
"Mon ... Mona ..." panggil Bianca berkali - kali saat memasuki apartemennya Mona pagi ini. Tapi belum juga ada sahutan dari Mona.
"Mon ... kamu dimana sih?" panggil Bianca lagi.
Sampai tiba - tiba terdengar bunyi decitan pintu terbuka. Mona keluar dari kamar mandi dalam tampilan kusut, dan pucat pasi. Dan tangannya memegang sebuah test pack.
"Mon ... kamu kok kacau begini sih?" tanya Bianca.
Dengan tangan gemetaran, Mona menyodorkan test pack itu ke tangan Bianca. Kedua bola mata Bianca terbelalak sempurna menatap test pack yang ada di tangannya itu.
"Ini hasilnya beneran Mon?" tanya Mona tak percaya.
"Menurut kamu?"
"Jadi ... kamu ... hamil?" Mona tercengang mengucapkan kalimat itu.
Test pack itu menunjukkan hasil positif. Percaya tidak percaya, itulah kenyataannya.
"Siapa lagi kali ini?" tanya Mona lagi. Karena biasanya Mona sering melakukan hal seperti ini untuk menjebak mangsanya. Jadi Bianca berpikir, kali ini Mona melakukan hal yang sama.
"Kamu pikir aku bercanda," sembari berjalan ke arah lemari mengambil beberapa lembar pakaian,
"Hari ini kamu temani aku ke tempatnya Kak Sarah."
"Mau ngapain? Jangan bilang kalau kamu mau aborsi."
"Kita lihat saja nanti."
Bianca hanya bisa tercengang. Rencana apalagi kali ini yang akan di lakukan sahabatnya itu.
.
.
Aruna sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Kali ini yang menjemput Aruna adalah Bambang. Kabar tentang keguguran Aruna sudah sampai ke telinga Papa Danu dan juga keluarganya. Kebetulan hari ini jadwal kuliah Alika sedang kosong. Jadi Alika bisa menemani kakaknya pulang dari rumah sakit sampai mengantarnya pulang ke rumah mertuanya.
Alika tidak berlama - lama menemani kakaknya. Setelah Aruna sampai di rumah Papa Danu, Alika langsung pamit pulang.
Dan kini Aruna tengah mengobrol dengan Papa Danu di ruang tengah. Sama seperti Aruna dan Bram, Papa Danu pun sangat sedih atas kehilangan calon penerus keluarga Anggara. Bahkan pertengkaran Bram, Dicko, dan Aruna pun sudah diketahui Papa Danu. Sungguh disayangkan, lagi - lagi kejadian seperti ini harus terulang kembali. Papa Danu hanya bisa menyesali apa yang dilakukannya sebelumnya. Seandainya saja dia tidak memalsukan kematian Dicko. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
"Aruna ... Papa ingin kejelasan dari semua masalah yang terjadi diantara kalian." Ucap Papa Danu dengan tatapan serius.
Aruna tertunduk. Ada perasaan takut, malu, dan tak enak hati pada ayah mertuanya itu. Sekali lagi dia menjadi penyebab pertengkaran diantara kedua putera pria paruh baya itu.
"Papa sangat sedih atas kehilangan calon bayi kalian. Tapi Papa juga kecewa dengan sikap kalian yang tidak pernah dewasa."
Aruna masih tertunduk. Belum berani menatap Papa Danu.
"Maaf jika Papa harus mengatakan ini. Papa tidak akan memintamu memilih antara Dicko atau Bram. Tapi Papa harap, kamu tidak akan mengecewakan Papa lagi. Keputusan yang akan kamu ambil nanti, Papa harap tidak akan menyakiti kedua putera Papa."
"Maafkan aku Pa." Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Aruna.
"Bram adalah suamimu. Hargailah dia sebagai kepala rumah tangga. Sebagai seorang istri, seharusnya kamu bisa menjaga perasaan suamimu." Papa Danu menghela napas sebentar.
"Papa pikir, dengan memanfaatkan amnesia Dicko, dan memalsukan kematiannya, akan membuat kehidupan kalian lebih tenang. Papa pikir, dengan menjauhkan Dicko dari kalian, tidak akan ada lagi yang akan mengganggu kebahagiaan kalian. Tapi ternyata Papa salah." Kini Papa Danu terlihat sedih dan penuh penyesalan.
Penuturan Papa Danu itu mengejutkan Aruna. Kenapa Papa Danu tega melakukan itu.
__ADS_1
Namun soal kematiannya? Sungguh tega Papa Danu melakukan hal itu. Saat mengetahui kematian Dicko waktu itu saja sudah membuat Aruna seakan kehilangan separuh jiwanya.
Aruna hendak menanyakan sesuatu. Saat tiba - tiba terdengar suara mobil yang baru saja tiba. Dari arah depan terlihat Bram tengah melangkah perlahan dengan wajah tertunduk lesu. Sambil melonggarkan dasinya.
Namun langkahnya terhenti saat terdengar Papa Danu memanggil namanya.
Bram pun menghentikan langkahnya dan mengangkat wajahnya. Pandangannya langsung tertuju pada Aruna. Yang tengah duduk dengan wajah berpaling. Seakan enggan menatapnya.
"Selesaikan masalah kalian. Papa harap, kamu Aruna, tidak akan mengecewakan Papa lagi." Kemudian Papa Danu beranjak meninggalkan mereka. Namun sempat menepuk lembut pundak Bram sebelum berlalu.
"Bambang ..." panggil Papa Danu. Dan Bambang datang dengan tergopoh - gopoh.
"Iya Tuan."
"Antar saya ke suatu tempat."
"Baik, Tuan."
Papa Danu pun bergegas menuju ke mobilnya yang terparkir. Bambang segera membukakan pintu mobil untuk majikannya itu.
Sejurus kemudian, mobil Papa Danu terlihat mulai meninggalkan halaman rumah. Sengaja Papa Danu meninggalkan Bram dan Aruna agar mereka bisa menyelesaikan masalah diantara mereka. Agar mereka bisa lebih leluasa bicara dari hati ke hati.
Aruna masih berpaling saat Bram perlahan mulai menghampiri. Kemudian mengambil duduk di samping Aruna yang masih enggan memalingkan wajahnya. Bram merubah posisi duduknya menyamping, agar bisa berhadapan dengan Aruna. Dan menatap wajahnya yang berpaling dan enggan menatap Bram.
Bram menghembuskan napas berat, kemudian perlahan tangannya terulur, meraih jemari Aruna kedalam genggamannya.
"Maafkan aku." Kalimat itu yang pertama kali terucap dari bibir Bram.
Aruna masih enggan memalingkan wajahnya. Bram pun membawa tangan kanannya menyentuh wajah Aruna.
"Lihat aku." Pinta Bram.
"Aruna ... mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Mari kita lupakan apa yang telah terjadi. Dan kita buka kembali lembaran baru. Aku ingin kamu slalu berada disisiku. Sedikitpun, aku tidak ingin kamu jauh dariku." Ucap Bram sungguh - sungguh sambil menatap lekat kedua bola mata Aruna. Sembari tangannya mengusap lembut sebelah wajah Aruna.
Entah kenapa, perasaan Aruna bahkan tidak tersentuh mendengar ungkapan hati Bram. Meski sorot matanya memancarkan kesungguhan hatinya akan ungkapan itu.
"Membuka kembali lembaran baru itu tidak semudah yang kamu pikirkan Bram. Kita sudah terlanjur saling menyakiti satu sama lain. Kita sudah saling melukai dan luka itu bahkan sudah membekas." Kemudian Aruna menepis tangan Bram yang menyentuh wajahnya.
"Kita lupakan masa lalu. Aku ingin semuanya kembali seperti semula. Seperti saat kita masih saling mencintai."
Aruna menghela napasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Aruna hendak kembali berkata saat tiba - tiba terdengar suara bel pintu dari depan.
Dengan langkah cepat Bi Surti datang dari arah dapur menuju ke ruang tamu. Tak berapa lama Bi Surti pun kembali dan menghampiri Bram dan Aruna di ruang tengah rumah itu.
"Maaf Den ... Non ... Di depan ada tamu." Ucap Bi Surti sopan.
"Siapa Bi?" tanya Bram.
"Tamunya seorang perempuan. Katanya mau bertemu Aden."
"Perempuan Bi?" tanya Aruna memastikan.
"Iya Non. Kalau gitu, Bibi ke belakang dulu ya Non, Den. Permisi," Bi Surti bergegas kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Merasa penasaran, Aruna lebih dulu bangun dari duduknya dan bergegas ke ruang tamu. Kemudian di ikuti oleh Bram mengekor di belakangnya.
Belum pernah ada perempuan yang datang mencari Bram sampai ke rumah. Kalau itu adalah klien, biasanya mereka akan bertemu di kantor. Itupun setelah membuat janji. Dan perempuan yang berani datang menyambangi Bram di rumahnya sore ini, sedikit mengundang rasa penasarannya.
__ADS_1
Sampai di ruang tamu, tampak seorang perempuan dengan pakaian seksi sedang berdiri di ambang pintu memunggunginya. Di perhatikannya perempuan itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan dahi mengerut.
"Maaf, siapa ya?" tanya Aruna hati - hati.
Mendengar ada suara sapaan, perempuan itu pun segera memutar tubuhnya menghadap Aruna.
Mona.
Wow. Tamu yang tak terduga. Baik Aruna maupun Bram terkejut di buatnya.
"Hai ... selamat sore ..." sapa Mona sembari membuka kaca mata hitam yang membingkai wajahnya.
"Kamu ..." rasanya Aruna mengenalnya. Tapi dimana, Aruna tampak masih mengingat - ingat.
Sementara Bram terlihat kurang senang.
"Maaf kalau kedatanganku mengganggu waktu kalian. Susah payah aku menemukan alamat ini. Kedatanganku kemari untuk memberitahu kalian sesuatu." Ucap Mona tanpa basa - basi.
Aruna semakin mengerutkan dahinya. Sedangkan Bram mulai terlihat tegang. Cemas dengan apa yang akan di katakan Mona.
"Oh iya, tunggu sebentar." Mona mengambil sesuatu dari dalam tas brandednya. Sebuah amplop putih.
"Aku punya kabar gembira. Silahkan ..." sembari menyodorkan amplop itu pada Aruna.
Dengan rasa penasaran Aruna pun meraih amplop itu dari tangan Mona dan mulai membukanya.
Dengan dahi mengerut Aruna mulai membaca secarik kertas yang bertuliskan surat keterangan dokter OB Gyn itu. Yang secara jelas menerangkan bahwa Mona positif hamil.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aruna bingung.
Penasaran, Bram pun menyambar kertas itu dari tangan Mona. Sama seperti Aruna, Bram pun masih bingung.
"Kalian bisa baca kan? Disitu tertulis bahwa aku sekarang hamil."
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya Aruna makin bingung.
"Anak yang aku kandung ini, adalah anak suamimu."
"Apa???" Aruna terkesiap. Serasa napasnya terhenti detik itu juga.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Maaf baru bisa up 🤧
Ada acara kumpul keluarga yang tidak bisa dihindari.
But so thankyou masih setia menunggu update nya.
Saranghae readers ❤️
Salam Hangat
__ADS_1
Otor Kawe