Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 58 Resmi Bercerai!


__ADS_3

Ketukan palu hakim, menandakan bahwa Aruna kini resmi menjadi janda. Aruna tidak menyangka prosesnya akan secepat itu. Pengacara Aruna sendiri terkejut karena sidang putusan langsung mendapat ketuk palu perceraian. Tentu saja di belakang semua ini, ada andil Tuan Hutama. Ditambah semua bukti penghianatan Arya dan juga ketidak hadiran Arya hari ini.


Meskipun terasa sakit, Aruna merasa benar-benar lega. Pelukan dari orang tua dan dua sahabatnya itu, sungguh memberikan Aruna kekuatan. Aruna tetap berusaha tersenyum meskipun di dalam hati ia menangis. Karena pernikahan yang ia bangun selama ini atas dasar cinta, runtuh begitu saja dalam sekejap karena orang ketiga.


''Aruna, Mama dan Papa selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu dan juga Zidane. Kamu berhak bahagia, sayang.'' Ucap Nyonya Ratih sembari memberikan pelukan untuk Aruna.


''Kamu juga jangan sungkan untuk menitipkan Zidane pada kami, jika kamu memang sedang bekerja. Walau bagaimanapun Zidane tetaplah cucu kami.'' Sambung Tuan Jodi.


''Iya Pah, terima kasih.''


Selesai sidang putusan, Gita dan Dinda mengajak Aruna ke cafe tempat biasa mereka nongkrong. Mereka ingin menghibur Aruna, supaya Aruna tidak berlarut dalam kesedihannya.


''Thanks ya, kalian selalu ada buat gue.'' Ucap Aruna dengan tatapan sendunya.


''Sama-sama, Run. Tapi gue nggak nyangka kalau Mas Arya memilih tidak hadir.'' Sahut Dinda.


''Gue awalnya terkejut juga. Tapi ternyata dia ingin secepatnya kita pisah.''


Gita mendengus. ''Emang gila banget si Mas Arya. Sama sekali nggak berperasaan.''


''Dan sekarang, mobil gue juga di ambil sama dia.''


Dinda terkejut. ''Serius Run? Terus mobilnya Mas Arya kemana emang?''


''Iya Din. Mobil Mas Arya di jual. Apartemennya juga di jual untuk membelikan Shella rumah. Rumah impian Shella.''


''Dan elo di korbanin gitu aja?'' kesal Dinda.


''Ya mau gimana lagi. Memang dia yang beli.'' Jawab Aruna dengan entengnya. Walapun hatinya sedang tidak baik-baik saja.


''Jangan-jangan habis ini rumah elo yang di ambil untuk memenuhi keinginan istri barunya itu,'' sahut Gita.


''Tapi kan rumah itu atas nama Aruna, Git.'' Sahut Dinda.

__ADS_1


''Mobil yang atas nama Aruna saja di ambil, apalagi itu rumah? Banyak banget kasus kayak gini yang gue tangani, Din. Ujung-ujungnya istri pertama yang dibuat menderita.''


''Kalau memang di ambil ya silahkan aja. Gue masih punya orang tua kok. Gue ikhlas! Semua pakaian dan barang-barang Mas Arya juga sudah gue packing, gue masukkan ke mobil termasuk cincin pernikahan itu.''


''Bagus, Run. Biar tahu rasa tuh si Mas Arya. Pokoknya elo harus tunjukkin sama Mas Arya dan Shella, kalau elo bisa bangkit.'' Kata Dinda.


''Iya dong, itu harus.'' Sahut Gita.


''Terus nanti elo gimana untuk transportasi sehari-hari? Kalau naik taksi, pengeluaran elo akan bertambah.'' Sambung Dinda.


''Gue dapat fasilitas dari kantor. Tuan Daniel akan memberikan mobil kantor.''


''Wah, kerja belum ada satu bulan saja sudah diberikan fasilitas mobil. Aduh, perhatian banget sih.'' Goda Gita.


''Apaan sih, Git. Ya mau bagaimana lagi, Tuan Daniel juga tahu masalah gue. Bahkan dia hampir terlibat. Jadi gimana lagi, ini aja gue ijin lagi nggak masuk kerja buat sidang ini.''


''Gimana kalau Tuan Daniel itu ternyata suka sama elo?'' tanya Dinda.


''Iya-iya, santai aja dong. Sorry ya.'' Kata Dinda sambil menggenggam tangan sahabatnya.


''Ya udah deh, habis ini elo jemput Zidane sama gue aja. Gue kasih treatment gratis deh buat elo. Kapanpun elo mau.'' Kata Dinda.


''Iya Din, thanks ya.''


''Sorry ya Run, gue nggak bisa ikut jemput. Gue harus balik ke klinik.''


''Santai aja, Git. Kalau Dinda kan waktu freenya banyak karena ada karyawannya. Kalau pekerjaan elo kan nggak bisa di wakilkan.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disaat Aruna turun dari mobil Dinda bersama Zidane, disaat yang bersamaan, Arya juga baru saja tiba dengan taksinya. Arya lalu menyapa Dinda.


''Hai, Din. Bagaimana kabarmu?'' Arya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


''Aku baik. Aku permisi dulu karena harus ke salon.'' Pamit Dinda.


''Iya hati-hati.''


''Aruna, gue balik ya.''


''Iya Din, makasih ya. Elo hati-hati.''


''Oke.'' Dinda pun berlalu.


''Halo jagoan Papi. Baru pulang sekolah ya.'' Ucap Arya seraya memberikan pelukan untuk Zidane. Zidane tak bergeming karena ia kecewa dengan sikap Papinya.


''Zidane, kamu masuk ya. Mami mau ngobrol sama Papi.''


''Iya Mi.'' Zidane berlari kecil masuk ke dalam rumah.


''Oh ya Mas, surat resmi perceraian kita akan segera di kirim untuk kamu. Dan mulai hari ini kita sudah bukan suami istri lagi.''


''Secepat itu Aruna?''


''Iya Mas. Bukankah itu yang kamu harapkan, supaya kamu bisa fokus mengurus Shella dan calon anakmu. Aku juga sudah memasukkan semua pakaian dan barang-barangmu ke dalam mobil. Jadi kamu tidak perlu bolak-balik datang kemari. Dan hak asuh Zidane juga berada di tanganku. Aku juga tidak akan mengahalangi kamu bertemu Zidane, kapan pun kamu mau, kamu bisa menjenguknya. Namun jika Zidane tidak mau, tolong jangan paksa dia.'' Jelas Aruna.


''Iya, aku mengerti. Aku tidak akan banyak bicara lagi Aruna. Terima kasih untuk semuanya. Dari awal sampai detik ini. Kamu sudah menjadi ibu dan istri yang baik untukku dan Zidane. Yang jelas semua ini kemauanmu, aku tidak pernah mengucapkan kata talak ataupun pisah. Ini murni keinginan kamu. Karena aku sudah mencoba mempertahankannya tapi kamu memilih untuk menyerah.''


''Aku tidak akan menyalahkanmu, Mas. Semua bukti sudah jelas tanpa harus saling menyalahkan. Terima kasih juga untuk semuanya. Untuk semua cinta, tawa dan luka yang kamu berikan.'' Aruna lalu mengekuarkan kunci mobil dari dalam tasnya.


''Ini kunci mobilnya, Mas. Semoga kamu dan Shella bahagia.'' Ucap Aruna dengan lugas. Aruna lalu meninggalkan Arya dan segera masuk ke dalam kamarnya. Arya hanya bisa terdiam, menatap Aruna dan juga menatap rumah yang penuh kenangan itu. Arya lalu bergegas pergi tanpa ingin kembali meskipun sekedar berpamitan pada Zidane.


Saat di tengah di perjalanan, Arya baru menyadari ada sebuah kotak di dashboard mobilnya. Arya tidak asing dengan kotak warna hitam itu. Arya lalu menepikan mobilnya dan berhenti sejenak untuk melihat isi kotak itu. Dan kotak itu berisi cincin pernikahan yang ia berikan pada Aruna. Arya memegang dan menatap cincin itu. Tiba-tiba ia kembali teringat perjalanan cintanya bersama Aruna yang begitu indah. Bahkan terlalu indah. Perjalanan cinta keduanya juga sangat mulus tanpa ada kendala apapun. Aruna juga wanita yang sangat baik, penurut, penyanyang dan penuh kehangatan, sekalipun saat itu usianya masih sangat muda. Dan tak terasa air mata Arya menetes membasahi wajahnya.


''Aruna, maafkan aku.'' Tangisnya sambil menggenggam erat cincin itu. Kini hanya tersisa penyesalan di sudut terdalam hati Arya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2