kupu.'' Jelas Daniel. Ucapan Daniel membuat Aruna merasa tersentuh karena biasanya pria membanggakan dirinya namun kali ini Daniel justru menunjukkan kekurangannya.
''Jadi dia gadis yang waktu itu kamu ceritakan pada Papa dan Mama?'' sahut Tuan Hutama.
''Iya Pah. Tapi saat aku ingin mengajaknya bertemu Mama, dia sudah pergi dan baru sekarang aku menemukannya.''
''Wah, ternyata dunia ini sempit sekali. Jadi bagaimana Tuan-Nyonya?''
''Kami sebagai orang tua, menyerahkan semua keputusan pada Aruna.'' Kata Tuan Wira.
''Tuan, maaf kalau saya belum bisa membuat keputusan. Karena ini terlalu cepat untuk saya.'' Kata Aruna yang sebenarnya merasa tidak enak namun ia juga tidak bisa berbohong.
__ADS_1
''Daniel, Papa sudah berusaha. Sekarang tinggal kamu untuk membuktikannya,'' bisik Tuan Hutama.
''Tidak masalah, Aruna. Yang penting kamu, Om dan Tante tahu bagaimana perasaan ku kepadamu. Aku juga tidak ingin jawaban itu sekarang tapi aku akan membuktikan sampai kamu bilang IYA.'' Ucap Daniel penuh dengan rasa optimis. Kedua orang tua Aruna hanya mengangguk dengan senyuman, begitu pula dengan Aruna. Tentu saja trauma kegagalan dalam berumah tangga masih membayanginya.