Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 67


__ADS_3

Tak terasa, sebulan telah berlalu. Kondisi kesehatan Dicko benar - benar sudah pulih sepenuhnya.


Namun kondisi kejiwaannya yang masih terasa sulit untuk kembali seperti semula. Setiap hari, pria itu bagaikan mayat hidup. Bernapas, tetapi diam seribu bahasa. Setiap hari dihabiskannya dengan melamun. Hingga tidak menyadari buliran air bening yang senantiasa mengucur di wajahnya itu.


Akhirnya, Papa Danu pun hanya bisa menyesali apa yang telah dilakukannya. Puteranya dalam keadaan hidup, tapi bagaikan orang yang sudah mati. Papa Danu merasa sangat terpukul melihat keadaan putranya itu.


Seperti yang terlihat saat ini. Dicko tengah duduk sendirian di sisi pinggiran kolam renang. Dengan tatapan lurus, menatap lekat hingga ke dasar kolam. Sudah hampir tiga jam, Dicko dalam keadaan seperti itu. Duduk termenung seorang diri.


Bram yang melihat keadaan kakaknya seperti itu pun, hanya bisa ikut prihatin. Keadaan seperti itu pernah di lalui Bram, saat berpisah dari Aruna. Jadi lebih dan kurangnya, Bram tahu betul. Seperti apa rasanya kehilangan.


"Papa merasa sangat bersalah pada Kakakmu." Ucap Papa Danu sembari menghampiri Bram yang tengah berdiri sambil memperhatikan Dicko.


"Kenapa baru skarang Pa. Disaat Kakak sudah seperti ini. Aku yakin, Kakak tidak akan mau menerima penyesalan Papa."


"Papa hanya ingin kakakmu hidup bahagia dengan wanita yang tepat."


"Dan wanita itu adalah Aruna. Tapi skarang, wanita itu sudah tidak ada lagi. Bukan hanya Kakak, aku pun merasa sangat kehilangan."


"Bram?"


"Hmm?"


"Besok adalah hari ulang tahun kakakmu. Papa ingin memberinya sedikit kejutan. Anggap saja itu sebagai hadiah kecil dari Papa. Bagaimana kalau kita adakan pesta untuk menghibur kakakmu."


"Aku rasa itu tidak perlu. Kakak tidak akan menyukainya."


"Bram ... Papa butuh bantuan kamu."


"Bantuan untuk apa?" Bram menatap dingin ayahnya. Yang tampak bersungguh - sungguh membutuhkan bantuannya.


.


.


Sementara itu, di rumahnya Tante Novi. Mereka sekeluarga tengah berkumpul di ruang tamu rumah itu. Hanya satu orang yang hilang di antara mereka. Yaitu Aruna.


"Aku kasihan sekali melihat Boss Dicko saat di pemakaman waktu itu." Ujar Teddy mengingat saat pandangan matanya sempat melihat Dicko dan Bram dari kejauhan saat itu. Saat di pemakaman, yang di yakini Dicko adalah pemakamannya Aruna.


"Kasihan juga ya? Mama jadi ikut sedih. Dia pasti merasa sangat kehilangan. Apa kita cerita saja yang sebenarnya pada Dicko?" Usul Tante Novi yang mendapat tatapan tajam dari Om Heru. Tante Novi pun meringis.


"Kalian lupa apa kata Pak Danu?" Tukas Om Heru. Mereka tidak boleh melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati dengan Papa Danu.


"Selamat siang ..." Tiba - tiba terdengar suara orang menyapa. Yang entah dari mana, tiba - tiba saja sudah berdiri di depan pintu.


Mereka pun terperanjat melihat kedatangan tamu mereka siang itu.


Bram.


..


Keesokan harinya. Bram meminta bantuan Clara untuk menyiapkan perayaan kecil - kecilan sebagai kejutan untuk Dicko. Pesta ulang tahun Dicko malam nanti hanya akan dihadiri oleh kerabat - kerabat terdekat saja.


Atasan dan sekretaris itu sengaja pulang dari kantor lebih awal. Hanya untuk menyiapkan pesta kejutan untuk Dicko. Hari ini, tumben mereka terlihat akrab. Tidak seperti biasanya.


"Makasih ya?" Ucap Bram tulus saat mereka telah selesai dengan persiapan pesta kecil - kecilan itu.


Bram puas dengan hasil pekerjaan mereka siang itu. Ruang tengah rumah itu sudah di sulap sedemikian rupa agar tampak indah dan berkesan saat pesta ulang tahun malam nanti.


"Sama - sama Pak." Ucap Clara singkat.


"Aku sudah merepotkan kamu."


"Oh, tidak Pak. Justru saya merasa senang bisa membantu Bapak."


"Heh, aku bukan Bapakmu. Bicara yang sewajarnya saja. Lagipula ini bukan di kantor."


Clara terkejut mendengar ucapan Bram barusan. Wah, apa ini? Tumben Boss stres itu berbicara dengan nada pelan di depan Clara.


"Maaf Pak." Clara pun hendak melangkahkan kakinya. Bermaksud mengambil segelas air minum di dapur yang tidak jauh dari ruangan itu. Tetapi, entah kenapa lantainya tiba - tiba licin. Alhasil tubuh Clara kehilangan keseimbangan dan tampak akan terjatuh.

__ADS_1


Beruntung, dengan cepat Bram menangkap tubuh ramping Clara hingga tak sampai menyentuh lantai.


Dalam sekejap, tatapan mereka pun bertemu. Hingga menimbulkan debaran aneh di hati keduanya. Mereka masih saling menatap, saat tanpa sadar Bram pun mengulum senyum tipisnya. Membuat Clara terpana menatap senyuman yang baru pertama kali dilihatnya dari wajah tampan itu . Sampai tiba - tiba ...


"Ehem ... Ehem ..." Suara deheman Papa Danu pun mengagetkan keduanya.


Sontak Bram melepaskan rangkulannya dari pinggang Clara. Hingga membuat gadis itu hampir saja terjatuh. Mendadak mereka terlihat salah tingkah.


"Waaah ... Pekerjaan kalian sangat bagus." Puji Papa Danu sembari menyapukan pandangannya ke seisi ruangan itu.


"Ini hasil kerjanya Clara. Dekorasinya, ide Clara." Ujar Bram.


"Bagus. Bagus sekali. Papa suka. Trima kasih ya Clara."


"Iya, Pak. Sama - sama."


Papa Danu pun beranjak ke depan. Dan memanggil Bambang. Sejurus kemudian Papa Danu pergi meninggalkan rumah itu bersama Bambang.


"Kamu mau kemana tadi, sampai jatuh begitu." Bram tampak melirik - lirik ke arah Clara. Mungkin karena debaran aneh dihatinya yang membuat Bram tidak berani lagi menatap Clara.


"Saya haus Pak. Tadinya saya mau ke dapur, mau ambil minum. Eh, malah jatuh."


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Biar aku minta Bi Surti membawakan kamu minum."


"Ya ampun. Kalau hanya itu, saya sih masih bisa ambil sendiri Pak. Tangan dan kaki saya kan masih utuh."


"Kamu tuh ya?" Bram sudah mengangkat tangannya hendak menjitak Clara. Clara pun meringis dengan mata terpejam. Menunggu tangan kekar itu menjitaknya.


Namun yang terjadi, tangan Bram malah terhenti di udara. Bram justru menikmati menatap paras manis Clara dari dekat sembari mengulum senyumnya.


Perlahan Clara pun mulai membuka matanya. Dan mendapati Bram tengah menatapnya dengan senyum yang terukir indah di wajah tampannya itu.


"Ya ampun ... Kenapa perasaanku jadi aneh begini sih? Kok si Boss stress itu punya senyum semanis itu? Waduuuh, apa aku ... Apa aku ... Akh, tidak. Masa bisa secepat ini?" Gumam Clara dalam hatinya.


Bram pun memalingkan wajahnya. Yang tampak mulai bersemu merah itu. Sambil berusaha mengatasi kegugupannya.


.


.


Malam hari pun tiba. Para tamu undangan yang semuanya adalah kerabat terdekat, mulai berdatangan.


Tampak Clara dalam balutan gaun sedikit terbuka, dengan anggunnya melangkah masuk. Hingga membuat Bram terpana melihatnya.


Beberapa detik kemudian, di susul dengan kedatangan Randa dan Sheila, serta Sarah. Tak berapa lama, kerabat Aruna pun mulai berdatangan. Meski mereka datang tanpa Aruna. Mereka hanya menghargai undangan Papa Danu yang di wakilkan melalui Bram.


Sementara itu, di kamarnya Dicko tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur. Sambil memandangi foto Aruna. Dicko terlalu larut dalam kesedihannya. Hingga kedatangan Bram pun tak mengusiknya sama sekali. Bahkan pesta kejutan untuknya pun, Dicko tidak tahu menahu. Sebab seharian dia mengurung diri di kamarnya.


"Kak. Ayo ikut, aku. Ganti dulu pakaianmu. Biar aku yang pilih." Bram berjalan ke lemari pakaian Dicko. Dan mulai memilih pakaian yang akan di kenakan Dicko di pesta ulang tahunnya.


Setelah mendapatkan pakaian yang sesuai, Bram pun menarik paksa Dicko turun dari tempat tidurnya.


"Ayo, pakai yang ini saja." Titah Bram sambil menyerahkan pakaian itu ke tangan Dicko.


"Aku tidak mau."


"Ayolah Kak. Nanti Kakak menyesal jika tidak mendengarkan kata - kataku."


"Aku tidak mau. Jangan memaksaku."


"Tidak ada kata tidak. Jika Kakak tidak ingin menyesal. Ayolah Kak, kalau tidak ... Aku akan membencimu seumur hidupku." Desak Bram. Akhirnya, Dicko pun menurut. Lalu mulai mengganti pakaiannya.


Setelah berganti pakaian. Bersama - sama mereka menuju ke ruang tengah. Dimana pesta kecil - kecilan itu diadakan.


Duarrrr ...


Bunyi balon pecah, bunyi terompet, bahkan seruan ucapan selamat pun menggema di ruangan itu. Seiring dengan kedatangan Dicko dan Bram.


"Selamat ulang tahun ..." Begitulah serempak mereka memberi ucapan selamat.

__ADS_1


Namun Dicko, sama sekali tidak terkesan dengan kejutan kecil itu.


"Aku bukan anak kecil yang harus menerima perlakuan seperti ini." Tukas Dicko merasa tidak senang dengan kejutan ulang tahunnya yang terkesan kekanakan itu.


"Dicko ... Papa menyiapkan ini untuk kamu. Sebagai permintaan maaf Papa." Ucap Papa Danu lembut. Akan tetapi tidak mendapat tanggapan sama sekali dari Dicko.


"Kak. Papa sudah menyesali semuanya. Papa sudah menyesal tidak memberimu restu." Ucap Bram menimpali.


"Sudah terlambat. Kembalikan dulu Aruna padaku. Baru aku akan memaafkan Papa." Mengembalikan orang yang sudah meninggal, Dicko berpikir itu adalah hal yang mustahil.


Papa Danu hanya mengangguk kecil. Dan semua yang hadir di tempat itu, hanya bisa menatap Dicko iba.


Di antara para tamu undangan itu, ada seorang tamu yang tidak Dicko sangka sebelumnya. Seorang wanita tua, dengan senyum merekah berjalan menghampirinya. Dicko pun terperanjat.


"Oma?" Sapa Dicko yang memang sudah mengenal Oma Windi.


"Selamat ulang tahun Nak. Maaf, Oma tidak sempat membawa hadiah." Ucap Oma Windi lembut.


Dicko menggelengkan kepalanya. Air matanya pun tak terbendung lagi. Lalu memeluk Oma Windi erat sambil menangis.


"Semua akan baik - baik saja. Yakinlah, semua akan baik - baik saja." Ucap Oma Windi sambil mengelus lembut punggung Dicko.


"Dia sudah pergi meninggalkan aku Oma. Dia meninggalkanku sendiri. Bukankah dia jahat?" Ratap pilu Dicko dalam pelukan Oma Windi.


"Tapi dia sudah meninggalkanmu cinta. Cinta yang begitu besar."


Dicko pun melepaskan pelukannya. Kemudian pergi meninggalkan pesta itu. Dicko lebih memilih duduk seorang diri di taman belakang rumahnya.


Tiba - tiba sebuah sentuhan hangat terasa menyentuh pundaknya. Dicko pun menoleh. Kemudian berdiri dan memunggungi Papa Danu yang datang menemuinya di taman belakang itu.


"Dicko ... Papa minta maaf. Papa menyesal, Papa sangat menyesal atas semua yang terjadi." Sesal Papa Danu.


"Sudah terlambat."


"Papa harap, kamu bisa memaafkan Papa. Papa benar - benar menyesal."


"Pergi Pa. Jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri."


"Dicko ..."


"Pergi. Tinggalkan aku sendiri." Dicko masih kesal dan tidak bisa memaafkan Papa Danu. Hingga berada di dekatnya pun, Dicko enggan.


Tiba - tiba keadaan hening. Lalu sebuah sentuhan hangat pun kembali terasa menyentuh pundaknya.


"Pergi. Jangan ganggu aku. Tinggalkan aku sendiri." Hardik Dicko kesal.


Namun sentuhan itu kembali terasa di pundaknya. Seakan tidak mengindahkan perintahnya. Dicko pun semakin jengkel dibuatnya. Dengan cepat Dicko berbalik sambil berkata ...


"Sudah aku bilang jangan gang__" Akan tetapi kalimatnya justru menggantung di udara. Dan seketika Dicko pun terpaku. Dengan air mata yang perlahan - lahan mulai meluncur bebas di atas permukaan wajahnya. Semakin lama air mata itu pun semakin deras bercucuran. Tiada henti.


Di depan matanya kini tengah berdiri seorang wanita yang teramat dirindukannya. Sambil tersenyum manis menatap wajahnya.


"I miss you." Lirih wanita itu berkata. Membuat darahnya berdesir. Membuat napasnya terhenti detik itu juga.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Baik - baik ya jantung 🤗 Jangan kumat.


Always saranghae readers ❤️❤️


Salam hangat


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2