Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 65 Meminta Waktu


__ADS_3

''Kalian aku PECAT!" Ucap Daniel dengan suara meninggi.


''Pe-pecat Tuan, salah kami apa?'' tanya manajer produksi dengan tergagap.


''Kamu masih bisa bertanya apa salahmu? Kalian ini tikus-tikus yang perlu dibasmi. Jangan pikir, aku tidak tahu kebusukan kalian. Aku sudah melimpahkan berkas kalian berdua ke kantor polisi. Bisa aku bilang kalian ini korupsi dan menyebabkan perusahaan mengalami kerugia. Ini bukan main-main! Jangan kalian pikir aku bodoh.'' Marah Daniel sambil melempar bukti-bukti kebohongan dua manajernya itu. Kedua manajer itu tidak percaya bahwa Daniel bisa menemukan kelicikan mereka, bahkan dengan begitu detailnya. Sampai Tuan Hutama sendiri pun tidak mengetahui hal ini.


''Aku tidak akan memberikan kalian pesangon sepeserpun karena kalian sudah meraup keuntungan yang fantastis. Silahkan bereskan ruangan kalian dan tunggu polisi sebentar lagi akan menangkap kalian berdua.'' Tegas Daniel tanpa tedeng aling-aling. Kedua manajer itu lalu berlutut memohon ampun pada Daniel.


"Tuan, maafkan kami. Kami menyesal dan mengaku salah. Maafkan kami Tuan. Tolong jangan laporkan kami ke kantor polisi." Ucap si manajer pemasaran.


"Iya Tuan, kami mohon ampun! Maafkan kami Tuan. Kami tidak masalah jika di pecat tapi jangan bawa kami ke kantor polisi. Bagaimana dengan anak dan istri kami?" sahut si manajer produksi.


"Kalian masih bisa memikirkan anak istri kalian? Lalu saat kalian melakukan itu, apa kalian tidak memikirkan mereka? Memberikan mereka makan dengan uang yang kotor, hah? Dimana otak kalian? Menyingkir atau aku panggil security untuk menyeret kalian?" bentak Daniel sambil menggebrak meja. Dengan wajah memelas, kedua manajer itu pun meninggalkan ruangan Daniel.


"Bagaimana bisa Papa tidak tahu akar permasalahan ini? Pasti Papa hanya mengecek kerugiannya saja tanpa melihat langsung ke lapangan." Gumam Daniel.


-


Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, jam sudah menunjukkan waktunya menjemput Zidane ke sekolah.


''Aku harus menjemput Zidane.'' Aruna lalu mengambil tasnya dan berlalu begitu saja. Dari dalam ruangannya, Daniel melihat Aruna berjalan dengan langkah terburu.


''Mau kemana Aruna? Kenapa tidak pamit?'' gumam Daniel. Daniel kemudian melihat kearah jam tangannya.


''Pasti dia ingin menjemput Zidane. Kasihan juga Aruna. Apa aku sudah memberinya banyak pekerjaan sampai dia lembur kemarin? Zidane pasti kesepian. Ayahnya juga tidak mungkin memikirkannya juga. Ah, sudahlah kenapa aku malah memikirkan Aruna.''


Sesampainya disekolah, Zidane sudah menunggu di pos satpam.


''Zidane, maafkan Mami ya. Mami terlambat menjemput kamu.''


''Tidak apa-apa Mami. Oh ya Mami, aku boleh meminta waktu Mami untuk makan siang bersama?''


Kalimat yang baru saja Zidane ucapkan, membuat Aruna semakin bersalah. Bagaimana mungkin seorang anak sampai meminta waktu pada orang tuanya?


''Tentu saja boleh. Kamu mau makan siang dimana?''


''Bagaimana kalau ayam krispi dan kentang goreng, lalu di tambah segelas milkshake coklat?''


''Ide yang sangat bagus. Oke kita berangkat!" ucap Aruna dengan penuh semangat. Aruna lalu membantu Zidane naik dan tak lupa mengikatkan seat belt.


''Zidane, bagaimana sekolahmu?''


''Baik Mami. Hanya saja mereka sering bertanya kenapa Papi dan Mami tidak pernah menjemput kita bersamaan. Bahkan mereka ada yang bilang pernah bertemu Papi bergandengan dengan perempuan dan yang pasti itu adalah Tante Shella.''


''Kalau kamu tidak nyaman, kita pindah sekolah saja ya. Bagaimana?''


''Tidak usah Mami. Zidane nyaman kok. Zidane bisa menjawab pertanyaan mereka tanpa marah.''


''Maafkan Mami ya, Nak.'' Ucap Aruna sambil mengelus kepalanya.


''Mami sudah terlalu sering meminta maaf. Padahal Mami tidak pernah salah.''


''Kamu memang kesayangan Mami.''

__ADS_1


''Oh ya Mi, pasti Om Daniel membuat Mami sibuk ya?''


''Namanya juga bekerja, tentu saja sibuk, Zidane. Apalagi akhir-akhir ini ada masalah diperusahaan, jadi mami juga harus ikut bantu. Makanya Mami kemarin lembur.''


''Oh begitu. Jadi di dalam pekerjaan ada masalah juga ya Mi?''


''Tentu saja, sayang. Namanya kita hidup di dunia, masalah juga pasti ada saja. Tinggal kita bagaimana cara menyikapinya? Kita mau menyikapi dengan marah atau tenang dan sabar.''


''Oh begitu ya, Mi. Ternyata menjadi orang dewasa rumit juga ya, Mi.''


''Kamu ini lucu banget sih! Nanti kamu juga akan dewasa sayang. Pesan Mami, bepikirlah dengan bijak dan menggunakan hati.''


''Iya Mami.''


Akhirnya mereka sampai juga di restoran. Aruna pun segera memesan makanan untuk Zidane. Untung saja Aruna masih memiliki tabungan untuk beberapa bulan kedepan. Sehingga ia masih bisa menunggu untuk gajian nanti. Tiba-tiba ponsel Aruna berdering, ada nama Daniel disana.


''Halo Tuan, ada yang bisa aku bantu?''


''Kamu dimana Aruna?''


''Aku menjemput Zidane dan sekarang menemaninya makan siang.''


''Oh begitu. Bisa tolong bawakan aku makan siang sekalian? Pekerjaan ku banyak dan aku tidak bisa keluar.''


''Baiklah Tuan. Tuan ingin makan apa?''


''Mmmmm sepertinya ayam krispi, kentang goreng dan milkshake coklat sangat enak. Kamu bisa membawakannya untuk ku? Nanti uangnya aku ganti.''


''Benarkah? Itu juga makanan favoritku saat Mama menjemputku sekolah dulu, aku selalu ke restoran cepat saji itu. Dan entah kenapa hari ini aku ingin memakan itu.''


''Baiklah Tuan, nanti aku akan membawakan untuk Tuan. Tapi mungkin agak lama, karena aku harus mengantar Zidane pulang.''


''Iya Aruna tidak apa-apa. Kamu hatu-hati ya. Salam untuk Zidane.''


''Iya Tuan.'' Ucap Aruna. Daniel pun mengakhiri panggilannya.


''Om Daniel ya, Mi?''


''Iya sayang. Tuan Daniel menitip makan siang. Pekerjaannya sangat banyak jadi dia tidak bisa keluar untuk makan siang. Ya sudah, kamu habiskan makanannya dulu ya.''


''Iya Mami.''


''Oh ya apa perlu nanti Mami meminta Oma dan Opa menginap? Sepertinya Mami lembur lagi.''


''Iya Mi tidak apa-apa, supaya rumah menjadi ramai.''


''Baiklah, Mami akan menelepon Oma dan Opa nanti ya.''


''Iya Mami.''


Setelah makan siang selesai, Aruna segera mengantar Zidane pulang. Ia juga segera menelepon keduanya selagi ingat.


''Halo Mah, Mama dan Papa sibuk tidak hari ini?''

__ADS_1


''Tidak Nak. Ada apa Aruna?'' tanya Nyonya Galuh.


''Mama dan Papa bisa menginap dirumah Aruna hari ini? Aruna harus lembur Mah. Kasihan kalau Zidane sendirian, ya meskipun ada Bibi dan Mbak Lasmi juga.''


''Tentu saja Mama dan Papa bersedia. Seharusnya kamu tidak perlu sungkan. Zidane kan cucu Mama dan Papa juga.''


''Terima kasih ya, Mah. Aruna lega sekali. Soalnya di kantor sedang banyak pekerjaan.''


''Iya-iya Nak, kamu tenang saja. Setelah ini kami bersiap menuju ke rumah kamu ya.''


''Iya Mah. Mama dan Papa hati-hati ya.''


''Iya Nak, kamu juga ya.''


''Iya Mah.'' Panggilan pun berakhir.


''Bi, nanti Mama dan Papa akan kerumah. Tolong siapkan makan malam kesukaan mereka ya. Karena nanti saya lembur.'' Kata Aruna pada Bi Tuti.


''Iya Nyonya, siap!"


''Ya sudah Bi, saya balik ke kantor ya. Titip Zidane dan rumah, kalau ada apa-apa langsung telepon.''


''Iya Nyonya. Nyonya hati-hati ya.''


''Iya Bi.''


Aruna kemudian kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, Aruna setera menuju ruangan Daniel.


''Tuan, ini makanan yang anda pesan.''


''Iya Aruna, terima kasih. Letakkan saja di meja.''


''Mmmm uang gantinya mana Tuan?'' tanya Aruna. Mendengar pertanyaan Aruna, Daniel menaikkan alisnya dan ia pun mendecih.


''Perhitungan sekali!"


''Ya, Tuan bilangnya nitip dan bilang mau ganti. Maklumlah Tuan, Ibu-Ibu.'' Seloroh Aruna dengan senyum kecilnya.


''Oh ya ini total semuanya,'' sambung Aruna seraya menyodorkan struk pembelian makanan Daniel. Daniel hanya meliriknya, lalu memberikan selembar uang seratus ribuan pada Aruna.


''Ini, ambil saja kembaliannya.'' Kata Daniel.


''Kembalian juga lima ribu, Tuan.'' Gumam Aruna.


''Kamu bilang apa tadi?'' selidik Daniel.


''Mmm tidak Tuan. Terima kasih sudah dilebihkan. Oh ya satu lagi, Zidane menitip salam untuk Tuan. Permisi.'' Ucap Aruna seraya berlalu meninggalkan ruangan Daniel.


''Memang ya emak-emak itu perhitungan dan perincian sekali.'' Gerutu Daniel.


Aruna lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Kesibukannya beberapa hari membuat Aruna lupa akan status barunya dan juga perceraiannya.


Bersambung... Yukkk gasss like, komen dan votenya, makasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2