
Hari itu Aruna sungguh tidak fokus untuk bekerja. Akhirnya ia memutuskan keruangan Fero namun Fero juga tidak ada diruangannya.
''Pasti mereka berdua sedang klubing. Aku coba menghubungi Fero saja,'' gumamnya. Namun sama, Fero justru mengalihkan panggilannya.
''Huft, kenapa aku mencemaskannya? Memang hari ini sedang free tapi setidaknya dia bisa memberi kabar. Bagaimana kalau ada klien yang menelepon? Aku harus menjawab apa?'' batin Aruna berkecamuk sambil melihat layar ponselnya. Dan tiba-tiba ada pesan masuk dari grup chatnya bersama kedua sahabatnya.
Dinda : Aruna, kapan kita menguji Tuan tampan?
Gita : Iya nih gue penasaran. Gue akan mengawasi gerak-geriknya seperti pakar mikro ekspresi. Jadi gue tahu,dia jujur atau bohong.
Aruna : Terserah kalian saja.
Gita : Dari chatnya, kayaknya elo lagi nggak baik-baik aja deh.
Aruna : Udah kayak paranormal aja lo, Git. Memangnya kalian mau buat rencana apa?Gue aja bingung mau nguji dia gimana.
Dinda : Gini aja gue mau ngadain party di bar. Nah, elo ajak dia deh.
Aruna : Terus cara ngajaknya gimana? Masa iya gue ngajakin dia ngedate.
Gita : Elo bilang aja kalau mau ke party Dinda di bar. Nah, kalau dia emang khawatir, dia pasti maksain diri buat ikut.
Dinda : Yes, betul kata Gita. Nah, untuk urusan cewek penggoda, biar urusan gue aja. Yang penting kalian datang.
Aruna : Terus kapan partynya? Dan Zidane gimana? Kenapa harus di bar sih?
Gita : Kan ada Bibi dan Mbak Lasmi. Udah lah itu tenang aja. Aruna, sesekali elo harus enjoy dan happy. Masa muda elo kan elo habisin buat si mantan suami elo itu. Pokoknya elo harus happy juga.
Dinda : Bener tuh kata Gita.
Aruna : Oke baiklah, terserah kalian. Gue kerja dulu ya.
Dinda&Gita : Selamat bekerja Nyonya Daniel.
-
Setelah bertemu dengan Arya di restoran, pertemuan berlanjut di rumah Arya. Hari itu Fero menyamar dengan tatanan rambut klimis, kacamata tebal dan kumis tipis ditemani oleh pengacara Daniel. Sementara itu, Daniel menunggu di dalam mobil yang tak jauh dari rumah Arya. Daniel membekali Fero dengan alat penyadap suara, supaya Daniel tetap bisa mendengar obrolan mereka semua.
__ADS_1
"Sayang, jadi ini Tuan Fero yang akan membeli rumah kita. Bahkan Tuan Fero ini tidak menawar sama sekali dan ini pengacaranya Tuan Robin." Arya memperkenalkan Shella pada Fero dan Pengacara Robin. Fero dan pengacara Robin menyambut ramah uluran tangan Shella.
''Jadi Tuan-Nyonya, ini uangnya.'' Fero lalu membuka koper yang berisi uang tunai 10 Milyar.
''Wah, saya tidak menyangka kalau rumah ini akan terjual secepat ini.'' Ungkap Arya.
''Begitu melihat rumah ini, saya langsung menyukainya, Tuan. Rumah ini mau saya berikan pada calon istri saya sebagai hadiah pernikahan.'' Jelas Fero dengan segala kebohongannya. Daniel mendecih mendengar alasan Fero.
''Romantis sekali ya anda, Tuan.'' Sahut Shella.
''Baiklah, sekarang kita langsung tanda tangan jual belinya saja. Supaya segera selesai. Karena saya banyak urusan.'' Imbuh Fero.
''Ah, iya Tuan.'' Mereka akhirnya melakukan transaksi jual beli diatas materai dengan di saksikan oleh Pengacara Robin. Karena Daniel tidak ingin ada masalah lagi dikemudian hari.
''Lalu kapan kalian akan berkemas? Saya ingin secepatnya.''
''Lusa, saya pastikan rumah ini sudah kosong.'' Kata Arya.
''Baiklah, deal!"
"Baru kali ini melihat Tuan Daniel memperjuangkan seorang wanita. Apa Tuan Hutama tahu?" pengacara Robin membuka obrolan.
"Tentu saja. Aruna dulu mantan sekretarisnya Papa dan dulu Papa sempat ingin menjodohkan kami. Namun ya begitulah, aku masih suka main-main dan saat itu Aruna sudah memiliki calonnya sendiri." Jawab Daniel dengan santainya.
"Pengacara Robin, Aruna itu pawangnya dan dia ini bucin akut. Aku saja yang menjadi sahabatnya heran. Padahal banyak wanita single disana tapi dia dengan berani memilih by one get one." Seloroh Fero dengan gelak tawanya.
"Memang kenapa kalau by one get one? Bagiku dia wanita sempurna. Aku tidak peduli dengan statusnya. Dia satu-satunya wanita yang membuatku memiliki tujuan hidup." Kesal Daniel mendengar ucapan Fero.
"Tuh kan, dia sangat sensitif ketika aku menyinggung wanitanya," kekeh Fero.
"Lalu tujuan hidup anda kemana Tuan Fero?" Pengacara Robin membalikkan keadaan pada Fero. Membuat Daniel tertawa.
"Hehehehe belum jelas." Jawab Fero sambil menggaruk tengkuknya.
"Tuan Daniel, anda semakin dewasa. Saya juga dengan pemikiran anda. Sang Cassanova yang sudah memiliki tujuan hidup." Ucap Pengacara Robin dengan senyum kecilnya.
...****************...
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sudah waktunya untuk pulang namun Daniel masih saja belum ada kabar.
"Huft, keterlaluan memang manusia satu itu. Bilangnya berubah tapi tetap sama saja." Gerutu Aruna yang memiliki prasangka buruk pada Daniel.
"Oh ya, sebaiknya aku menelepon orang tua Mas Arya saja. Aku tidak mau menerima rumah pemberian mereka.'' Aruna lalu mencari nama Ayah mertuanya di layar ponselnya.
''Halo Pah, selamat sore. Bagaimana kabar Papa dan Mama?''
''Aruna, Papa dan Mama sehat kok. Kamu bagaimana? Dan sekarang tinggal dimana?''
''Aku juga baik Pah. Aku tinggal dirumah temanku. Oh ya Pah, mengenai niat Papa yang ingin membelikan ku rumah, sebaiknya tidak usah, Pah.''
''Aruna, jangan menolaknya. Papa dan Mama minta maaf karena tidak bisa mendidik Arya menjadi pria yang bertanggung jawab. Papa dan Mama juga sudah menemui kedua orang tuamu untuk meminta maaf. Kami juga sudah mengatakan ingin membelikanmu rumah. Papa belikan rumah itu untuk cucu Papa dan Mama.''
''Pah....,''
''Jangan menolaknya Aruna. Kami tidak bisa memberikan apapun selain itu untuk Zidane. Rumah itu tidak besar tapi memiliki halaman yang luas. Bisa kalian manfaatkan untuk berkebun. Meskipun kami tahu rumah itu tidak akan bisa mengobati luka di hati kamu dan Zidane. Sampai kapanpun menantu dan cucu kami hanya kamu dan Zidane, Aruna. Setelah transaksinya selesai, Papa akan menghubungi kamu lagi untuk bertemu.''
''Iya Pah. Terima kasih ya Pah karena Papa dan Mama sudah peduli pada Aruna dan Zidane.''
''Sudah seharusnya begitu Aruna. Oh ya, Papa boleh bertanya sesuatu?''
''Iya Pah, silahkan.''
''Beberapa hari lalu saat Papa dan Mama ke rumahmu, Shella bilang kamu tinggal di rumah atasanmu. Apa itu benar?''
''Iya Pah. Atasan Aruna memberikan Aruna tumpangan tempat tinggal karena saat kejadian itu sudah malam. Aruna dan Zidane tidak tahu harus kemana jadi atasan Aruna memberikan tumpangan tempat tinggal. Setelah mendapatkan rumah kontrakan, Aruna juga akan pindah.''
''Baiklah, kalau begitu Papa akan segera menyelesaikan pembelian rumah itu. Jadi kamu tidak usah mencari kontrakan lagi.''
''Iya Pah, terima kasih. Kalau begitu Aruna pulang dulu ya, Pah. Soalnya Aruna masih di kantor.''
''Iya, Aruna. Kamu hati-hati ya dan sampaikan salam Papa dan Mama untuk cucu ku. Ini Mama sedang pergi arisan di rumah Ibu Rt.''
''Iya Pah. Salam untuk Mama juga ya.''
''Iya Aruna.'' Panggilan pun berakhir. Seharusnya Aruna senang karena akan pindah tapi tiba-tiba sudut hatinya menyimpan sebuah kesedihan. Sebuah perasaan yang tidak Aruna mengerti atau Aruna sengaja menyangkal semua itu.
__ADS_1