
Kakak?
"Kenapa? Tidak berniat memukulku? Atau kamu takut?" ejek Rama.
Membuat Bram kembali meragu. Dan kembali menatap Rama penuh amarah. Kakaknya tidak akan pernah berkata seperti itu. Jelas pria itu bukan kakaknya.
"Pergi dari sini. Jangan pernah berani menginjakkan kakimu lagi di rumah ini. Jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." Bram mengancam Rama dengan kemarahannya yang berapi - api,
"Aku tidak sudi melihatmu di rumah ini."
Rama kembali tersenyum tipis. Sementara Aruna, pandangan matanya tidak lepas dari Rama. Entah kenapa, sejak tadi hati kecilnya selalu membisikkan bahwa Rama adalah Dicko.
"Ada apa ini?" tiba - tiba Papa Danu datang dan menengahi pertengkaran di antara mereka sebelum semakin parah.
"Bram? Rama? Aruna? Ada apa ini?"
Inilah yang dikhawatirkan Papa Danu. Jelas tidak mungkin mereka bisa berada dalam satu atap. Jika tidak, hal yang lebih buruk pasti akan terjadi.
"Usir orang ini dari rumah ini. Aku tidak sudi melihatnya." Bram masih kesal.
"Kamu, ikut aku. Kita harus bicara." Kemudian Bram menarik lengan Aruna kasar dan menyeretnya ke kamar. Hingga membuat Aruna harus meringis menahan sakit.
Rama yang melihat Aruna di perlakukan kasar seperti itu, hanya bisa menahan kesal.
"Rama. Kenapa Bram bisa semarah itu sama kamu?" tanya Papa Danu.
"Aku pulang dulu Pa." Alih - alih menjawab pertanyaan Papa Danu, Rama justru pamit pulang.
Rama sudah bersiap mengemudikan mobilnya sampai ponselnya tiba - tiba berdering dan menampilkan nama Andre calling.
"Ada apa?" tanya Rama.
"........."
"Bawa saja ke apartemenku. Aku tunggu disana." Kemudian memutus sambungan telepon. Dan bersiap kembali mengemudikan mobilnya.
.
.
"Apa yang kamu lakukan di apartemen Rama? Hah?" tanya Bram dengan nada meninggi.
"Jawab!" hardik Bram.
Bram benar - benar sudah di liputi amarah yang menggunung. Wajahnya saja sampai semenakutkan itu saat ini. Hingga Aruna tidak berani menatapnya dan hanya bisa menundukkan wajahnya dalam - dalam.
"Aku sudah memintamu untuk menjauhinya. Tapi kenapa kamu sama sekali tidak mendengarkan aku. Dan apa yang aku lihat tadi? Apa kamu bisa menjelaskan itu?" Bram makin emosi.
"Kamu bilang aku salah paham? Salah paham seperti apa? Coba kamu jelaskan."
Aruna masih diam. Belum berani menjawab kemarahan Bram.
"Bisa - bisanya kamu berduaan di apartemen bersama pria lain ... aku tidak menyangka kamu bisa serendah itu."
Kali ini Aruna tidak bisa diam saja. Ini yang kedua kalinya Bram mengatainya rendah. Aruna pun berani menatap Bram yang menatapnya penuh amarah.
"Rendah? Kamu bilang aku rendah?" Aruna mulai berkaca - kaca.
"Hanya wanita rendahan yang berani berbuat hal seperti itu." Ucap Bram mantap tanpa mempertimbangkan perasaan Aruna.
Kini air mata itu jatuh berderai. Hatinya bagai teriris. Jika dulu Bram pernah mengatainya murahan. Kini Bram mengatainya rendahan. Dua kata yang sama. Sama - sama hina.
"Bram, apa kamu sungguh mencintaiku?" lirih Aruna.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kalau kamu sadar dengan statusmu saat ini, kamu tidak akan berbuat hal serendah itu. Dengan menjatuhkan harga dirimu serendah ini."
Bram berkacak pinggang. Berkali - kali terlihat menghembuskan napasnya kasar. Lalu menatap Aruna tajam. Sangat tajam.
"Apa saja yang kamu lakukan dengan laki - laki itu di apartemennya? Hah? Apa kamu sudah menyerahkan tubuhmu padanya?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." kini Aruna semakin terisak dalam tangisnya. Tega Bram menuduhnya seperti itu.
"Ternyata kamu sama saja. Apa bedanya kamu dengan wanita murahan di luar sana."
Aruna tercengang mendengar kalimat itu.
"Terserah kamu mau mengatakan aku murahan, rendahan. Terserah. Apapun itu. Terserah kamu. Aku sudah tidak peduli lagi. Setiap kali kamu marah, selalu saja seperti ini. Aku pikir kamu sudah berubah. Tolong jangan buat aku menyesali keputusanku sendiri." Ucap Aruna sebisa mungkin di sela isak tangisnya.
"Kamu menyesal? Kamu menyesal menikah denganku?"
__ADS_1
Aruna memalingkan wajahnya. Kata murahan dan rendahan lebih menyakitkan daripada penyesalan. Sama artinya Bram menyamakan dirinya dengan pelacur.
Astaga. Pelacur?
Ya Tuhan ... Tega sekali Bram mengatainya seperti itu. Rasanya sakit sekali hati ini.
Perih. pedih. Teriris.
Semua menjadi satu. Hatinya sungguh terluka. Begitu mudahnya Bram berkata seperti itu.
Brakkk ...
Bram keluar kamar dengan membanting pintunya keras. Hingga Aruna pun tersentak kaget. Dan hanya bisa meneteskan air mata.
.
.
Entah apa yang ada dalam pikiran Aruna saat ini. Hingga membawa langkah kakinya sampai ke apartemen Rama. Namun belum berani naik ke lantai 13. Dimana unit apartemen Rama berada. Dia masih berdiri mematung di lobby.
Bram melarangnya keluar rumah. Tapi ucapan Bram yang begitu melukai hatinya, membuatnya tidak bisa berdiam diri di rumah.
Andre yang diminta Rama untuk membeli minuman ringan di minimarket terdekat, tanpa sengaja melihat Aruna berdiri mematung di lobby. Andre pun segera menghubungi Rama. Kemudian berlalu keluar gedung.
Tak berapa lama, Rama datang. Raut wajahnya menjadi cemas seketika melihat Aruna dalam keadaan seperti itu. Matanya sembab seperti habis menangis. Perlahan, Rama pun menghampirinya.
"Aruna ..." lirih Rama seraya menatap sendu. Serasa bagai ada yang menghimpit dadanya seketika. Mendadak dadanya terasa begitu sesak. Sakit melihat Aruna dalam keadaan seperti itu.
Terlebih saat dia meneteskan air matanya kini. Semakin lama semakin deras. Ingin rasanya Rama memeluknya erat. Namun Rama masih bisa menahan diri.
"Maaf. Tidak seharusnya aku datang kemari. Tapi entah kenapa, langkah kakiku malah membawaku kemari." Ucap Aruna sembari menghapus air matanya.
Kemudian Aruna berbalik hendak beranjak pergi. Namun dengan cepat Rama menarik pergelangan tangannya. Dan membawanya masuk ke dalam lift hingga ke lantai 13. Dimana apartemen Rama berada.
Aruna sempat memberontak. Berusaha melepaskan tangannya. Namun Rama menggenggam tangannya begitu erat. Hingga membuat Aruna kesusahan melepaskan tangannya dan hanya bisa menurut saat Rama membawanya masuk ke dalam apartemennya.
Tampak Rama mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan yang entah untuk siapa. Kemudian menghampiri Aruna yang masih berdiri dan mengajaknya duduk di sofa.
"Aku pasti sudah gila. Ada banyak tempat yang bisa aku datangi. Tapi entah kenapa aku ... aku ..." Aruna tidak bisa membendungnya lagi. Air mata itu kembali bercucuran membasahi wajahnya.
Perlahan, Rama memberanikan diri meraih jemari Aruna. Dan membawanya kedalam genggamannya.
"Kamu bertengkar dengan Bram?" tanya Rama lirih.
"Gara - gara aku kan?"
Aruna menggelengkan kepalanya.
"Pasti karna aku kalian bertengkar. Aku tau kamu. Kamu tidak suka menyalahkan orang lain."
Aku tau kamu?
Aruna mengangkat wajahnya, dan menoleh kemudian. Menatap sorot mata Rama. Ucapan Rama itu seakan mengatakan bahwa Rama sudah mengenal Aruna dengan baik. Apa itu artinya ...
.
.
Berbeda dengan Aruna, langkah kakinya tanpa sadar membawanya pada Rama. Langkah kaki Bram justru membawanya ke kuburan Dicko, tanpa sadar. Entah kenapa.
Namun keadaan kuburan itu membuat Bram keheranan. Beberapa hari yang lalu, Aruna datang ke kuburan itu dan tidak ada masalah. Tapi kini, kuburan itu sedang di gali oleh seorang tukang gali kubur.
Bukankah itu kuburan Dicko? Apa Papa Danu berencana memindahkan kuburannya? Penasaran, Bram pun mencoba bertanya
"Kuburannya mau dipindahin ke mana Pak?"
Tukang gali kuburan itu menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Bukan mau di pindahin Pak. Kuburan ini memang kosong sejak awal."
Bram terkejut mendengarnya.
"Kosong?"
"Iya. Tanah kuburan ini ada yang menyewa. Dan penjaga kuburan yang sebelumnya sudah di pecat. Karna sudah berani membuat kuburan palsu. Padahal, ada banyak orang yang membutuhkan tanah untuk pekuburan."
Bram pun shock mendengarnya. Jika kuburan itu kosong, itu artinya kakaknya masih hidup. Dan Rama ... Rama adalah Dicko.
Berarti selama ini, ayahnya telah membohonginya. Tapi kenapa? Kenapa ayahnya melakukan ini?
__ADS_1
Dan Aruna? Apa dia sudah tahu kalau Rama itu adalah Dicko?
Bram segera bergegas ke mobilnya. Dia harus meminta penjelasan ayahnya tentang semua ini.
.
Sementara itu, Aruna sedang menunggu taksi yang di pesannya dengan di temani Rama. Aruna memutuskan untuk kembali pulang, karena memang tidak seharusnya dia berada di apartemennya Rama.
"Aku antar kamu pulang." Tawar Rama. Namun langsung mendapat penolakan dari Aruna.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.
"Ya sudah. Setidaknya kamu naik taksi. Daripada naik ojek. Nanti malah jatuh lagi dari ojek."
Lagi - lagi Aruna tertegun. Darimana Rama tahu kalau dia pernah jatuh dari ojek? Aruna kembali menghalau pikiran itu. Mana mungkin. Rama bukan Dicko.
Taksi yang di pesan Aruna pun datang. Dan Aruna langsung saja naik taksi itu. Sejurus kemudian taksi itu mulai bergerak meninggalkan gedung apartemen itu. Bertepatan dengan hujan lebat yang mulai mengguyur.
Dalam perjalanan, pikiran Aruna kembali menerawang jauh. Setiap kalimat yang terucap dari mulut Rama, sama persis dengan kalimat yang pernah Dicko ucapkan waktu itu.
Senyum lembutnya, tatapan hangatnya. Sikap tenangnya yang berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu. Sangat mirip dengan Dicko.
Aku rela jadi apapun, asalkan aku bisa bersamamu.
Aku rela jadi apapun, asalkan aku bisa bersamamu
Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Berulang kali. Dan tiba - tiba saja ...
"Pak, Pak, berhenti. Tolong putar balik. Kembali ke tempat tadi." Titah Aruna pada si supir taksi.
"Waduh ... maaf Neng. Ini jalan satu arah. Kalau mau balik ke tempat tadi, harus mutar jauh dulu. Mana hujan lagi. Maaf, ya Neng."
"Ya sudah. Saya turun disini saja." Kemudian Aruna memberikan ongkos taksi lalu bergegas turun dari taksi itu.
Entah kenapa, kini Aruna sangat yakin tidak salah mengenali orang. Di bawah guyuran hujan deras itu, Aruna terus berlari menuju gedung apartemen Rama. Dia tidak peduli lagi seperti apa keadaan dirinya saat ini. Beruntung dia belum terlalu jauh meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di depan pintu apartemen Rama.
Ting Tong ... Ting Tong ...
Aruna menekan bel pintu berkali - kali. Sambil menggigil kedinginan.
Cklek ...
Pintu terbuka. Andre berdiri di depan pintu. Sementara Rama sedang duduk di sofa sambil memegang sebuah map. Perhatiannya pun teralihkan.
"Silahkan masuk Bu." Andre mempersilahkan, lalu bergegas keluar. Memberi kesempatan atasannya bicara empat mata.
Aruna pun bergegas masuk. Sambil menggigil kedinginan.
Sontak Rama bangkit dari duduknya dan menghampiri Aruna.
"Aruna ... Kenapa kamu basah kuyup begini?"
Namun Aruna mulai menangis sambil menatap Rama lekat - lekat.
"Kamu kenapa?"
Aruna tidak bisa lagi mengutarakan perasaannya kini. Dia terus menangis dan menangis. Semakin lama semakin pilu.
"Aruna ..." lirih Rama cemas.
"Dicko ..."
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
🤧🤧🤧
Pingsan lagi gk ya nih si Aruna 🤔
Tetap jaga kesehatan ya readers 🤗
Saranghae ❤️
__ADS_1
Salam hangat
Otor Kawe