
Papa Danu terdiam. Jawaban apa yang harus dia berikan atas pertanyaan Bram. Tidak mengira sebelumnya jika Bram akan mencurigai ini suatu hari nanti.
Papa Danu terlihat semakin gugup karena tatapan menyelidik Bram. Yang menatapnya tajam hingga terasa bagai menembus jantung.
"Ten_tentu saja kakak kamu sudah meninggal."
"Siapa orang itu? Orang yang bertemu dengan Papa di depan restoran."
Papa Danu terkaget. Bram bertanya tentang orang yang di temuinya waktu itu di depan restoran. Itu artinya Bram melihat apa yang dilakukannya saat itu. Duh, Papa Danu harus menjawab apa sekarang?
"Ooh ... orang itu ... orang itu dulu bekerja dengan Papa. Tapi dia sudah berhenti bekerja. Dan saat itu dia lagi kena musibah. Papa hanya membantunya saja dengan memberikan sedikit bantuan." Semoga Bram percaya.
"Ya sudah. Aku ke kamar dulu Pa. Capek, mau istrahat." Kemudian beranjak pergi ke kamarnya.
Akhirnya Papa Danu bisa bernapas lega. Untungnya Bram tidak menaruh curiga yang berlebih. Mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Bram.
.
.
Di kamarnya Bram tidak melihat Aruna. Matanya menyapu ke setiap sudut ruangan mencari keberadaan sang istri. Namun yang di cari entah menghilang ke mana.
Bram hendak kembali keluar kamar untuk mencari Aruna. Sampai terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Aruna keluar dari kamar mandi itu dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.
Keadaan Aruna yang seperti itu sebenarnya sudah sangat sering dilihatnya. Tapi tetap saja selalu membuatnya berdebar.
"Bram?" seru Aruna menatap dingin Bram yang melangkah perlahan menghampiri dengan tatapan mendamba.
"Aku minta maaf atas sikap kasarku tadi. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Lirih Bram sembari menjelajahi setiap inci bagian tubuh Aruna yang terbuka dengan jemari kokohnya.
"Harusnya aku yang minta maaf karna tidak memberitahumu dulu kalau aku ingin mengunjungi makamnya."
"Nanti saja kita bicarakan hal itu. Skarang, aku hanya ingin bersamamu." Kemudian mengelus lembut pipi mulus Aruna seraya mulai mendekatkan wajahnya. Semakin dekat tanpa menyisakan jarak sedikitpun.
Namu tiba - tiba saja Aruna memalingkan wajahnya dan mendorong pelan tubuh Bram agar menjauh. Hal itu jelas menimbulkan pertanyaan serta kecurigaan di benak Bram.
"Kamu menolakku lagi?" tampak kekecewaan di raut wajah Bram di tengah nafasnya yang memburu menahan gejolak asmaranya.
"Maaf Bram. Aku hanya sedang tidak ingin. Aku capek."
"Sejak kapan kamu menggunakan alasan itu untuk menolakku? Ini hanya perasaanku atau memang kamu sudah berubah. Sejak ada Rama." Amarah Bram mulai tersulut.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Rama."
Bram menghembuskan napas kasar. Dengan amarah yang tertahan, Bram pun keluar dari kamar itu.
Brakkk ...
Bram membanting kasar pintu kamarnya. Hingga Aruna terlonjak kaget.
Bram marah. Jelas Bram sangat marah. Aruna sudah membuat kesalahan dengan menolaknya. Sekarang bagaimana caranya harus meminta maaf padanya.
Dan entah kenapa, Aruna merasa Bram sudah sangat berubah. Dulu, Bram selalu sabar menghadapinya. Tapi sekarang, entah kemana perginya Bram yang dulu.
__ADS_1
.
.
Sejujurnya Bram sangat kesal. Bram merasa, sejak hadirnya Rama, Aruna mulai berubah. Entah darimana pula asal pria itu. Kehadirannya sedikit mengacaukan kehidupan rumah tangganya.
Kenapa Rama harus hadir di antara mereka. Kenapa Rama harus hadir di tengah kebahagiaan rumah tangganya.
Di tengah hiruk pikuknya kendaraan itu, Bram hampir tidak bisa berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Dia terlalu larut dalam pikiran kalutnya. Sampai tiba - tiba, mendadak ada seseorang yang menyeberang jalan. Dengan cekatan Bram mengerem mendadak.
Di luar terdengar teriakan seseorang seiring dengan tubuhnya yang jatuh menyentuh aspal.
Astaga. Apa Bram baru saja menabrak orang itu? Apa dia baik - baik saja? Bagaimana jika orang itu tewas. Lalu nasib Bram? Bram tidak ingin berakhir di penjara.
Dengan perasaan takut bercampur panik, Bram pun turun dari mobilnya. Dan melihat keadaan korban yang tidak sengaja tersambar mobilnya.
"Maaf. Maafkan saya. Apa anda baik - baik saja?" panik Bram sembari membungkukkan badannya hendak membantu orang itu untuk berdiri.
"Loh, kamu?" Bram terkejut saat orang itu mendongak dan menatap Bram.
Mona.
Dia terduduk sambil memegangi kakinya. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Maafkan aku. Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Bram.
"Tidak apa - apa. Hanya saja kakiku terasa sakit skali. Rasanya aku akan sedikit kesulitan untuk berjalan."
"Sini, biar aku bantu."
"Kamu sebenarnya mau kemana? Kenapa menyeberang sembarangan?" tanya Bram.
"Mobilku di bengkel. Jadi aku niatnya mau ke seberang jalan sana. Mau cari tempat yang teduh untuk menunggu taksi." Seraya menunjuk ke seberang jalan di mana ada pohon rindang yang teduh.
"Tujuan kamu kemana? Biar aku mengantarmu."
"Tidak perlu repot. Aku bisa pakai taksi."
"Anggap saja sebagai permintaan maafku."
"Baiklah. Aku sebenarnya mau pulang. Aku tinggal di apartemen. Kamu bisa mengantarku kesana."
"Baiklah. Ayo."
Kemudian Bram memapah Mona dan membantunya naik ke mobil. Lalu di susul oleh Bram yang mengambil duduk di depan setir.
Dengan memakan waktu beberapa menit saja, kini mereka telah sampai di depan gedung apartemen. Dengan memapahnya, Bram membantu Mona berjalan. Dan mengantarkannya sampai ke depan unit apartemennya.
"Mampir dulu sebentar." Tawar Mona setelah membuka pintu apartemennya.
"Aku antar kamu sampai ke dalam. Setelah itu aku pulang. Aku ada urusan penting."
"Kalau lain waktu, kamu tidak akan menolak kan?"
__ADS_1
"Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi." Sambil memapah Mona ke dalam dan mendudukkannya di sofa.
"Makasih ya?"
"Kalau begitu aku permisi dulu." Sembari beranjak pergi.
"Eh, tunggu dulu," Mona berusaha bangkit hendak menyusul Bram. Namun karena kakinya yang masih terasa sakit dia hampir saja terjatuh.
"Aww ..." ringis Mona. Dan dengan cepat Bram berbalik dan menangkap tubuh Mona hingga tidak sampai menyentuh lantai.
Seketika tatapan mereka pun saling bertemu. Mona menatap Bram dengan berbinar - binar. Sementara Bram menatapnya datar.
Mona menyunggingkan senyum manisnya. Mencoba menarik perhatian Bram. Dalam posisi seperti itu, saling menatap dalam jarak yang begitu dekat, siapapun yang melihatnya akan menyangka ada sesuatu di antara mereka.
Mereka masih dalam posisi saling menatap saat tiba - tiba ada seseorang yang datang dan mengagetkan mereka.
"Wow, pemandangan yang menakjubkan." Kata orang itu hingga membuat Bram dan Mona gelagapan. Dan Mona pun kembali menghempaskan tubuhnya di sofa.
Sementara Bram kembali berdiri dengan benar.
"Sebaiknya aku pergi. Maaf untuk kejadian tadi. Permisi." Bram pun bergegas meninggalkan apartemen Mona.
"Mon, siapa itu tadi? Bukannya pria itu yang lagi digosipin sama kamu?" tanya Bianca sahabat sekaligus asisten Mona.
"Ada deh. Kepo amat."
"Suami siapa lagi nih yang jadi incaran kamu." Sindir Bianca yang memang sudah tahu persis kelakuan sahabatnya itu.
"Yang tadi itu sempat kamu foto kan? Sini, kasih aku fotonya. Aku ada misi penting."
Memang, sebelum akhirnya Bianca mengangetkan mereka, Bianca sempat memotret Bram dan Mona dalam posisi Bram merangkul pinggang Mona dan dalam mode saling menatap.
"Bayar dulu. Jaman skarang mana ada yang gratis."
"Pikiran kamu itu duit melulu. Ya udah, bulan depan honor nambah."
"Asiiik ... gitu dong."
Mona tinggal di apartemen ini hanya sekedar untuk bersenang - senang. Agar dia punya kebebasan. Orang tuanya kerap menjodohkannya dengan putra dari rekan bisnisnya. Namun Mona menolak dan memilih tinggal di apartemen untuk menghindari perjodohan yang dilakukan orang tuanya.
..
Bram sudah bersiap membuka pintu mobil. Di kejauhan matanya menangkap sesosok yang familiar baru saja turun dari mobilnya dengan menenteng sebuah paper bag yang berlogo makanan cepat saji. Sedang berjalan memasuki gedung itu.
Rama.
Dahi Bram mengerut.
"Jadi kamu tinggal disini?" gumam Bram. Dengan senyum sinis yang terbit di wajahnya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...-Bersambung-...