
Pagi hari, pukul 08.30 waktu setempat. Seharusnya menjadi jadwal penerbangan Dicko kembali pulang. Namun karena pertemuannya yang tidak terduga dengan Aruna, membuat Dicko membatalkan penerbangannya hari ini. Dan menundanya beberapa hari kedepannya.
Kini, Dicko tengah melangkah panjang memasuki pusat perbelanjaan dimana outlet TRF berada. Dengan mengenakan setelan t-shirt putih dan jeans biru, sepatu sneakers, serta kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Tak lupa pula jacket sebagai pelengkap. Dicko melangkah santai menuju toko Oma Windi.
Sampai di depan toko Oma Windi, langkahnya terhenti. Di toko itu ada beberapa remaja perempuan yang terlihat tengah mengobrol dengan Aruna. Dicko memilih memperhatikan wanitanya dari jauh. Sambil tersenyum - senyum sendiri. Rupanya toko Oma Windi ini yang sudah menjadi saingan TRF. Entah ini kebetulan atau memang takdir, hingga membawanya datang ke kota ini dan bertemu kembali dengan cintanya.
Di seberang, Aruna menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Aruna pun memalingkan wajahnya ke luar toko. Di seberang, Dicko sedang berdiri sambil tersenyum. Kemudian dia melepas kacamata hitamnya dan melambaikan tangannya pada Aruna.
Aruna pun tercengang. Setahu Aruna, seharusnya Dicko sudah berada di pesawat. Tapi kini, dia malah sedang berdiri di seberang sana sambil memperhatikannya.
"Woaaah ... ada pangeran tampan tuh." Seru seorang remaja sambil menunjuk ke arah Dicko. Rupanya dia baru menyadari ada makhluk tampan yang sedang berdiri di seberang sambil melihat ke arah toko Oma Windi.
"Mana, mana ..."
"Tuh. Cakep kan? Ke sana yuk, cuma mau minta selfie doang."
"Iya, bener. Ayuk." Bersama - sama mereka mulai berjalan ke arah Dicko.
Aruna mengernyit mendengarnya. Dan tak percaya dengan kelakuan remaja - remaja itu.
"Mereka minta dibuatin baju, atau cuma mau minta foto? Hm ... awwas ya ..."
Sementara Dicko jadi keheranan dan bingung harus berbuat apa saat remaja - remaja itu mengerumuninya dan meminta berfoto selfie dengannya.
"Eh, tolong jangan pegang - pegang." Larang Dicko saat seorang remaja menggelayut manja di lengannya.
"Sekali saja dong Kak." Rengek seorang remaja lagi sambil mengarahkan kamera ponselnya ke depan.
Dicko jadi bingung harus berbuat apa. Bagaimana caranya mengusir remaja - remaja itu. Sampai tiba - tiba ...
"Hai sayang ..." Aruna datang dan langsung memeluk Dicko. Bahkan mengecup pipinya manja. Membuat para gadis remaja itu tercengang.
"Eh, Kak, main peluk sembarangan." Sungut seorang remaja.
"Memangnya kenapa?"
"Calon pacar aku nih Kak."
"Oh ya? Siapa bilang?"
Dicko hanya tersenyum memperhatikan wanitanya meladeni gadis - gadis remaja itu. Sekilas jadi mirip ABG tawuran. Dan akhirnya, Dicko pun menarik pergelangan tangan Aruna dan membawanya menjauhi gadis - gadis itu.
"Maaf ya, saya bawa calon istri saya dulu." Ucap Dicko sembari berlalu dengan menggandeng tangan Aruna.
Gadis - gadis remaja itu pun tercengang.
"Haaaah ... Calon istri? Huaaa ... telat dong kita." Rengek seorang remaja sambil menyentak - nyentakkan kakinya.
.
.
"Kita mau kemana? Bukannya hari ini seharusnya kamu pulang?" tanya Aruna.
"Hari ini kita jalan - jalan. Aku sudah minta ijin Oma. Soal itu, sudah aku cancel." Ucap Dicko saat di dalam mobil yang melaju, hendak membawa mereka ke suatu tempat.
"Kita mau kemana Pak?" tanya Bimo sembari tetap fokus menyetir.
"Tempat yang bisa untuk berduaan. Di sini ada kan?"
__ADS_1
"Aww ..." Dicko meringis karena mendapat cubitan dari Aruna di pinggangnya. Dan Aruna memelototinya saat Dicko menatapnya.
"Sakit, sayang ..." sungut Dicko manja.
"Ap_apa kamu bilang?" Aruna jadi gugup di panggil seperti itu. Dari kaca spion, Bimo tersenyum - senyum sendiri melihat tingkah mereka.
"Mau aku panggil sayang berapa kali? sekali, dua kali, tiga kali?" Dicko malah bercanda. Membuat Aruna semakin tersipu malu.
"Kamu kok jadi suka bercanda begini sih?"
Lalu tiba - tiba tangan kekar Dicko menyentuh dagunya. Dan membawanya bertatapan dengannya. Membuat jantung Aruna berdegup kencang. Dia tidak menyangka, Dicko bisa selembut ini dalam memperlakukan wanita.
Sebenarnya, tidak berbeda jauh dengan Bram. Hanya saja, terkadang Bram belum bisa mengendalikan amarahnya. Tidak seperti Dicko. Yang akan berpikir dua kali untuk menyakitinya. Bahkan terkadang Dicko akan memilih mengalah. Seandainya saja, Aruna menyadarinya sejak dulu. Mungkin saja hubungan diantara mereka tidak akan seperti ini.
"Aku sangat menyayangimu. Kamu adalah separuh jiwaku. Kehilangan kamu membuat hidupku tidak berarti. Dan aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini ..." lirih Dicko kemudian mengecup kening Aruna. Dan kembali berkata,
"Aku mencintaimu ... sayangku."
Kedua pipi Aruna bersemu merah mendengarnya. Rasanya dia semakin kesulitan bernapas saat ini. Sejak kapan Dicko jadi seperti ini. Membuat hati Aruna semakin berdebar saja.
Aruna pun mengulas senyum manisnya. Seraya mengangkat tangan kanannya mengusap lembut wajah Dicko.
"Trima kasih sudah mencintaiku sampai detik ini."
"Setiap saat, setiap waktu, aku akan slalu mencintaimu." Kemudian meraih jemari Aruna yang menyentuh wajahnya itu dan mengecup punggung jemarinya.
Di depan, Bimo yang jadi salah tingkah melihat kemesraan mereka dari kaca spion. Pasangan itu sungguh sangat serasi.
.
.
Sementara di seberang, Bimo masih setia menunggu mereka selesai dengan kemesraannya itu. Nasib jomblo. Jadi satpam cinta dadakan. Sabar ya Bimo.
Di tengah - tengah keasikan Bimo melihat kemesraan mereka. Tiba - tiba saja ponselnya berdering. Segera di ambilnya ponselnya itu dari saku celananya. Dahinya mengerut saat melihat nama Bram tertera di layar ponselnya itu.
"Halo, Pak Bram ..." sapa Bimo.
"Hari ini seharusnya jadwal penerbangan Kakakku. Harusnya dia sudah sampai." Sahut Bram dari seberang.
"Ee ... iya, Pak. Seharusnya seperti itu. Tapi Pak Dicko menunda penerbangannya beberapa hari kedepan." Sembari memandangi Dicko dan Aruna yang kini sedang kejar - kejaran sambil tertawa - tawa layaknya anak kecil.
..
Di lain kota, masih di waktu yang sama. Bram masih berbicara via telepon dengan Bimo di seberang jauh sana.
"Apa alasannya sampai dia menunda penerbangannya? Apa ada masalah disana?" tanya Bram yang sedang berdiri di depan jendela ruangannya sembari mengarahkan pandangannya ke luar jendela itu.
"Tidak, Pak. Tidak ada masalah. Semua sudah terselesaikan. Semua baik - baik saja. Hanya saja, Pak Dicko ... Pak Dicko ..." dari seberang, Bimo terdengar ragu mengatakannya.
"Kakakku kenapa?"
"Eum ... Maaf Pak. Sepertinya saat ini Pak Dicko sedang bersama seorang wanita. Itulah sebabnya Pak Dicko menunda penerbangannya."
"Seorang wanita? Siapa?" Bram mengernyit. Siapa wanita yang membuat Dicko batal pulang. Selama ini, tidak ada satu wanita pun dalam hidup Dicko selain Aruna. Jika wanita itu bukan Aruna lalu siapa?
"Saya kurang tau Pak siapa nama wanita itu. Tapi sepertinya Pak Dicko sangat mencintainya. Itu yang saya lihat. Mohon maaf Pak sebelumnya."
Dicko sangat mencintai wanita itu? Tidak salah lagi. Itu pasti Aruna. Wanita mana lagi yang dicintainya selain Aruna. Ternyata Aruna berada di kota itu.
__ADS_1
Cklek ...
Suara decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Bram. Bram pun lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Dari pintu itu, Bu Diana masuk dengan sebuah berkas di tangannya.
"Maaf, Pak Bram. Saya hanya ingin memberikan berkas yang harus Bapak tanda tangani. Ini, Pak. Silahkan." Bu Diana menyodorkan berkas itu dan langsung diterima oleh Bram.
Setelah membubuhkan tanda tangannya, Bram memberikan kembali berkas itu kepada Bu Diana.
"Oh ya, Pak. Saya juga ingin memberitahukan soal sekretaris Bapak yang baru. Hari ini dia mulai bekerja. Namanya adalah__"
"Bu Diana," panggil Bram memotong ucapan Bu Diana, kepala HRD.
"Eh, iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong pesankan saya satu tiket ke kota ..." Bram menyebutkan kota dimana Aruna berada saat ini.
"Bapak ada urusan apa ke sana?"
"Jangan banyak tanya. Pesankan saja untuk penerbangan besok."
"Baik Pak. Kalau gitu, saya permisi dulu." Kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.
Bram begitu penasaran dengan wanita yang membuat Dicko batal pulang. Wanita itu katanya adalah wanita yang Dicko cintai. Siapa wanita itu?
Bram pun melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangannya. Bram bermaksud mencari udara segar di luar sana. Kepalanya cukup pening pagi ini. Sebab semalam dia kurang tidur.
Tangan Bram sudah bersiap membuka daun pintu ruangan itu. Saat pintu terbuka, dan saat Bram hendak melangkah, tiba - tiba saja ...
Bugh ...
Tanpa sengaja Bram menabrak seseorang. Hingga berkas - berkas yang ada di tangan orang itu jatuh berserakan di lantai. Bram menabrak seorang wanita. Dan wanita itu kini tengah membungkuk. Memungut kembali berkas yang jatuh berserakan itu.
"Kalau jalan liat - liat dong. Pake mata." Hardik Bram.
Wanita itu tidak menggubris hardikan Bram. Kini wanita itu berdiri kembali. Lalu menatap Bram tajam.
"Dasar orang stress." Gerutu wanita itu
Bram pun mengerutkan dahinya. Merasa pernah bertemu wanita itu.
"Kamu ... Kamu orang stress yang waktu itu kan? Hai, kita ketemu lagi. Aku Clara." Seru wanita yang bernama Clara.
"Kamu? Sedang apa kamu disini?"
"Aku bekerja disini skarang. Oh ya ampun. Kamu yang bernama Bram Arya Anggara?"
"Iya. Kenapa?"
"Kalau gitu, kamu atasan aku dong. Kenalkan ..." Clara mengulurkan tangannya hendak bersalaman.
"Aku Clara Cecilia, sekretaris baru kamu." Ucap Clara penuh percaya diri. Dan Bram hanya tercengang.
.......
.......
.......
__ADS_1
...-Bersambung-...